Daftar Review

Selasa, 02 Oktober 2012

One Last Chance - Stephanie Zen


Judul              : One Last Chance
Pengarang     : Stephanie Zen
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 288 halamani

Sinopsis  :
Adrienne Hanjaya, novelis muda berbakat yang buku- bukunya selalu bestseller, mempunyai satu prinsip : Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti.
Setiap kisah cintanya yang berantakan selalu dituangkan Adrienne dalam naskah. Semuanya. Dengan nama tokoh pria yang sering kali menggunakan nama sebenarnya, dengan ending buruk bagi si tokoh pria dan kebahagiaan bagi si tokoh wanita. Adrienne berpendapat, para pria itu layak mendapatkannya karena telah menyia- nyiakan cintanya.
Sampai akhirnya, Adrienne bertemu Danny Husein, calon dokter muda yang bahkan sempat dikiranya too good to be true. Kali ini Adrienne mengira akhirnya ia bisa menulis novel roman yang berakhir dengan tokoh pria dan wanita bahagia bersama.
Tapi perkiraan Adrienne salah. Salah satu cowok yang pernah dijadikan tokoh novelnya memberitahu Danny tentang prinsip menulis Adrienne. Bagaimana reaksi Danny mendengar itu? Apakah ia memilih meninggalkan Adrienne? Dan berhasilkan Adrienne membuktikan bahwa ia sungguh- sungguh mencintai Danny?

Review :
Patah hati lalu semuanya berakhir? Itu bukan gaya seorang Adrienne Vanessa Hanjaya, penulis novel romance yang tengah naik daun. Patah hatinya selalu ia ‘olah’ menjadi sebuah novel yang selalu mendapat sambutan hangat dari pembaca yang tidak mengetahui bahwa Adri selalu menggunakan nama asli pria yang menyakiti hatinya sebagai nama tokoh dalam tiap novel Adri.
Suatu hari, Adri yang terlibat dalam kegiatan bakti social di Tosari bertemu dengan cowok ganteng yang menarik perhatiannya. Tentu saja Adri tidak tinggal diam. Ia berusaha mencari celah agar dapat mengenal cowok itu. Dan kesempatan emas itu datang! Nama cowok itu Danny, seorang calon dokter muda yang sedang koas. Danny juga anak dokter di puskesmas Tosari. Adri tambah terpesona. Tak kehilangan akal, agar hubungan mereka tetap berlanjut, Adri meminta diemailkan oleh Danny foto- foto baksos. And she got it!
Sejak mereka terhubung melalui Facebook, komunikasi mereka semakin lancar. Malahan mereka semakin dekat. Duh, Adri kembali diserang virus cinta. Kali ini, Adri berharap hubungannya dengan Danny akan berjalan mulus dan ia dapat menulis kisah dengan akhir yang bahagia bagi kedua tokoh. Naskah baru pun segera ia ketik.
Seolah kebahagiaan Adri belum usai, kabar gembira datang lagi. Novel terbarunya, Reasonable Love, masuk nominasi penghargaan Literature Award. Untuk merayakannya, Adri mengadakan acara syukuran kecil- kecilan dengan mengajak Keyla (sahabat terbaiknya), Aidan (abangnya), Anita (pacar Aidan), dan tentu saja Danny. Saat mereka hendak pulang, Adri tidak menyadari sepasang mata milik (salah satu) mantan kekasihnya tengah mengamati Adri dan Danny. Ternyata sang mantan mengenal Danny. Melalui akun Facebook, ia menjalin kembali pertemanan dengan Danny. Ia jugalah yang menginformasikan kepada Danny mengenai kelicikan Adri dalam memanfaatkan pria sebagai bahan menulis novel. Danny percaya. Ia kecewa dan merasa dimanfaatkan oleh Adri.
Belum cukup sampai disitu, Adri yang baru saja menggondol piala kemenangannya di ajang Literature Award harus rela dicabut statusnya sebagai pemennag. Pasalnya Adri dituntut atas pencemaran nama baik dengan menggunakan nama asli pria itu di novelnya.

The best thing of the worst point is… you know that it can’t be worse – hal. 186

Kini Adri benar- benar terpuruk. Karirnya hancur, pria yang dicintainya meninggalkannya. Mampukah Adri menyelesaikan masalah hukum yang sedang membelitnya? Sanggupkah Adri membuktikan kepada Danny bahwa ia tidak seperti apa yang Danny kira? Temukan jawaban dan kisah serunya di One Last Chance.
©©©

Boleh dibilang novel ini saya lahap dalam waktu yang singkat (mengingat biasanya saya lambat sekali kalau baca novel). Isinya bikin saya penasaran. Bagaimana Adri yang nekat itu menyelesaikan masalahnya satu per satu. Alur ceritanya juga menarik.
Ide ceritanya fresh. Ada unsur baru sehingga pembaca tidak akan merasa bahwa tema romance hanya itu- itu saja. Saya menyukai cara pengarang merangkai kata demi kata, bacanya jadi santai. Tak heran ya kalau novel ini cepat cetak ulangnya.
Saat memasuki bagian akhir novel ini, saya sempat kepikiran apakah novel ini kisah nyata yang dialami penulis lalu dituangkan ke dalam novel. *kebanyakan ngayal. He he..

Pesan moral yang dapat kita petik dari kisah Adri adalah jangan pernah menggunakan nama orang lain tanpa seizin dari yang bersangkutan. Kalau kejadiannya sudah seperti Adri, bukannya repot toh?
Selain itu, menyimpan dendam, seperti halnya Adri, hanya akan merugikan diri sendiri. Kepuasan yang didapat setelah berhasil membalaskan dendam hanya berifat sementara. Bagi Adri, popularitas yang diterimanya malah menjadi boomerang bagi dirinya. So, marilah kita belajar untuk memaafkan meski untuk melakukannya jauh lebih sulit daripada saat mengucapkannya. Just try! *sok bijak.

Tidak menyesal menjadikan Metropop yang satu ini sebagai pelengkap koleksi. Bagi teman- teman yang belum membaca, novel ini saya rekomendasi banget (mumpung masih awal bulan. He he.) Selamat membaca J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar