Pengarang : Tyas Effendi
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 270 halaman
Sinopsis :
Aku tidak
ingin menganggapnya sebagai cerita paling sia- sia. Anggap saja ini adalah
lembar penutup catatan senja. Berpita manis seperti boneka berdasi yang
terlukis di cangkir teh kita.
Mungkin kau
hanya bunga trembesi yang datang dari masa perbungaan raya. Menyinggahi
penghujanku yang menderas memenuhi janji kemaraunya. Kau hanya setitik dia
antara ribuan tetes, seserpih di antara hamparan es, sepucuk yang baru bersemi
menemani embun dini tadi. Sedangkan aku, terus menjadi musim yang berlari di
sayap waktu; menerka isi hatimu, menantinya terbuka untukku.
Musim akan
tetap bergulir, dan aku terus menunggumu hadir, meski harus menjemput ke
belahan bumi yang lain.
Review :
Kala hujan,
ada cinta yang menyusup masuk di antara Gema dan Tya. Keduanya jatuh cinta saat
mereka berteduh di sebuah shelter di
seberang gereja. Namun kata cinta itu tidak pernah terucap hingga kepergian
Gema ke Lille.
Pemuda itu
terkena kanker sehingga kaki sebelah kirinya diamputasi. Saat serpihan kayu
masuk ke dalam kakinya, Gema tidak terlalu memedulikannya. Pertama hanya muncul
rasa sakit diikuti benjolan- benjolan merah dan akhirnya setelah diperiksakan
barulah Gema tahu bahwa kakinya telah terinfeksi kanker.
Setelah menjalani
operasi, Gema menjalani kehidupan barunya sebagai mahasiswa seni di Lille. Hobinya
melukis masih ia tekuni. Bahkan di Lille ia mendapat pekerjaan baru sebagai
pelukis.
Sementara itu, di Bogor, Tya melewati harinya dengan sulit. Ia masih berharap bahwa ia bisa bertemu dengan Gema. Setelah menyelesaikan S1 nya, Tya mencoba mengajukan beasiswa S2 di Lille dan ia diterima. Maka dengan hati yang berbunga- bunga, ia berangkat ke Lille, menyusul Gema.
Tya tidak langsung bertemu dengan Gema setibanya ia di Lille. Mereka baru bertemu pada saat cangkir dan gelas yang mereka beli tertukar. Tya masih setia pada kebiasaannya saling mengirim cangkir kepada Kak Agam, sahabatnya.
Gema senang bisa bertemu dengan wanita yang ia cintai. Namun ia tidak berani untuk berharap lebih. Ia merasa ia tidak layak untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun mengingat kondisi kakinya yang seperti ini. Terlebih belakangan rasa sakit di kakinya semakin menjadi. Sel kankernya berkembang lagi dan Gema kembali dioperasi.
Tya tidak keberatan dengan kondisi Gema. Tapi Gema tidak ingin Tya di dekatnya. Gema malah menitipkan Tya kepada Kak Agam. Bagaimana akhir perjalanan cinta mereka? Ikuti kisah mereka dalam Catatan Musim.
Ø
Ini novel
kedua karya Tyas Effendi yang saya baca. Meski bukan novel favorit saya (saya
lebih menikmati Dance for Two nya Mbak Tyas), namun saya cukup menikmati kisah
Tya dan Gema, terutama di bagian awal saat mereka masih tinggal di Bogor. Kehidupan
mereka semakin rumit saat berada di Lille.Berbeda dengan kebanyakan novel yang saya baca yang tetap menggunakan sebutan Mr. saat berdialog, penulis menggunakan sebutan Bapak saat Tya berdialog dengan Mr. Stephans, anggota klub buku tempat Tya bergabung. Beberapa typo juga masih ditemukan dalam novel ini.
Meski demikian, saya menyukai beberapa dialog yang ada dalam novel ini. Ini kutipannya :
Masih sambil mengoleskan warna pada kanvas itu, aku bergumam, “Bagiku, melukis adalah mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan kata- kata.”
Gadis itu mengulum sebuah senyum tanpa mengangkat wajahnya.
“Menerjemahkan, mengungkapkan sesuatu tanpa membutuhkan gambar.”
Kami sama- sama tertawa. Perbedaan membuat dunia kami semakin
berwarna. (hal. 18)
Kakak menghela napas
panjang. “buat apa kamu membohongi perasaanmu begitu? Kamu pikir bicara tentang
cinta itu berarti bicara tentang kondisi fisik? Kalau seperti itu yang ada di
pikiranmu, semua orang pasti nggak ada yang berpasangan karena nggak ada
seorang pun di dunia ini yang sempurna.” (hal. 193)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar