Daftar Review

Minggu, 03 Maret 2013

Paris: Aline by Prisca Primasari


Paris: Aline
Prisca Primasari
Gagas Media
214 halaman
Review :
Aline, mahasiswi jurusan sejarah di salah satu universitas di Paris asal Indonesia, sedang menyusuri Jardin du Luxembourg karena patah hati melihat cowok yang ditaksirnya jadian sama rekan kerjanya sendiri. Saat itu ia menemukan pecahan porselen yang dikumpulkan oleh petugas kebersihan disana. Mau tak mau Aline mengambil porselen itu karena petugas kebersihan itu langsung pergi setelah ia menyarankan Aline untuk membawa pecahan porselen itu.

Untuk melupakan cowok yang membuatnya patah hati, Aline menyusun pecahan- pecahan porselen itu. Ada sebuah nama di porselen itu yang menarik. Aeolus Sena. Aline kembali lagi membayangkan seperti apa Aeolus Sena itu. Penasaran. Pecahan- pecahan itu pun ia bawa pulang ke apartemennya.

Dan pencarian dimulai. Aline berhasil menemukan nama pria itu di Twitter. Ada emailnya. Aline mencoba untuk menghubunginya via Twitter, mengabarinya bahwa porselen Sena sedang bersama Aline. Ternyata email pria itu masih aktif. Ia membalas dan meminta Aline untuk mengantarkan porselen itu ke Place de la Bastille. Pukul dua belas tengah malam pula. Sungguh pria yang aneh.

Meski demikian, Aline menerimanya. Maka disanalah Aline. Menunggu seorang diri. Namun yang ditunggu tidak datang. Aline kesal setengah mati. Parahnya, pria itu meminta agar Aline datang lagi ke tempat yang sama dan waktu yang sama. Grrr…. Lagi- lagi Sena tidak datang. Untungnya ada Kak Ezra, tetangga sekaligus kakak kelas Aline, ikut bersamanya.

Kali ketiga, merepotkan Kak Ezra lagi, barulah pria bernama Aeolus Sena itu muncul. Sebagai tanda terima kasih, Sena akan mengabulkan tiga permintaan Aline. Jadilah Aline mengikuti Sena. Ia juga mengajak Aline ke tempat- tempat yang yah..boleh dibilang nyeremin. Tapi Aline toh ikut saja. Berkeliling bersama pria yang terlihat sangat antusias itu.
Pria itu selalu tampak ceria, bersemangat, dan terkesan berlebihan menanggapi segala sesuatu di sekitar mereka.  Padahal ia tinggal di sana lebih lama daripada Aline, tapi katanya baru sempat mengunjungi tempat- tempat bersejarah bersama Aline. Sungguh aneh.

Namun Aline mulai menyukai petualangan barunya bersama Sena. Hingga suatu hari Sena menghilang dari kehidupan Aline. Awalnya ALine mengingkari perasaannya, namun kini ia mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Sena.
Aku berusaha berpikir ada tali halus yang menghubungkanku dengan Sena sehingga kemanapun dia melangkah, aku akan mengikutinya- hal. 125

Saat hendak mencari informasi mengenai Sena, sms dari pria itu datang, meminta Aline untuk menunggu pria itu di depan apartemen Aline. Sejak itulah, perlahan kepingan puzzle yang berserakan dalam pikiran Aline mulai tersusun satu per satu. Dengan usaha yang keras, Aline melengkapi kepingan puzzle itu menjadi gambaran yang utuh.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Sena? Akankah Aline patah hati lagi seperti saat ia bekerja di Bistro Lombok? Ikuti kisah manis  *juga sedikit misterius yang bikin penasaran* dalam Paris : Aline.


Ini kali pertama saya membaca novel karangan Prisca Primasari. Saya sudah tertarik saat melihat novel ketiganya (kalau tidak salah ya) yang berjudul Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa terpampang di rak toko buku. Namun baru kali ini terbeli. Jadinya beli bareng novel terbarunya, Paris: Aline. Dan menurut saya…..

Great! Ceritanya oke. Di bagian awal hingga sebelum pertengahan, bukan datar sih..bagus, hanya saja lebih greget pas masuk ke bagian pertengahan cerita. Apalagi menjelang akhir, rasa penasaran pembaca akhirnya terungkap. Mengapa Sena ngajakin ketemuan tengah malam, mengapa pria itu selalu mengalihkan pembicaraan saat Aline menanyakan perihal porselen itu, dan sebagainya. Segalanya menjadi jelas.

Dari sinilah saya mengganggap Sena itu pria yang cerdas. Meski agak berlebihan , saya suka karakternya karena ia pria yang ceria dan semua yang dikatakannya masuk akal walau terkadang menyakitkan. Suka juga dengan karakternya Kak Ezra yang mencintai dengan tulus. Aline adalah wanita yang beruntung namun ia tidak menyadarinya dan cenderung minder.

Gaya penulisan Mbak Prisca membuat saya ingin terus membaca hingga ke bagian paling akhir dari kisah cinta Aline- Sena. Novel ini selesai saya lahap dalam dua kali buka buku. Nggak biasanya secepat ini.

Novel ini juga banyak memberikan pengetahuan baru seputar lokasi di Paris dan kata- kata dalam bahasa Prancis. Gambar di atas ialah Jardin du Luxembourg, tempat Aline menemukan pecahan porselen milik Aeolus Sena (sumber gambar di sini ). Sayangnya ada beberapa yang tidak saya ketahui artinya karena tidak disertai dengan catatan kaki di bawahnya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah besar.


Banyak yang bilang covernya bagus, tapi pas lihat, saya sempat nggak yakin kalau ini terbitan Gagas *minta dijitak*. Rupanya ada kejutan menanti dibalik covernya. Sebuah kartu pos bergambar Menara Eiffel. Novel ini saya rekomendasikan bagi teman- teman yang suka novel roman dengan sentuhan yang unik dan segar. Dua kata untuk Paris: Aline, très bien (sangat baik) !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar