Daftar Review

Senin, 14 Oktober 2013

Tiga Venus - Clara Ng

Judul               : Tiga Venus
Pengarang      : Clara Ng
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 296 halaman

Sinopsis :
What does it take to be a woman?

Tiga perempuan : Juli, Emily, Lies.
Tiga status : ibu rumah tangga, lajang, janda.
Tiga hari superburuk.
Tiga keinginan dalam hati.

Apa yang terjadi selanjutnya ketika alam semesta mengabulkan kehendak mereka, menukar jiwa di tubuh yang berbeda, Juli menjadi Lies, Lies menjadi Emily, dan Emily menjadi Juli?
Lucu, haru, dan feminin.
Dan di atas itu semua, pernahkah kau sungguh- sungguh ingin tahu bagaimana rasanya menjalani hidup orang lain?

Review :
Tiga wanita yang mengeluhkan kehidupan mereka dijawab oleh alam. Mereka tidak lagi menghadapi hidup mereka tetapi kehidupan mereka dalam tubuh yang lain.

Juli adalah ibu rumah tangga merangkap pengusaha catering dengan anak- anaknya yang masih kecil- kecil, mertua yang bawel, dan seolah belum  cukup ribetnya, ia malah hamil lagi.

Lies adalah guru SMA dengan masa lalu kelam, yang tengah menghadapi problema seorang murid. Murid kesayangannya, Kim, hamil dan tengah kritis di rumah sakit karena melakukan aborsi.

Hidup Emily tidak kalah pusingnya. Ia tidak berencana menikah dan selalu fokus pada pekerjaannya.

Kesibukan- kesibukan mereka membuat mereka untuk mensyukuri hidup hingga suatu hari jiwa mereka berganti tubuh. Juli terdampar dalam tubuh Lies, Lies dalam tubuh Emily, dan Emily dalam tubuh Juli. Celaka! Bagaimana hidup mereka selanjutnya?

Mau tidak mau mereka harus berusaha untuk menjalankan peran baru mereka sebaik mungkin.

Emily yang selalu anti terhadap lelaki kini tiba- tiba bersuami (suaminya Juli sih) dan harus mengurus masakan untuk rantangan yang jelas- jelas bukan keahliannya. Belum lagi anak- anak kembarnya yang menimbulkan masalah.

“Maretta tidak perlu dihukum sendirian. Si raksasa jelek itu juga patut dihukum karena dia melecehkan orang lain. Oke, aku mengerti Maretta memang bersalah karena dia menyelesaikan masalah dengan tendangannya. Anak itu harus diajar untuk menegakkan kepala tinggi- tinggi ketika dihina, menahan keinginan sekuat- kuatnya untuk menghajar anak lain, jangan memasukkan apapun ke dalam hati, dan melawan provokasi dengan pemikiran yang positif.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

“Bagiku agama tidaklah penting. Buat apa sok rajin ke gereja atau ibadah tapi perilakunya tetap tercela.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

Juli tidak kalah repotnya. Ia yang tidak berpengalaman sama sekali menjadi guru kini harus menangani masalah Kim dan memperjuangkan perlindungan bagi murid yang kedapatan hamil di luar nikah.

“Pendidikan harus selalu berbasis hati nurani. Sekolah dan keluarga adalah penjaga gawang utama atas nama cinta dan kemanusiaan. Jadi, jika murid melakukan kesalahan dalam hidupnya, sekolah seyogyanya tidak memunggungi siswa dan meninggalkannya seorang diri.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

“Aborsi adalah tindakan terakhir remaja kita yang menghadapi jalan buntu, kesepian, dan tanpa bimbingan.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

Lies yang hidup datar setiap hari, terjebak masa lalu kelam,  mengenakan pakaian gelap untuk mengajar, dan berkutat dengan setumpuk novel di rumahnya yang sederhana kini duduk di kantor, menjadi orang penting. Bayangkan!

“Karena sejak kita bertukar tubuh, aku merasa nggak mempunyai otak yang sama lagi. Kejadian ini membuat kecerdasanku menurun drastis.” (Lies sebagai Emily di hal. 161)

“Aku tadi mewawancarai Orien…” “Wawancaranya bukan sekadar wawancara menerima calon pegawai baru. Ini wawancara seperti para calon profesor mempertahankan tesisnya.” (Lies sebagai Emily di hal. 240-241)

Tindakan terbaik berdamai dengan masa lalu adalah menguburkannya dengan prosesi yang penuh penghormatan. (hal. 240)

Namun Tuhan selalu adil. Pergantian ini memberi hikmah tersendiri bagi mereka bertiga. Ada yang mereka pelajari dan masalah baru yang muncul perlahan mereka selesaikan. Mereka menjadi dekat satu dengan yang lainnya. Jika yang satu mengalami masalah, yang lain mencoba untuk memberikan solusi.

Berapa lama mereka harus bertukar tubuh? Selamanya? Ikuti kisah seru mereka dalam Tiga Venus.

Lagi- lagi konsep cerita Mbak Clara khas dan unik. Meski awalnya sempat dipusingkan dengan pergantian tubuh dan karakternya, saya menikmati cerita ini. Menikmati kejar- kejaran mereka dengan waktu dan masalah- masalah yang mereka hadapi. Juga deskripsi situasi dan kondisi yang tepat sehingga keruwetan itu terasa nyata membuat kisah ini lebih hidup.
Kisah Tiga Venus ini seru, menegangkan, dan juga kocak. Cocok dinikmati saat sedang santai. Bagi teman- teman yang belum membaca, novel ini bisa jadi rekomendasi di waktu luang teman- teman. Selamat membaca J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar