Daftar Review

Kamis, 09 Agustus 2012

Piano di Kotak Kaca - Agnes Jessica


Judul                     : Piano di Kotak Kaca
Pengarang          : Agnes Jessica
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     : 384 halaman
Sejak kecil, Sheila hidup dalam lingkungan keluarga yang buruk. Ayahnya, Charles, selalu bertengkar dengan Ibunya, Mira. Tak jarang wajah Ibunya lebam- lebam karena dipukuli sang Ayah. Suatu hari, Charles ditangkap polisi karena dituduh membunuh Mira. Memang sejak dua hari yang lalu Mira menghilang. Malam hari itu juga Charles kedapatan menyeret karung yang diduga kuat berisi mayat Mira.
Karung itu hanyut. Jasad Mira tidak ditemukan. Awalnya Charles tidak mengaku, tetapi ia mengaku pada akhirnya. Sheila terpukul. Ia tidak menyangka bahwa Ayahnya adalah seorang pembunuh. Mendengar kabar itu, Haryanto, adik angkat Charles, berinisiatif untuk merawat Sheila. Sheila kemudian dibawa ke rumahnya.
Awalnya Sheila ragu. Namun ia tidak enak hati menolak kebaikan hati paman angkatnya itu. Jadilah Sheila tinggal dengan keluarga barunya. Sayangnya, kedatangan Sheila tidak disambut hangat oleh keluarga Haryanto. Ratna, istri Haryanto, menjadikan Sheila sebagai pembantu. Sedangkan Reza, putra sulung Haryanto, senang menggoda Sheila. Renny, adik Reza, apalagi. Ia selalu semena- mena terhadap Sheila.
Sheila hanya bisa pasrah. Ia baru bisa keluar dari rumah Haryanto saat Renny bersikap keterlaluan padanya. Gadis itu mengambil miniatur kotak piano Sheila yang merupakan kenangan satu- satunya yang Sheila punya dari Ibunya. Tentu saja Sheila keberatan. Namun Renny tetap ngotot. Merasa tidak senang, miniatur itu ia banting ke lantai hingga pecah. Sheila menjadi kalap. Ia mengambil botol tempat air minum lalu menghantamnya ke kepala Renny tapi yang kena malah kepala Reza.
Ratna yang marah besar lalu mengirim Sheila ke sebuah sekolah berasrama di Ciloto. Di sinilah awal hidup Sheila yang baru. Namun predikat sebagai anak pembunuh membuat ia kurang diterima. Ia hanya bersahabat dengan Wenny dan Tini, teman sekamarnya. Di sini jugalah Sheila mengenal Bram, yang kemudian menjadi pelindung sekaligus cinta pertamanya.
Bram adalah penghuni rumah di belakang asrama. Pria itu sebenarnya tampan, hanya saja di wajah bagian kirinya terdapat bekas luka dan kakinya timpang. Mungkin keadaan fisik Bram ini yang menjadikan dirinya tertutup. Namun ia berhati baik. Ia yang menampung Sheila ketika gadis itu tiba- tiba datang ke rumahnya saat ia akan ditangkap karena (lagi- lagi) menghantam kepala temannya dengan balok. Jadilah Sheila tinggal dengan Bram. Tugasnya membantu pekerjaan Kakek Eman mengurus rumah.
Kehadiran Sheila ternyata membuat hidup Bram lebih berwarna. Keduanya saling jatuh cinta. Namun hidup ini tidak mudah. Kenyataan yang terhampar jelas membuat mereka harus berpisah. Setelah berpisah dengan Bram, Sheila berusaha keras untuk bangkit. Berjuang untuk meraih impiannya.
Semuanya akan berlalu. Saat semuanya berlalu, semua ini akan tinggal kenangan, baik pahit maupun manis, dalam kehidupanmu. – hal. 174
Lima tahun berlalu dan begitu banyak hal yang berubah. Namun cinta Sheila kepada Bram akan selalu sama.  Tanpa disangka mereka bertemu kembali, dalam kondisi yang tidak mereka harapkan. Jalan hidup Sheila tidak mudah. Banyak sekali rintangan yang harus ia hadapi. Mampukah ia menghadapi kerasnya hidup ini? Kala kenyataan lain mulai muncul, sanggupkah ia menerima dan memaafkan?
Huuaah. Berat sekali rasanya menjadi seorang Sheila. Kehidupannya terlalu menyedihkan. Dari kecil hingga dewasa, tidak banyak hal bahagia yang dilaluinya. Namun Tuhan selalu memberikan jalan terbaik. Ketika hidup ini berjalan begitu- begitu saja, kejutan lain muncul. Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai nantinya.
Membaca novel karya Mbak Agnes selalu memberikan suasana yang berbeda. Penempatan alur dan penyampaian cerita sangat pas, membuat pembaca tidak hanya mudah memahami cerita tapi juga dapat benar- benar menyatu dengan cerita.  Meski terkesan sangat ironis, penggalan- penggalan kejadian dalam novel ini membuat saya teringat kembali bahwa memang ada hal seperti itu.
Ada beberapa teman sesama pembaca novel yang bilang, “ending nya selalu tertebak”. Menurut saya sih memang iya, namun saya menikmati proses cerita di setiap novel Mbak Agnes. Menarik untuk terus diikuti dan tidak terasa membosankan.

Sinopsis :
Wajah Sheila berubah murung. “Bapak mau bilang karena saya anak pembunuh, kan? Saya punya sifat kejam dalam diri saya, makanya berkali- kali saya mendapat masalah.”
“Kamu memiliki banyak sifat istimewa. Kamu perhatian pada orang lain, kamu ingin sekali terlibat secara emosional dengan manusia lain. Singkatnya, kamu sensitif dan peduli terhadap orang lain. Tapi orang- orang dengan sifat seperti ini punya kelemahan.”
“Apa kelemahannya?”
“Jika orang lain kurang peduli terhadapnya, ia akan membenci orang itu.”
Sebuah miniatur piano menjadi kenangan terakhir Sheila akan ibunya. Ibunya meninggal karena dibunuh ayahnya sendiri dan sang ayah dipenjara. Tinggal Sheila sebatang kara, tanpa kasih sayang orang tua di usianya yang masih belia.
Uluran tangan dari saudara angkat ayahnya ternyata membawa kepahitan lain. Sheila dijadikan pembantu di tempat tinggalnya yang baru dan berulang kali dianiaya secara mental. Sikap keras gadis itu sering kali dikaitkan dengan latar belakangnya yang berayah pembunuh. Sheila merasa takut akan emosinya yang mudah sekali meledak sehingga menyerang orang- orang yang melukai harga dirinya.
Satu- satunya orang yang mengulurkan tangan tulus padanya hanyalah Bram, pria timpang yang memendam banyak kepahitan akibat kondisi fisiknya. Bisakah ikatan yang terjalin di antara mereka mengembalikan jiwa Sheila yang terluka dan merindukan ibunya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar