Daftar Review

Rabu, 13 Februari 2013

The Hunger Games - Suzanne Collins



Judul               : The Hunger Games

Pengarang    : Suzanne Collins

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 408 halaman




Sinopsis :

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri Negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing- masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televise The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.
Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Review :

Setiap tahun, di setiap distrik, anak- anak yang telah memenuhi persyaratan memasukkan nama mereka ke dalam undian yang akan dipilih pada hari pemungutan. Hari penuh ketegangan itu pun tiba. Kedua kakak beradik di distrik 12, Prim dan Katniss berpakaian cantik namun hati mereka sesungguhnya takut. Terpilih berarti selangkah lebih dekat menuju kematian. Dan benar saja, kertas berisi nama Primrose Everdeen terambil saat pengundian. Melihat Prim yang masih kecil, Katniss segera mengajukan diri menjadi sukarelawan. Peserta pria pun dipilih. Nama Peeta Mellark keluar sebagai peserta pria yang mewakili distrik 12.

Segera mereka diberangkatkan ke Capitol. Mereka punya satu mentor, Haymitch namanya. Pria itu pernah menjadi pemenang The Hunger Games. Tapi itu sudah lama sekali. Kini hari- harinya dilewati dengan mabuk- mabukkan. Haymitch, bagi mereka, Katniss dan Peeta, tidak banyak membantu. Namun ada saran penting yang mereka dapatkan darinya.

Katniss dan Peeta menikmati kehidupan mewah sepanjang perjalanan menuju Capitol. Makanan mereka lebih dari cukup. Mereka juga ‘disulap’ habis- habisan. Kemunculan Katniss dan Peeta membuat para penonton terkagum. Katniss, si gadis api, dengan gaun hasil rancangan Cinna, yang kelihatan sedang membakar Katniss, dan Peeta, si lover boy, yang mengaku jatuh cinta pada Katniss.

Sesi wawancara dan pelatihan singkat telah mereka lalui. Saatnya memulai pertarungan. Berkat kebiasaan Katniss yang sering berburu bersama Gale, sahabat Katniss, gadis itu dapat bertahan hidup. Untuk sementara ini ia tidak perlu membunuh. Sedangkan Peeta, ia bergabung bersama peserta Karier. Tim Karier terdiri dari beberapa anak dari beberapa distrik yang bergabung. Mereka biasa memiliki persediaan makanan yang cukup dan sponsor mereka pun bagus.

Di Hunger Games, membentuk sekutu tidak banyak membantu karena toh akhirnya kalian harus 'melenyapkan' sekutu kalian.

Katniss tidur di atas pohon setiap malamnya. Ia sudah terlatih untuk memanjat pohon. Jadi ia dapat mengawasi apa yang terjadi di bawahnya dan ia jauh lebih aman saat berada di atas pohon.

Hingga suatu hari kawanan Karier itu tiba. Katniss kaget melihat Peeta. Dugaannya benar. Peeta hanya berpura- pura mencintainya. Kini pria itu malah mengkhianatinya.
Meski demikian, Katniss tidak sendiri. Ada peserta cilik dari distrik 11 yang menolongnya. Dia Rue. Rue memberitahu Katniss bahwa ada sarang tawon penjejak di atasnya. Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan oleh Katniss melawan peserta Karier. 

Sejak saat itu, pertemanan Katniss dan Rue terjalin. Tidak ada ancaman dari Rue. Mereka berdua saling berbagi, baik pengetahuan maupun makanan, mengabaikan keadaan bahwa keduanya tidak mungkin selamat bersama.

Satu demi satu peserta tewas. Pertarungan semakin sengit. Akankah mereka yang tersisa mampu bertahan? Bagaimana perjalanan Katniss dengan Rue? Apa maksud dibalik pengkhianatan Peeta? Baca dan ikuti petualangan seru ini di The Hunger Games.

Benar- benar cerita yang mendebarkan. Meski sempat terhenti beberapa minggu bacanya, tapi kesan serunya tetap berasa. Mungkin karena saya sudah nonton filmnya duluan ya. Memang nggak salah kalau novel ini difilmkan. Ide ceritanya unik tapi sadis ya. Bayangkan, tidak ada acara kasihan kasihan disini. Tidak semuanya dapat selamat. Hanya satu. Wuiihh..

Salut deh sama pengarangnya. Alurnya pas. Settingnya pun oke. Seperti biasa, membaca novel akan terasa berbeda. Dalam novel, ceritanya lebih lengkap ketimbang di film. Biasanya saya lebih senang kalau membaca novelnya dulu. Tapi buat THG, nonton filmnya dulu jauh lebih oke. Pembaca jadi tidak kesulitan membayangkan seperti apa arena pertarungan dan suasana di sana. Tidak sabar untuk menonton dan membaca Catching Fire. Recommended dah :D

Berhubung sudah difilmkan, saat membaca novel ini, teman- teman bisa membayangkan seperti apa sosok mereka. Ini dia :

Katniss Everdeen (sumber gambar di sini )

 Peeta Mellark (sumber gambar di sini )

Rue (sumber gambar di sini )


Cornucopia ( sumber gambar di sini )


Haymitch (sumber gambar di sini )

suasana di Cornucopia, para peserta bersiap memulai acara ( sumber gambar di sini )



Enjoy J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar