Paris:
Aline
Prisca
Primasari
Gagas
Media
214
halaman
Review
:
Aline, mahasiswi jurusan sejarah di salah satu universitas
di Paris asal Indonesia, sedang menyusuri Jardin du Luxembourg karena patah
hati melihat cowok yang ditaksirnya jadian sama rekan kerjanya sendiri. Saat itu
ia menemukan pecahan porselen yang dikumpulkan oleh petugas kebersihan disana. Mau
tak mau Aline mengambil porselen itu karena petugas kebersihan itu langsung
pergi setelah ia menyarankan Aline untuk membawa pecahan porselen itu.
Untuk melupakan cowok yang membuatnya patah hati, Aline
menyusun pecahan- pecahan porselen itu. Ada sebuah nama di porselen itu yang
menarik. Aeolus Sena. Aline kembali lagi membayangkan seperti apa Aeolus Sena
itu. Penasaran. Pecahan- pecahan itu pun ia bawa pulang ke apartemennya.
Dan pencarian dimulai. Aline berhasil menemukan nama pria
itu di Twitter. Ada emailnya. Aline mencoba
untuk menghubunginya via Twitter, mengabarinya bahwa porselen Sena sedang
bersama Aline. Ternyata email pria
itu masih aktif. Ia membalas dan meminta Aline untuk mengantarkan porselen itu
ke Place de la Bastille. Pukul dua belas tengah malam pula. Sungguh pria yang
aneh.
Meski demikian, Aline menerimanya. Maka disanalah Aline. Menunggu
seorang diri. Namun yang ditunggu tidak datang. Aline kesal setengah mati. Parahnya,
pria itu meminta agar Aline datang lagi ke tempat yang sama dan waktu yang
sama. Grrr…. Lagi- lagi Sena tidak datang. Untungnya ada Kak Ezra, tetangga
sekaligus kakak kelas Aline, ikut bersamanya.
Kali ketiga, merepotkan Kak Ezra lagi, barulah pria bernama
Aeolus Sena itu muncul. Sebagai tanda terima kasih, Sena akan mengabulkan tiga
permintaan Aline. Jadilah Aline mengikuti Sena. Ia juga mengajak Aline ke
tempat- tempat yang yah..boleh dibilang nyeremin. Tapi Aline toh ikut saja. Berkeliling
bersama pria yang terlihat sangat antusias itu.
Pria itu selalu tampak ceria, bersemangat, dan terkesan
berlebihan menanggapi segala sesuatu di sekitar mereka. Padahal ia tinggal di sana lebih lama daripada
Aline, tapi katanya baru sempat mengunjungi tempat- tempat bersejarah bersama
Aline. Sungguh aneh.
Namun Aline mulai menyukai petualangan barunya bersama
Sena. Hingga suatu hari Sena menghilang dari kehidupan Aline. Awalnya ALine
mengingkari perasaannya, namun kini ia mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada
Sena.
Aku berusaha
berpikir ada tali halus yang menghubungkanku dengan Sena sehingga kemanapun dia
melangkah, aku akan mengikutinya- hal.
125
Saat hendak mencari informasi mengenai Sena, sms dari pria
itu datang, meminta Aline untuk menunggu pria itu di depan apartemen Aline.
Sejak itulah, perlahan kepingan puzzle
yang berserakan dalam pikiran Aline mulai tersusun satu per satu. Dengan usaha
yang keras, Aline melengkapi kepingan puzzle
itu menjadi gambaran yang utuh.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sena? Akankah Aline patah
hati lagi seperti saat ia bekerja di Bistro Lombok? Ikuti kisah manis *juga sedikit misterius yang bikin penasaran*
dalam Paris : Aline.
Ini kali pertama saya membaca novel karangan Prisca
Primasari. Saya sudah tertarik saat melihat novel ketiganya (kalau tidak salah
ya) yang berjudul Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa terpampang di rak toko
buku. Namun baru kali ini terbeli. Jadinya beli bareng novel terbarunya, Paris:
Aline. Dan menurut saya…..
Great! Ceritanya
oke. Di bagian awal hingga sebelum pertengahan, bukan datar sih..bagus, hanya
saja lebih greget pas masuk ke bagian pertengahan cerita. Apalagi menjelang
akhir, rasa penasaran pembaca akhirnya terungkap. Mengapa Sena ngajakin
ketemuan tengah malam, mengapa pria itu selalu mengalihkan pembicaraan saat
Aline menanyakan perihal porselen itu, dan sebagainya. Segalanya menjadi jelas.
Dari sinilah saya mengganggap Sena itu pria yang cerdas. Meski
agak berlebihan , saya suka karakternya karena ia pria yang ceria dan semua yang
dikatakannya masuk akal walau terkadang menyakitkan. Suka juga dengan
karakternya Kak Ezra yang mencintai dengan tulus. Aline adalah wanita yang
beruntung namun ia tidak menyadarinya dan cenderung minder.
Gaya penulisan Mbak Prisca membuat saya ingin terus membaca
hingga ke bagian paling akhir dari kisah cinta Aline- Sena. Novel ini selesai
saya lahap dalam dua kali buka buku. Nggak biasanya secepat ini.
Novel ini juga banyak memberikan pengetahuan baru seputar
lokasi di Paris dan kata- kata dalam bahasa Prancis. Gambar di atas ialah Jardin du Luxembourg, tempat Aline menemukan pecahan porselen milik Aeolus Sena (sumber gambar di sini ). Sayangnya ada beberapa
yang tidak saya ketahui artinya karena tidak disertai dengan catatan kaki di
bawahnya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah besar.
Banyak yang bilang covernya bagus, tapi pas lihat, saya
sempat nggak yakin kalau ini terbitan Gagas *minta dijitak*. Rupanya ada kejutan menanti dibalik covernya. Sebuah kartu pos bergambar
Menara Eiffel. Novel ini saya rekomendasikan
bagi teman- teman yang suka novel roman dengan sentuhan yang unik dan segar. Dua
kata untuk Paris: Aline, très bien (sangat
baik) !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar