Daftar Review

Jumat, 30 Januari 2015

Voice - Ghyna Amanda + Mengungkap Secret Santa

Judul                     : Voice
Pengarang          : Ghyna Amanda
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     : 192 halaman
Sinopsis :
“…ada yang bisa kami bantu?”
“Nggg… gini, Mas…”

Dipanggil “Mas” lagi? Kalau bukan “Mas” ya “Om”, paling bagus “Bapak”. Serbasalah memang kalau punya suara kelewat ganteng. Tiap kali menerima telepon, Kirana pasti dikira laki- laki, padahal dia jelas cewek tulen.

Walau kadang membuat orang salah mengira, suara itu pula yang membawa Kirana memasuki industri yang tak pernah dibayangkannya: menjadi voice actor dan mengisi suara untuk karakter utama lelaki dalam cerita animasi. Entah ini termasuk kesempatan emas atau malah malapetaka, karena kemudian Kirana harus berpasangan dengan seorang cowok yang punya suara lembut dan bening bernama Akira.

Memang, Kirana dan Akira awalnya selalu berdebat, tapi akhirnya mereka bisa juga bersama- sama menyingkirkan batu sandungan dan menjadi voice actor yang dapat menghidupkan karakter dalam layar, walau dengan suara yang tertukar; Kirana dengan suara gantengnya, dan Akira dengan suara lembutnya.

Review :

Rencananya Kirana akan membantu Indra, teman lamanya, untuk mengisi suara di game project yang sedang Indra kerjakan. Namun takdir membawa rekaman suaranya nyasar ke Studio Rahmana yang sedang mengadakan audisi untuk mencari pengisi suara di animasi yang sedang mereka garap.

Kirana heran mengapa ia bisa terpilih. Pas sampel suara diputar, Kirana tahu bahwa suara lembut itu bukan miliknya. Sebaliknya, Akira yang sudah mengamuk sedari tadi terus berusaha meyakinkan pihak studio bahwa sampel suara itu memang miliknya. Setelah dites, memang benar suara itu milik Akira.

Kirana bingung. Ia tidak berbakat di bidang voice acting. Pekerjaannya terdahulu adalah sebagai customer service telepon selular. Namun tidak ada salahnya ia mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Kirana memutuskan untuk menerima tawaran dari Pak Ramdan, pengelola studio itu.

Jadilah proyek  isi suara untuk animasi yang berjudul The Princess and The Raven mulai dilaksanakan. Kirana mengisi suara Satria, sang pangeran, dan Akira mengisi suara Putri Viona. Akira yang memang sangat ingin terjun dalam bidang ini dengan mudah dapat menjiwai perannya. Namun bagaimana dengan Kirana?

Ternyata setelah terjun langsung, Kirana baru mengetahui kalau voice acting tidak semudah yang dibayangkan. Ia hampir menyerah dan selalu berdebat dengan Akira. Bagaimana bisa ia menciptakan chemistry antara mereka berdua?

Hambatan demi hambatan muncul hingga Kirana memutuskan untuk keluar dari proyek ini. Nauval, bocah yang mengisi suara gagak, dan Akira selalu menyemangati Kirana. Namun tidak berhasil. Akira bahkan mendatangi rumah Kirana setiap hari.

“Nggak ada usaha yang cukup, Kir… nggak pernah ada.” Lalu tiba- tiba suara Akira melemah. “Tapi setidaknya, hargai usahamu.” (hal. 113)

Ke manakah pengalaman baru yang Kirana dapat itu menuntunnya? Ikuti kisah selengkapnya dalam Voice.


Saat melihat novel ini di rak buku di Gramedia, saya sudah tertarik namun belum membelinya. Kebetulan saat ada event Secret Santa, saya masukkan ke daftar dan yeeii..Santa saya menghadiahi saya novel ini.

Konsep novel ini oke sebenarnya. Saya juga dapat – sedikit – pengetahuan baru tentang bidang voice acting. Sayangnya isi cerita ini kurang dieksplor, jadinya nanggung. Untuk para penggemar cerita romance, harus siap- siap kecewa karena dalam novel ini, hubungan Kirana dan Akira tidak berlanjut, hanya sebatas rekan kerja. Huaaaaaa…. (padahal pengen lihat Kirana ‘ganteng’ dan Akira ‘cantik’ jadian. He he..)

Secara keseluruhan, novel bergenre young adult ini lebih menceritakan tentang pencarian dan pencapaian impian. Ceritanya dikemas secara ringan. Semoga novel Mbak Ghyna selanjutnya lebih cetar ya :)


Whuaaaa….. kirain posbar besok. Untung ada firasat yang mendorong saya untuk blog walking *lebaaii*, sehingga jadilah ketikan buru- buru ini. Oke, ayo kita lembur mulai menebak siapa SS saya tahun ini.

Saya sangat senang saat menerima paket dari kurir yang berisi kado dari SS saya. Acara tebak- tebakan SS pun dimulai. Sebelum mulai membahas riddle, saya ingin berbagi sedikit kesan mengenai SS saya.

Dari kadonya, terlihat bahwa SS saya adalah orang yang rapi dan selalu mengusahakan yang terbaik. Tulisannya, terutama huruf balok, sangat rapi. Untuk pembungkusnya sendiri ada tiga lapis yang terdiri dari kertas kado, plastik transparan, dan (mungkin) kertas amplop. Juga, bagi saya yang termasuk penggila kover, saya suka dengan kertas pembungkus yang SS gunakan ^^ Terima kasih atas kado dan suvenirnya ya, Mbak :D

Well, masuk ke riddlenya ya ….

1.       Ada 14 pertanyaan yang harus dijawab. SS juga menyertakan permainan mencari kata dimana jawabannya ada di kotak- kotak tersebut.


2.       Setelah menjawab, saya membaca petunjuk ketiga yang berbunyi, “Saya adalah yang pertama kamu lihat dari itu semua” Nah loh, apa ya?
Awalnya nggak ngeh. Tapi setelah loading, akhirnya dapat juga.
3.       Untuk memperkuat dugaan saya *cie i leh*, saya mampir ke websiteBBI bagian daftar peserta SS untuk mencari SS saya dan setelah mendapat alamat blog SS saya, saya juga mencocokkan dengan resi yang saya dapat.
Berikut ini jawaban dari saya :
1.       S.J. Watson
2.       Allegiant
3.       Noah
4.       Dracula
5.       Riordan
6.       Azkaban
7.       Chbosky
8.       Alcott
9.       Timepiece
10.   Twilight
11.   EM Bailey
12.   Lumos
13.   Z – saya dapatnya Z, harusnya jawabannya Y
14.   Alice

Dan, jelaslah maksud dari petunjuk ketiga dengan kata pertama yang digaris bawahi. So,  SS saya adalah :
Sandra cattelya

Benarkah Mbak Sandra adalah SS saya? Semoga tebakan saya benar ya, Mbak ^^

Sabtu, 10 Januari 2015

Book Kaleidoscope 2014: Top Five Best Book Covers

Halo. Postingan ini agak telat ya. Tapi nggak apa- apa deh daripada nggak nge­post. Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan ya. Salah satu kebiasaan yang masih ada saat membeli novel ialah melirik dulu kovernya. Hi hi..Untuk tahun ini, saya senang karena banyak novel yang terbit dengan nuansa biru, salah satu warna kesukaan saya. Apa saja novelnya? Yuk diintip…

1.       Fantasy (Novellina A. – GPU)
Untuk pecinta desain yang simpel seperti saya, kover desain Orkha Creative ini membuat saya jatuh hati. Biru gelap dengan polkadot putih dan sebuah piano putih terlihat cantik.

2.       Interlude (Windry Ramadhina – GagasMedia)
Masih dengan latar biru, nuansa laut biru dan sosok perempuan (Hanna kali, ya?) yang ditonjolkan oleh Levina Lesmana ini cocok mendeskripsikan cerita yang membuat saya meleleh saat bacanya ^^

3.       Casablanca (Dahlian – GagasMedia)
Ini biru ketiga yang muncul tapi saya lebih suka dengan ornamen- ornamen dan sepatu khas Maroko yang membuat suasana Casablanca lebih terasa. Salah satu dari kover hasil desain Dwi Anissa Anindhika yang saya suka.

4.       Éclair (Prisca Primasari – GagasMedia)
Melihat kover desain Jeffri Fernando ini membuat saya merasa hangat dan setelah membaca keseluruhan isi novel ini (yang baguuuus juga) membuat saya semakin menyukai kover ini saat melihatnya.

5.       Eiffel…I’m in Love (Rachmania Arunita – Bentang Belia)
Puryani & tsbb membuat warna pink yang lembut mendominasi sampul novel yang sudah diadaptasi ke layar lebar ini. Meski bukan pecinta pink, imutnya kover dengan ilustrasi Eiffel yang terpotong ini berhasil membuat saya meletakkan novel ini ke dalam tas belanja saya.


Itulah kelima novel yang desain kovernya cakep dan imut menurut saya. Adakah di antara teman- teman yang juga memiliki kover favorit yang sama? Share juga yuk di sini.

Senin, 29 Desember 2014

Book Kaleidoscope 2014: Top Five Most Memorable Quotes

sumber : di sini
Salah satu hal yang saya suka dari mereview buku yang saya baca selain untuk sharing mengenai buku tersebut adalah karena kutipan- kutipan yang ada dalam sebuah buku bisa saya ikutsertakan. Terkadang saat post-it sedang tidak di samping buku, ya langsung catat halaman buku di notes yang ada di ponsel. Dengan mereview, semuanya komplit (sinopsis, opini, dan kutipan) dalam satu tulisan jadi tidak tercecer.

Saya juga senang untuk mengedit hasil jepretan saya dengan kutipan favorit. Berikut ini lima kutipan favorit saya :

1.       Éclair – Prisca Primasari
Hati yang merasakan dengan tulus jauh lebih baik daripada kata- kata manis yang palsu dan tidak berarti.

2.       The Not-So-Amazing Life of @amrazing – Alexander Thian
Selalu ada pelangi setelah hujan, dan selalu ada senyum dibalik duka.

3.       Wonder – R.J. Palacio
Semua orang yang terlahir dari Tuhan bisa menghadapi dunia.

4.       Priceless Moment – Prisca Primasari
“Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Semua keinginan saya sudah tercapai.”
“Bantulah orang lain.”
“Setelah itu?”
“Hiduplah.”
“Hiduplah dengan bahagia.”

5.       Coupl(ov)e – Rhein Fathia
“What does love mean, Ka?”
“It means, you’re happy to see someone you love happy.”

Itu dia kelima kutipan yang saya sukai, kutipan yang bisa menghibur dan memotivasi saya. Apa kutipan favorit teman- teman?


Wrap Up : Indonesian Romance Reading Challenge 2014

Romance rasanya telah menjadi genre sejuta umat ya. Saya juga sangat menyukai novel roman. Apalagi yang ditulis dengan bahasa dan tokoh utama yang karakternya bikin melting. Koleksi novel saya juga didominasi oleh novel roman dan kebanyakan dari pengarang lokal. Dan ternyata setelah hampir satu tahun, terkumpullah 18 novel roman Indonesia yang berhasil saya baca dan saya review (ada beberapa novel roman yang setelah saya baca tidak saya review, jadi tidak masuk IRRC 2014 ini).

Dan ini dia novel- novel roman tersebut :

Januari – Maret 2014 :
1.       Camar Biru – Nilam Suri (review)
2.       Rumah Beratap Bugenvil – Agnes Jessica (review)
3.       Éclair – Prisca Primasari (review)
4.       Kok, Putusin Gue? – Ninit Yunita (review)
5.       Barcelona Te Amo – Kireina Enno (review)
6.       Coupl(ov)e – Rhein Fathia (review)

April – Juni 2014 :
7.       Dongeng Sebelum Tidur – Agnes Jessica (review)
8.       Dance For Two – Tyas Effendi (review)
9.       After Office Hours – Dahlian dan Gielda Lafita (review)

Juli – September 2014 :
10.   Made of Stars – Hana Krisviana (review)
11.   Runaway Ran – Mia Arsjad (review)
12.   Casablanca - Dahlian (review)
13.   Interlude – Windry Ramadhina (review)

Oktober – Desember 2014 :
14.   Destinée – Monica Anggen (review)
15.   Fate - Orizuka (review)
16.   Catatan Musim – Tyas Effendi (review)
17.   Eiffel…I’m in Love – Rachmania Arunita (review)
18.   With You – Christian Simamora dan Orizuka (review)

Untuk levelnya sendiri, saya memilih Going Steady dengan membaca 11-20 buku. Artinya nggak jadi naik level ya. He he.. Tapi nggak apa- apa, target masih tercapai. Semoga RC ini diadakan lagi ya tahun depan. Jadi bisa ikutan lagi ^^

Wrap Up : New Authors Reading Challenge 2014

New Authors Reading Challenge 2014 merupakan  salah satu reading challenge (RC) yang saya ikuti di tahun ini. Tidak banyak RC yang saya ikuti mengingat saya memang kurang aktif dalam nge-blog dan mood baca dan review yang naik turun *ngaku dosa*

Saatnya wrap up! Di awal keikutsertaan saya, saya memilih level Easy untuk jatah 1- 15 buku dan senang bisa melampaui target meski hanya sedikit. Ada 18 buku yang berhasil saya baca untuk karya pengarang baru bagi saya. Kebanyakan masih pengarang lokal karena saya memang lebih sering baca novel lokal.

Berikut ini list novel yang berhasil saya baca untuk NARC 2014 :

Januari – Februari 2014 :
1.       Camar Biru – Nilam Suri (review)
2.       Heaven Can Wait – Cally Taylor (review)
3.       Touché – Windhy Puspitadewi (review)
4.       Keegan’s Love Pendant – Teresa Bertha

Maret – April 2014 :
1.       Kok, Putusin Gue? – Ninit Yunita (review)
2.       Barcelona, Te Amo? – kireina Enno (review)
3.       Coupl(ov)e – Rhein Fathia (review)

Mei – Juni 2014 :
1.       Restart – Nina Ardianti
2.       Dance For Two – Tyas Effendi (review)

Juli- Agustus 2014 :
1.       Made of Stars – Hana Krisviana (review)
2.       Runaway Ran – Mia Arsjad (review)
3.       Time Will Tell – Okke ‘Sepatumerah’ dan Riri Sardjono

September – Oktober 2014 :
1.       Destinée – Monica Anggen (review)
2.       Wonder – R.J. Palacio (review)

November – Desember 2014 :
1.       Beautiful Liar – Dyah Rinni (review)
2.       Eiffel…I’m in Love – Rachmania Arunita (review)
3.       Best Rival – Naima Knisa (review)
4.       Fantasy – Novellina A.

Itulah daftar novel yang berhasil saya baca dan masuk ke dalam RC ini. Pengennya sih dalam sebulan bisa baca minimal lima novel, tapi yah karena moodnya itu jadi sebulan paling mentok hanya bisa baca empat novel dari pengarang yang baru bagi saya.
Tapi melihat target sudah tercapai, saya sudah cukup puas meski masih level easy. Semoga tahun depan NARC masih diadakan dan saya bisa mencapai target yang lebih baik ^^

Minggu, 28 Desember 2014

Riddle Time

Paket kado dari Santaku yang baik sudah tiba dengan aman dan selamat. Yeeiii ^^ Nggak sabar sudah kepingin buka tapi foto- foto dulu ya. Ini dia kado yang saya terima. Suka dengan kertas kadonya, waktu dibuka ekstra hati- hati agar tidak sobek sana- sini. Kebiasaan nyimpan kertas kado yang digunakan sebagai pembungkus paket (ngomong- ngomong, pembungkus kado dari SS-ku yang pertama  juga masih kusimpan :D)

sebelum dibuka, dijepret dulu
Oke, selanjutnya menebak siapa si Santa. Kata Santa, riddlenya gampang hanya saja membutuhkan waktu untuk browsing. Santa saya juga orangnya rajin dan kreatif dengan menambahkan kolom ‘mencari kata’ di lembaran riddle.
word search dari Santa
riddle + novel + suvenir
Juga sebagai suvenir, ada dua batang pensil berwarna biru dan hijau. Menurut saya, Santa memang memilih kedua warna itu karena novelnya masing- masing berwarna biru dan hijau *sotoy* Ah ya, keasyikan ngomongin riddle, jadi kelupaan novelnya. Santa memberikan dua novel. Pertama, Dilan yang banyak direkomendasikan oleh pembaca dan kedua, Voice, merupakan novel yang baru terbit.


Setelah konsultasi sama Mas Google, akhirnya saya menyelesaikan teka-tekinya. Sepertinya saya sudah tahu siapa Santa saya. Selanjutnya, saya akan membaca novel yang Santa berikan dan kita tunggu ya harinya. Semoga tebakan saya nanti benar ^^ Terima kasih, Santa :*

Selasa, 09 Desember 2014

Best Rival - Naima Knisa


Judul                : Best Rival

Pengarang       : Naima Knisa


Penerbit          : GagasMedia


Tebal               : 244 halaman


Sinopsis :
Ini adalah kisah tentang teman jadi lawan.
Bisa jadi, kamu juga mengalaminya.
Atas semua yang kamu miliki, ia tidak bahagia. Atas semua yang kamu lakukan, ia tidak peduli. Padahal, dulu, kalian pernah berjanji untuk berjalan bersisian, menuju impian yang sama.
Ya, Estu, ini kisah kau dan aku. Aku yang bukan “siapa- siapa” menjadi titik lemahku bagimu. Begitukah?
Maaf, aku tidak selemah itu. Aku belajar banyak dari kecuranganmu selama ini. Belajar untuk bisa menjadi lebih daripada dirimu.
Tenang saja, waktu akan menjawab “siapa aku, siapa kamu”.
Juga tentang siapa teman, siapa lawan.

Review :
Hidup dalam kelas yang berbeda dengan Raden Mas Pangestu Bumi,Estu, telah membuat Kuncoro Respati Wijaya tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan keras. Berbeda dengan Estu yang terlahir di keluarga keraton, orangtua Kuncoro hanyalah abdi dalem dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Sejak itu, Kuncoro bertekad untuk menjadi seorang yang sukses dan dikenal.

Benar kata Bapak, hidup apa adanya, bersama orang yang kita cintai itu suda lebih dari cukup. (hal. 219)
Hal itu terwujud saat ia menjadi chef di restoran Omah Jawa, restoran yang didirikan oleh Pak Kamil, Ayah kekasihnya yang bernama Gendis. Restoran yang menyajikan makanan khas Solo itu selalu ramai. Hingga tahun keempat, restoran mulai sepi. Pelanggan mulai beralih.

Ternyata Estu kembali ke Solo dan mengambil alih restoran di hotel ayahnya. Masakannya lebih enak dari masakan Kuncoro. Kuncoro yang mengetahui hal itu lalu emosi. Ia tidak terima, terlebih yang lebih sukses kini adalah Estu, mantan sahabat masa kecilnya yang sudah ia anggap sebagai musuh.

Kebencian Kuncoro terhadap Estu bermula saat Kuncoro gagal mengikuti seleksi beasiswa untuk bersekolah di Perancis. Ada lima orang yang mendapat beasiswa itu. Kuncoro berada di posisi keenam sedangkan Estu berada di posisi kelima. Kuncoro merasa ia dicurangi padahal Estu sedang menimba ilmu di Jakarta. Kebenciannya bertambah.

Kembali ke masa kini. Kuncoro yang disulut api amarah itu mulai menggunakan cara yang menyimpang. Ia menyuruh Gendis untuk memata- matai Estu. Namun tidak mendapat hasil apa- apa. Kuncoro tidak menyerah. Sekarang ia malah menganggap bahwa Estu menggunakan kekuatan supernatural untuk melancarkan usahanya.

Restoran yang semakin sepi membuat Kuncoro bergerak lebih cepat. Ia akhirnya mendatangi makam Nyai Menggung Gandarasa, salah satu juru masak keraton di tahun 17 Masehi yang sangat lihai dalam memasak dan menilai makanan, untuk meminta berkah.

Dengan usaha yang semakin lama semakin mengerikan, mampukah Kuncoro mempertahankan restoran? Apakah Kuncoro menerima tawaran Estu untuk bersahabat kembali? Ikuti kisah  mereka dalam Best Rival.

“Memasak itu seperti seni, kita sebagai seniman selalu memiliki ciri khas masing- masing. Seperti seorang pelukis, cat air kita bermerek sama, kuas kita juga, bahkan cara menggoreskannya di atas kanvas juga sama! Tapi, apa kamu pernah melihat lukisan yang sama persis?” (hal.228)

sin level of Best Rival

Hoaaah….emosi bacanya. Emosi sama Kuncoro. Karakternya itu benar- benar mengesalkan. Ambisinya membuat Kuncoro menjadi jahat. Berbanding terbalik dengan Estu yang baiknya itu loh. Meski diperlakukan dengan tidak adil oleh Kuncoro, ia tetap berbesar hati dan mengganggap Kuncoro sahabatnya.

masih dengan pembatas bukunya yang unyu
Dilihat dari sin levelnya, Kuncoro dipenuhi oleh nafsu (lust) meski sebenarnya sifat amarah serta iri dan cemburunya lebih besar. Karakter inilah yang sukses digali oleh penulis sehingga pembaca dapat turut merasakannya. Sayangnya typo yang terdapat dalam novel ini cukup banyak sehingga terasa kurang nyaman saat membaca novel ini.

Endingnya bikin kaget membuat saya semakin tidak menyukai Kuncoro *berhenti ngetik di bagian ending agar tidak spoiler*

Secara keseluruhan, tokoh utama dalam novel ini sangat mewakili 7 Deadly Sins yang memang difokuskan pada karakter yang tidak sempurna (dan bikin kesal). Selain  typo, saya merasa ini debut yang baik dari Mbak Naima Knisa. Semoga novel berikutnya bisa lebih baik lagi. 3 dari 5 untuk Kuncoro yang sadis.