Daftar Review

Senin, 03 Februari 2014

Rumah Beratap Bugenvil - Agnes Jessica

Judul               : Rumah Beratap Bugenvil
Pengarang      : Agnes Jessica
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 240 halaman
Sinopsis :
Setelah mamanya meninggal, Lianka baru tahu bahwa ia cucu wanita kaya raya yang tinggal di sebuah rumah besar beratap bugenvil. Banyak rahasia dalam rumah itu, menyangkut almarhum ayahnya dan seluruh keluarga neneknya yang tidak terlalu harmonis.
Ia baru tahu bahwa ia sepupu Prisil, gadis angkuh teman sekolahnya. Feriz, anak baru di sekolahnya, ternyata tinggal di rumah itu juga. prisil jatuh cinta pada Feriz, tapi pemuda itu bersikap dingin terhadap setiap gadis yang mendekatinya.
Kenyataan bahwa neneknya yang tidak peduli terhadap keluarganya tapi malah menerima orang asing di rumahnya membangkitkan keingintahuan Lianka. Mengapa neneknya menerima Feriz tinggal di rumah itu? dapatkah Lianka menyibak rahasia yang dipendam sang nenek? Apa pula rahasia yang disimpan Feriz?
Review :
Tidak ada orang, bahkan Lianka sendiri, yang menyadari hidupnya berputar seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat. Ia yang tinggal di daerah kumuh tiba- tiba menjadi cucu nenek kaya dan yang mengejutkannya ialah Prisil, Pascal, dan Linus adalah sepupunya. Padahal hubungan mereka tidak begitu baik. Lianka nekat pergi ke rumah neneknya sesuai pesan dari almarhum mamanya, mengaku bahwa ia putri dari Bernard, ayahnya yang telah meninggal, Oma Tin, begitu Lianka memanggilnya, langsung percaya tanpa menyelidiki asal usul Lianka terlebih dahulu. Ia juga disuruh untuk tinggal bersama Oma di rumah beliau yang ditanami begitu banyak bugenvil.

Lianka juga terkejut saat mengetahui Feriz, anak baru yang bersikap dingin itu, serumah dengannya. Tapi Lianka tetap bersikap biasa, tidak peduli dengan sikap dingin Feriz. Namun Lianka mampu membuat Feriz tersenyum berkali- kali pada saat mereka menghadiri ulang tahun Sabrina sebelum Lianka pindah ke rumah neneknya.

Setelah pindah ke rumah Oma, Lianka tidak melupakan Dyani, sahabatnya. Ia mengundang Dyani bermain ke rumahnya. Acara keliling rumah Oma terhenti saat mereka tiba di depan sebuah kamar yang kata Mbok Kar, asisten rumah tangga Oma, adalah kamar rahasia yang tidak boleh dimasuki. Tentu saja Lianka penasaran. Lianka bertekad untuk mencari tahu apa yang ada di balik kamar itu. Meski Oma Tin tahu ia masuk ke kamar itu, Oma tidak marah pada Lianka. Padahal kalau yang masuk salah satu dari sepupu Lianka, Oma pasti marah besar. Istimewanya perlakuan Oma terhadap Lianka itu juga menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Lianka. Perlahan rasa penasarannya terungkap. Tentang siapa Oma, apa yang membuat Oma lebih menyayanginya, milik siapa kamar rahasia itu, dan mengapa Oma mau menampung Feriz.

Oma sangat menyayangi anak laki- lakinya dan kurang memperhatikan anak perempuannya. Sayangnya kini putra- putra kesayangan beliau telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Oleh karena itu, saat mengetahui Lianka adalah cucu dari Bernard, putra keduanya, Oma Tin sangat senang.

dalam hidup ini tidak setiap hal dapat kita raih.” (hal.97)

Rasa ingin tahu Lianka semakin terjawab ketika suatu malam ia mendapati Feriz mimpi buruk. Tidak mungkin ia meninggalkan cowok itu sendirian. Maka ia menemani Feriz juga mendengar Feriz mencurahkan isi hatinya selama ini yang membuat cowok itu terus dihantui mimpi buruk. Ternyata kejadian yang menimpa Feriz dan siapa cowok itu merupakan jawaban yang Lianka cari.

Entah mengapa Lianka selalu senang berada di dekat Feriz. Mereka sering belajar bersama. Apalagi Lianka sangat lemah di pelajaran hitungan, Feriz akan mengajarinya dengan sabar. Tapi Lianka akan langsung ngambek saat Prisil datang dan mencoba merayu Feriz. Ia juga langsung ketus saat mengetahui Feriz keluar bersama Prisil.

Lianka tidak menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Feriz. Apakah Feriz hanya menganggapnya sebagai teman serumah? Lianka tidak tahu.
Saat kenyataan mulai terungkap, Lianka berusaha mendamaikan Oma Tin dengan anak- anak perempuannya dan cucu- cucunya. Berhasilkah ia? Ikuti kisahnya di Rumah Beratap Bugenvil.

Ini kisah yang kompleks. Tidak hanya kisah Lianka tetapi juga ada kisah kedua orang tuanya, saudara ayahnya, dan juga kisah neneknya. Semua berawal dari kisah cinta yang tak sampai. Betapa menyakitkannya kalau cinta itu harus terhalang karena tidak mendapat penerimaan. Setidaknya itulah salah satu yang dapat saya tangkap dari kisah beberapa generasi itu.
Seperti biasa, menikmati karya Mbak Agnes bukan menunggu di ending nya, tetapi lebih ke prosesnya. Novel ini cukup oke meski bukan novel Mbak Agnes favorit saya (novel favorit saya Piano di Kotak Kaca, Sepasang Peniti Perak, Peluang Kedua, Jejak Kupu- Kupu, Debu Bintang, mungkin nanti nambah lagi. He he..) Tapi saya tetap nyaman menikmati cerita ini dari awal hingga akhir. Cerita ini juga menunjukkan bahwa hidup itu tidak pernah mudah terlebih bagi mereka yang selalu dianggap berbeda. Well, bagi teman- teman yang belum dan baru akan membaca, selamat membaca J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar