Daftar Review

Senin, 30 Januari 2012

Bidadari Santa Monica - Alexandra Leirissa Yunadi


Judul buku          : Bidadari Santa Monica
Pengarang          : Alexandra Leirissa Yunadi
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                  : 367 halaman
Saya mengetahui novel ini sudah lama. Namun baru dibeli pas tahun baru kemarin. Dengan harga miring tentunya. He he.. Melihat dari judulnya pasti banyak yang beranggapan novel ini bercerita tentang Bidadari Santa Monica atau sedikitnya wanita cantik dengan setting di Santa Monica (memang sih setting awalnya di Santa Monica). Ternyata tidak. Isi ceritanya itu tentang kisah percintaan dua insan yang harus berakhir dengan perpisahan. Sedihnya. Buat teman- teman yang menyukai novel yang sad ending, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.
Sebelumnya, kenalan dulu ya sama beberapa tokoh yang muncul di novel ini :
1.       Pelita
Ini dia nih tokoh utama ceweknya. Pelita merupakan ilustrator yang bekerja pada sebuah majalah. Pekerjaannya juga merangkap sebagai reporter. Karena tugas meliput inilah, Pelita bertemu dengan Efraim dalam keadaan yang tidak disengaja. Pelita suka menggambar dan ia sangat berbakat.  Orangnya apa adanya. Rada pemikir juga.
2.       Efraim
Penulis ‘menciptakan’ tokoh ini dengan sangat sempurna. Rasanya terlalu sempurna malah. Tampan, mapan, dan perhatian. Lengkap. Efraim memiliki butik dan ia adalah importir pakaian dengan merek kelas atas. Tampaknya pembaca akan dengan sangat mudah menyukai tokoh yang satu ini. ia sangat gencar mengejar Pelita (beruntung sekali ya si Pelita).
3.       Bidadari Santa Monica
Seorang pengamen cantik di Santa Monica. Menyebut dirinya sebagai Bidadari Santa Monica. Petikan harpanya selalu berhasil membuat Pelita menitikkan air mata. Dalam kisah ini, ia muncul sesekali, seperti interlude namun ia juga yang memberikan kejutan pada akhir cerita nantinya.
4.       Niki
Ia adalah sahabat terbaik Pelita. Selalu siap mendegarkan curahan hati Pelita. Selalu mendukung Pelita dari awal hingga akhir.
5.       Mentari
Kakak Pelita yang satu ini paling mudah untuk tidak disukai. Sikapnya yang berlebihan. Berbeda dengan Pelita yang apa adanya, kakaknya ini ada apanya. Penampilannya juga berbeda jauh dengan Pelita. Ia sering memandang rendah Pelita.
6.       Mamanya Efraim
Overprotective. Kata itu cukup untuk menggambarkan kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Mama Efraim sangat selektif memilih calon menantu buat anaknya. Dan tentu saja dengan selera dan standarnya yang tinggi, dengan cepat ia langsung tidak menyukai Pelita saat pertama mereka berjumpa.
7.       Pak Ian
Pak Ian adalah bosnya Pelita yang ternyata seorang gay. Gara- gara Pak Ian jugalah Pelita sempat menyangka bahwa Efraim juga sama seperti Pak Ian.

Nah, itu dia orang- orang yang akan setia menemani kita dalam perjalanan cinta Efraim dan Pelita. Well, kepanjangan ya. Ini dia review tentang novel ini.

Pelita mendapat tugas meliput di Santa Monica, Amerika. Setiap hari, entah mengapa, ia selalu berhenti di depan seorang pengamen cantik yang akrab disapa Bidadari Santa Monica. Den setiap kali mendengar petikan harpa dan lagu yang dinyanyikan, hati Pelita serasa disayat- sayat. Pelita juga sangat terpesona pada bidadari yang satu ini. Dengan mata biru kehijauan yang sangat indah dan rambut berwarna merah, pengamen itu selalu terbayang- bayang di benak Pelita.
Hingga suatu hari Bidadari Santa Monica memanggil nama Pelita dengan baik. Pengamen ini juga tahu arti namanya. Aneh. Tidak sampai di situ, pengamen ini juga menaiki pesawat yang sama dengan Pelita. Tepat di samping Pelita pula.
Wanita ini begitu antusias terhadap kisah hidup Pelita. Dan Pelita pun tidak dapat untuk tidak menceritakan kepada pengamen cantik ini.
Kisah dimulai ketika Pelita salah mewawancarai orang. Seharusnya ia mewawancarai aktris pemeran serial TV, Arlika. Namun karena Arlika sangat sibuk, Pelita berniat untuk mewawancarai lawan mainnya, Riva. Pelita hanya tahu bahwa Riva ialah sosok yang tampan tetapi ia sendiri belum pernah melihat Riva. Oleh karenanya, ketika seorang pria tampan lewat, Pelita langsung menyetopnya dan mewawancarainya. Barulah setelah Riva yang asli datang, Pelita menyadari bahwa ia telah salah sasaran. Inilah awal pertemuan yang lucu dengan Efraim, pria tampan yang (salah) diwawancarai oleh Pelita.
Dan Efraim mulai tertarik pada Pelita. Demi mendekati Pelita, Efraim mengadakan kerjasama antara butiknya dengan majalah Pelita yang rupanya bos Pelita ialah Pak Ian, sahabat Efraim sejak kecil.
Proses pedekate Efraim- Pelita seru juga. Ada lucunya. Di satu sisi, Efraim yang sudah memancarkan sinyal cinta namun tidak ditangkap dengan jelas oleh Pelita karena Pelita sendiri – yang tergila- gila sama Efraim- sibuk memikirkan apakah Efraim suka padanya dan juga kesimpulan yang Pelita tarik sendiri bahwa Efraim adalah seorang gay.
Kehadiran kakak Mentari yang menyebalkan juga menambah manis perjalanan cinta Pelita dan Efraim. Saat keduanya sudah berpacaran dan Efraim mengenalkan Pelita ke mamanya, masalah muncul. Mamanya Efraim tidak menyukai Pelita. Berbagai sindiran ia lontarkan kepada Pelita. Namun Pelita mencoba untuk bersabar. Ketika berbincang- bincang mengenai lukisan di kamar Efraim, mama Efraim, yang tidak menyangka itu adalah karya Pelita, sangat menyukai lukisan itu. Efraim pun berniat menghadiahi mamanya lukisan Pelita yang rencananya akan dibuka di pesta ulang tahun mamanya nanti.
Gawat! Pelita mulai stres. Di tengah- tengah usahanya untuk menghasilkan yang terbaik, Pelita mulai menyerah. Namun selalu ada semangat dan dorongan dari Efraim. Hingga suatu hari ketika Pelita terlibat perdebatan mengenai kado lukisan itu dengan Efraim. Pelita tidak dapat menyelesaikan lukisan itu. Ia kehabisan cat birunya. Tidak tahan lagi, Pelita keluar dari mobil tunangannya itu dan lari. Ia tak sengaja menabrak seorang preman. Demimelindungi Pelita, Efraim ditusuk. Pelita segera mencari pertolongan. Namun Efraim tidak terselamatkan. Pelita sangat terpukul. Semenjak itu Pelita melewati hari- harinya dengan enggan. Tanpa rasa.
Lalu, bagaimana akhir kisah menyedihkan ini? Apakah hubungan Bidadari Santa Monica dengan mereka berdua? Hmmm...... silahkan dibaca sendiri ya novelnya J
Menurut saya....
Saya lumayan suka dengan novelnya. Idenya oke. Hanya saja saya kurang nyaman ketika membaca pada bagian depannya. Terlalu banyak tanda serunya. Untunglah semakin ke belakang semakin jarang.
Ada juga satu bagian dimana Pelita asyik dengan pikiran dan pendapatnya sendiri tentang pria pujaannya yang adalah gay. Pelita jadi menjaga jarak dengan Efraim. Lah, tinggal ditanyain ke cowoknya, beres toh? Bagian ini yang bikin gemes. Menurutku kepanjangan.
Mengetahui cinta yang tidak bersatu membuat saya ikut bersedih. Bayangkan jika ada Pelita beneran (mungkin saja bisa terjadi hal seperti ini), pasti rasa bersalah dan kehilangan yang mendalam itu ada. Untaian cinta yang te,ah terucap. Waktu yang telah dilewati bersama tidak akan pernah cukup. Bahkan kata ‘singkat’ pun masih terlalu singkat untuk kebersamaan ini.

Di belakang buku
Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Dan Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu- abu: remuk hati berkepanjangan.
Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang- orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica. Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai air mata, sambil tak henti- henti mengaguminya.
Lalu, pada hari yang ketujuh...
"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That’s your name right?"
Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...
"See you later, Little Shine...," bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.
Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan Efraim?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar