Daftar Review

Rabu, 20 Maret 2013

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa - Prisca Primasari




Judul               : Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Pengarang      : Prisca Primasari
Penerbit          : Gagasmedia
Tebal              : 292 halaman
Vinter
Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin….
Florence
Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri….
Review :
Kaki Florence terus membawanya sejauh yang ia bisa. Ia tengah kabur dari acara perjodohan oleh kedua orangtuanya. Florence tidak setuju. Jadilah ia duduk di kereta menuju Honfleur. Seakan ikut mengejeknya, tas yang ia bawa serta dalam perjalanan, ikutan rusak. Barang- barangnya terpaksa ia tampung dengan kedua tangannya.
Saat berada di kereta, seorang pria yang tampak gusar meminta izin Florence agar dapat duduk di sana, bersama wanita itu. Florence tentu mengizinkannya. Ia jadi punya teman perjalanan. Dilihatnya pria itu membawa sebuah tas yang ternyata adalah hadiah dari pria itu untuk –mungkin- kekasihnya. Mengetahui keadaan Florence, pria itu memberikan tasnya untuk Florence. Florence sangat berterima kasih.

Aku hanya berpikir dia berbeda dengan semua orang yang pernah kau kenal.
Dia memang penyendiri, tapi aku bisa merasakan kebaikannya.
Dia agak kelam, kau ceria. Kupikir kau bisa melengkapinya.
Aku semakin yakin dia adalah orang yang tepat untukmu, ketika aku sadar bahwa aku tidak hanya memikirkan kebahagiaanmu. Tapi, juga kebahagiaannya--Hal . 232

Vinter, nama pria itu, tengah bermasalah dengan kelompok seniman yang tiba- tiba membatalkan acara mereka untuk tampil di kediaman teman Vinter. Padahal acaranya hari ini. Sebagai balas budi atas kebaikan Vinter, Florence membantu pria yang sedang gelisah itu. Ia yang akan menggantikan kelompok seniman itu. Awalnya Vinter ragu, tetapi Florence meyakinkannya bahwa ia mampu, secara Florence adalah guru les biola dan ia jago dalam bidang kesenian.
]
Hasilnya sungguh mengagumkan. Florence sangat lihai, membacakan puisi, bernyanyi, memainkan piano. Semuanya ia lakukan sendiri. Baik Zina, teman Vinter, para pelayannya, dan Vinter, terkagum- kagum atas pertunjukan yang ditampilkan Florence. Namun Zima tidak menunjukkannya. Hingga saat Florence meminta waktu untuk mempersiapkan drama, Zima menolaknya. Ia tidak suka seperti itu. Ia pun mengusir Florence. Bahkan ia tidak membayar Florence sepeser pun.
Usai pertunjukkan itu, Florence sudah bebas dari tugasnya. Vinter berterimakasih pada wanita itu dan mereka akan menjalani kehidupan masing- masing seperti semula. Namun Florence merasa aneh. Ia belum siap untuk kehilangan pria itu. Maka, dengan segala upaya, Florence kembali mencari Vinter. Meski harus berhadapan langsung dengan Zima yang galak dan sudah pasti tidak menyukainya.

“Bagaimana aku bisa hidup?” Zima terkikik. “Dengan memberi,” jawabnya kemudian. Zima di hal. 276.
Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri, Zima di hal. 277

Mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Perlahan, Florence mulai mengenal siapa Vinter sebenarnya. Mengapa Vinter selalu terkesan menutup diri, mengapa kesepian selalu menjadi teman baiknya, dan berbagai jawaban atas ‘mengapa- mengapa’ yang lainnya. Semakin mengenal Vinter, Florence semakin tidak dapat melepaskan pria itu.

Dia membutuhkan seseorang untuk membuat dirinya cerah. Dan tegar.
Dan aku merasa bisa melakukannya….
Walaupun aku sendiri juga sangat rapuh. Tetapi tidak lebih gelap dibandingkan dirinya…. Florence di hal. 210

Saat kembali ke Paris, wanita itu menjadi tidak bersemangat. Jiwanya hilang setengah. Ketika kesempatan itu tiba, saat Vinter mengadakan pameran di Paris, akankah takdir mempertemukan mereka?
Perasaan yang muncul ketika karyamu dikagumi orang, sungguh tak tergambarkan.
Setelah selesai membaca Paris : Aline (klik judul untuk melihat reviewnya), saya langsung membaca novel Mbak Prisca yang satu ini. Dan saya tidak kecewa, malah sangat menyukai novel ini. Novel dengan setting Paris (lagi) dan Honfleur berhasil memunculkan kesan yang berbeda dari novel- novel pengarang lokal lainnya. Seperti novel sebelumnya, Mbak Prisca menuliskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Suasananya memunculkan kesan klasik tapi tidak bikin bosan, saya suka sekali. Banyak istilah seni yang muncul dalam novel ini, jenis musik dan lukisan. Penulis tampak menguasai sekali semua detil seninya. Saya sempat berpikir kalau kisah mereka ini terjadi sudah lama sekali. Saat kata ‘ponsel’ muncul dalam kalimat, baru deh saya ngeh.
Ceritanya mengalir begitu saja, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Takarannya pas. Bahkan setelah novel ini selesai saya baca berminggu- minggu yang lalu, saya masih dapat membayangkan potongan- potongan kisah Vinter- Florence saat saya menuliskan nama mereka. Uniknya juga, kisah hidup Vinter sebelum bertemu Florence dibahas setelah cerita berakhir. Jadi, bagi pembaca yang sudah terlanjur  jatuh cinta sama Vinter bisa mengetahui tentang dia di bagian paling akhir.


Sungguh novel yang bagus. Romantis dan quote-quotenya juga oke, bikin melting lagi. Recommended deh bagi pecinta novel roman.

Minggu, 03 Maret 2013

Paris: Aline by Prisca Primasari


Paris: Aline
Prisca Primasari
Gagas Media
214 halaman
Review :
Aline, mahasiswi jurusan sejarah di salah satu universitas di Paris asal Indonesia, sedang menyusuri Jardin du Luxembourg karena patah hati melihat cowok yang ditaksirnya jadian sama rekan kerjanya sendiri. Saat itu ia menemukan pecahan porselen yang dikumpulkan oleh petugas kebersihan disana. Mau tak mau Aline mengambil porselen itu karena petugas kebersihan itu langsung pergi setelah ia menyarankan Aline untuk membawa pecahan porselen itu.

Untuk melupakan cowok yang membuatnya patah hati, Aline menyusun pecahan- pecahan porselen itu. Ada sebuah nama di porselen itu yang menarik. Aeolus Sena. Aline kembali lagi membayangkan seperti apa Aeolus Sena itu. Penasaran. Pecahan- pecahan itu pun ia bawa pulang ke apartemennya.

Dan pencarian dimulai. Aline berhasil menemukan nama pria itu di Twitter. Ada emailnya. Aline mencoba untuk menghubunginya via Twitter, mengabarinya bahwa porselen Sena sedang bersama Aline. Ternyata email pria itu masih aktif. Ia membalas dan meminta Aline untuk mengantarkan porselen itu ke Place de la Bastille. Pukul dua belas tengah malam pula. Sungguh pria yang aneh.

Meski demikian, Aline menerimanya. Maka disanalah Aline. Menunggu seorang diri. Namun yang ditunggu tidak datang. Aline kesal setengah mati. Parahnya, pria itu meminta agar Aline datang lagi ke tempat yang sama dan waktu yang sama. Grrr…. Lagi- lagi Sena tidak datang. Untungnya ada Kak Ezra, tetangga sekaligus kakak kelas Aline, ikut bersamanya.

Kali ketiga, merepotkan Kak Ezra lagi, barulah pria bernama Aeolus Sena itu muncul. Sebagai tanda terima kasih, Sena akan mengabulkan tiga permintaan Aline. Jadilah Aline mengikuti Sena. Ia juga mengajak Aline ke tempat- tempat yang yah..boleh dibilang nyeremin. Tapi Aline toh ikut saja. Berkeliling bersama pria yang terlihat sangat antusias itu.
Pria itu selalu tampak ceria, bersemangat, dan terkesan berlebihan menanggapi segala sesuatu di sekitar mereka.  Padahal ia tinggal di sana lebih lama daripada Aline, tapi katanya baru sempat mengunjungi tempat- tempat bersejarah bersama Aline. Sungguh aneh.

Namun Aline mulai menyukai petualangan barunya bersama Sena. Hingga suatu hari Sena menghilang dari kehidupan Aline. Awalnya ALine mengingkari perasaannya, namun kini ia mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Sena.
Aku berusaha berpikir ada tali halus yang menghubungkanku dengan Sena sehingga kemanapun dia melangkah, aku akan mengikutinya- hal. 125

Saat hendak mencari informasi mengenai Sena, sms dari pria itu datang, meminta Aline untuk menunggu pria itu di depan apartemen Aline. Sejak itulah, perlahan kepingan puzzle yang berserakan dalam pikiran Aline mulai tersusun satu per satu. Dengan usaha yang keras, Aline melengkapi kepingan puzzle itu menjadi gambaran yang utuh.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Sena? Akankah Aline patah hati lagi seperti saat ia bekerja di Bistro Lombok? Ikuti kisah manis  *juga sedikit misterius yang bikin penasaran* dalam Paris : Aline.


Ini kali pertama saya membaca novel karangan Prisca Primasari. Saya sudah tertarik saat melihat novel ketiganya (kalau tidak salah ya) yang berjudul Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa terpampang di rak toko buku. Namun baru kali ini terbeli. Jadinya beli bareng novel terbarunya, Paris: Aline. Dan menurut saya…..

Great! Ceritanya oke. Di bagian awal hingga sebelum pertengahan, bukan datar sih..bagus, hanya saja lebih greget pas masuk ke bagian pertengahan cerita. Apalagi menjelang akhir, rasa penasaran pembaca akhirnya terungkap. Mengapa Sena ngajakin ketemuan tengah malam, mengapa pria itu selalu mengalihkan pembicaraan saat Aline menanyakan perihal porselen itu, dan sebagainya. Segalanya menjadi jelas.

Dari sinilah saya mengganggap Sena itu pria yang cerdas. Meski agak berlebihan , saya suka karakternya karena ia pria yang ceria dan semua yang dikatakannya masuk akal walau terkadang menyakitkan. Suka juga dengan karakternya Kak Ezra yang mencintai dengan tulus. Aline adalah wanita yang beruntung namun ia tidak menyadarinya dan cenderung minder.

Gaya penulisan Mbak Prisca membuat saya ingin terus membaca hingga ke bagian paling akhir dari kisah cinta Aline- Sena. Novel ini selesai saya lahap dalam dua kali buka buku. Nggak biasanya secepat ini.

Novel ini juga banyak memberikan pengetahuan baru seputar lokasi di Paris dan kata- kata dalam bahasa Prancis. Gambar di atas ialah Jardin du Luxembourg, tempat Aline menemukan pecahan porselen milik Aeolus Sena (sumber gambar di sini ). Sayangnya ada beberapa yang tidak saya ketahui artinya karena tidak disertai dengan catatan kaki di bawahnya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah besar.


Banyak yang bilang covernya bagus, tapi pas lihat, saya sempat nggak yakin kalau ini terbitan Gagas *minta dijitak*. Rupanya ada kejutan menanti dibalik covernya. Sebuah kartu pos bergambar Menara Eiffel. Novel ini saya rekomendasikan bagi teman- teman yang suka novel roman dengan sentuhan yang unik dan segar. Dua kata untuk Paris: Aline, très bien (sangat baik) !

Happy Birthday RITM


Halo teman- teman…

Ada yang lagi punya novel idaman tapi belum terbeli kah? Kali ini, Mbak Nana, pemilik blog Reading in The Morning (selanjutnya saya sebut RITM saja) mengadakan giveaway dalam rangka ulang tahun blognya yang pertama. Ada giveaway pasti ada hadiah donk. Hadiahnya apa ya?

Yang menarik disini, hadiahnya bebas kamu pilih, sebuah buku atau novel dengan harga maksimal Rp 100.000,-  atau USD 10 jika kamu berbelanja di toko buku online internasional. Seru kan? Ada beberapa sumber toko buku online yang bisa dipilih, antara lain : Bukukita.com , The Book Depository, dan Better World Books.

So, buat teman- teman yang tertarik, yuk gabung. Tidak harus blogger buku, yang penting punya identitas dan isi Rafflecopter nya di sini ya. Giveaway ini berlangsung hingga 12 Maret 2013. Buruan yuk J

Minggu, 24 Februari 2013

Lukisan Keempat - Rina Suryakusuma


Judul               : Lukisan Keempat
Pengarang       : Rina Suryakusuma
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 224 halaman
Sinopsis :
Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.
Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan, berselingkuh dengan teman sekamarnya.
Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.
Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.
Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?
Review :
Pengalaman nampaknya mengajari Natasya segalanya. Terlebih pengalaman hidupnya yang pahit. Disakiti dan dikhianati membuat Natasya menjadi anti terhadap cinta. Luka demi luka yang memenuhi hatinya telah menutup hatinya kepada pria. Namun semuanya berubah ketika pria bule bernama Craig Hayden hadir dalam hidup Natasya.
Craig jatuh cinta pada pandangan pertama. Natasya telah mencuri hatinya saat mereka bertemu pertama kalinya di pesawat. Craig cukup cerdik untuk menarik perhatian Natasya dengan menciptakan sedikit masalah. Berkat masalah yang ditimbulkannya, otomatis Natasya akan mengingat dirinya meski bukan kesan yang baik. Bagi Craig ini sudah merupakan awal yang baik. Craig akan berjuang untuk mendapatkan Natasya karena ia yakin Natasya berbeda dengan wanita lainnya.
Natasya tidak begitu saja menerima Craig. Tidak aka nada lagi luka lain yang bisa menyayat hatinya. Craig pria yang sangat baik. Kebaikan dan ketulusan Craig membuat Natasya mau berteman dengannya. Mereka menjadi akrab. Sayangnya Natasya menolak saat Craig melamarnya. Ia bertekad untuk tidak hidup dalam komitmen. Daripada ia menderita seperti sebelumnya, ditinggal pergi oleh sang Ayah dan cintanya dikhianati dua kali oleh pria, lebih baik ia hidup sendiri.
Meski demikian, Natasya tidak dapat berbohong pada hati kecilnya. Ia juga mencintai Craig. Berada di sisi Craig merupakan momen bahagia melebihi apapun. Bersama Craig lah ia menemukan kembali bagian yang hilang dalamn dirinya. Ia dan Craig melewati malam pergantian tahun bersama di California. Craig mengajaknya menaiki wahana menegangkan, membawanya melihat kembang api yang luar biasa indah. Sungguh romantis. Namun sekali lagi tekad Natasya mencegahnya untuk melangkah lebih jauh.
“Setelah kamu dewasa, Natasya, hitam tidak selalu hitam. Dan putih tidak selalu putih. Ada garis abu- abu di antara keduanya.” (Mama Natasya, hal. 171)
Saat mendapat rute penerbangan destinasi Asia, Natasya mengambil cuti dan kembali ke Indonesia, melepas sejuta kangen dan rindu terhadap Mama dan adiknya. Natasya juga menceritakan pertemuannya dengan Papa di pesawat pada Mamanya. Mamanya menasehatinya untuk tidak menyimpan dendam dan berusaha untuk tidak tertutup pada cinta. Natasya pun sadar, menolak Craig adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kini ia akan mengubur masa lalunya.
Buah yang terlarang memang selalu indah. Namun setelah menjadi halal, buah itu tidak lagi menarik seperti ketika pertama kali didapatkan – hal. 141
Entah tahu dari mana bahwa Natasya sedang berada di Indonesia, Edward, pria yang mempermainkan cinta Natasya, kembali mencari wanita itu. Edward bahkan sudah siap untuk memutuskan pacarnya demi mendapatkan kembali Natasya. Baginya, Natasya lebih berharga. Awalnya Natasya menolak untuk keluar makan dengan Edward. Tapi ia ingin menunjukkan keberhasilannya pada pria itu dan memberi sedikit pelajaran pada pria bermuka tebal itu.
Tepat saat makan malam dengan Edward, kejutan muncul. craig berdiri di depan café dan mendapati Natasya tengah bermesraan dengan Edward. Hati Craig remuk. Pria itu telah salah sangka. Lalu segalanya menjadi kacau. Kini saatnya Natasya yang mengejar cinta Craig. Akankah cinta mempersatukan mereka? Bagaimana perjuangan Natasya untuk meraih impian terbesarnya? Ikuti kisah mereka dalam Lukisan Keempat.
Rina Suryakusuma. Melihat namanya di sampul buku membuat saya tidak ragu untuk membeli novel ini. Ci Rina merupakan salah satu penulis novel Amore favorit saya. Dan kali ini, seperti biasa, saya suka ceritanya. Dengan gaya penulisan yang lincah (meski di novel yang ini belum sebagus novel- novel selanjutnya dari Ci Rina), pesan dan makna dibalik cerita cinta Natasya tersampaikan dengan baik. Novel ini seolah sedang berbicara kepada kita, memberikan saran tetapi tidak terkesan menggurui.
Saya juga suka dengan karakter tokoh Craig. Dewasa dan matang. Ya, secara umurnya terpaut jauh dengan Natasya, 12 tahun. Kalau novelnya lebih tebal, isinya lebih detil, mungkin pembacanya (kalau cewek) bakalan jatuh cinta sama Craig kali ya. Ia selalu ada di sisi Natasya, menghibur dan menguatkan Natasya saat wanita itu tengah putus asa dan mengalami kesulitan.
Buat teman- teman yang belum baca dan penikmat novel roman, Amore yang satu ini saya rekomendasikan. Selamat membaca J

Silent Love by Jullis



Judul               : Silent Love, Sang Vokalis Jatuh Cinta
Pengarang       : Jullis
Penerbit          : Puspa Swara
Tebal               : 160 halaman
Sinopsis :
Cinta memang indah. Namun, jika cinta tersandung masalah, dunia pun terasa gelap. Itulah yang dirasakan Lee, vokalis band yang sedang naik daun. Kevin, kekasihnya yang setia, kini seolah tidak peduli lagi. Ada rahasia yang sengaja disembunyikan Kevin.
Bukan hanya masalah cinta yang menghampiri Lee. Band-nya pun diambang kehancuran ketika gadis cantik itu tahu, gitaris band-nya, Abo, terlibat narkoba. Namun, sebagai sahabat, Lee berusaha sekuat tenaga membantu Abo lepas dari kecanduan, mendampingi sang gitaris menjalani terapi.
Perhatian Lee yang tulus, membuat cinta di hati Abo pada Lee semakin subur. Yup, sang gitaris diam- diam telah lama jatuh hati pada sang vokalis. Sementara di sisi lain, sikap Kevin semakin terasa menyakitkan ketika Lee tahu bahwa cowoknya itu ternyata terlibat cinta dengan adik sahabatnya.
Akankah Abo menggantika posisi Kevin di hati Lee? Mungkinkah Lee sanggup melepaskan Kevin yang sangat dicintainya? Yuk, kita cari tahu sama- sama.
Review :
Lee, vokalis band L_A_S tengah dihadapi masalah. Dua sekaligus. Pertama, masalah pekerjaannya. Dona, adik Lee, meminta agar L_A_S dapat tampil di acara pentas seni sekolah Dona yang diadakan di Puncak. Namun jadwal manggung L_A_S sudah ada saat itu. Maka Lee berusaha untuk meyakinkan Shinta, anggota band L_A_S yang berperan sebagai vokalis, bahwa acara manggung mereka tidak akan terganggu. Perdebatan kerap timbul.
Kedua, masalah percintaannya sendiri. Kevin, pacarnya, belakangan ini tampak aneh. Hubungan mereka terasa hambar dan Kevin juga tampak berubah. Tidak ada lagi perhatian seperti Kevin yang dulu. Hal ini membuat Lee tidak tenang. Ia takut Kevin akan berpaling ke lain hati.
Untung ada Abo, sang gitaris. Ia juga berusaha membujuk Shinta untuk mengganti jadwal manggung L_A_S agar mereka dapat tampil di acara sekolah Dona. Ia juga lah yang menghibur Lee. Namun ada sesuatu yang dirahasiakan Abo. Suatu hari, saat Lee sedang resah, gadis itu berjalan hingga sampai ke rumah yang disewa sebagai tempat latihan dan kumpul- kumpul anggota L_A_S. Saat itulah Lee menemukan bahwa Abo dulunya pernah menggunakan narkoba. Sudah dua tahun belakangan ini cowok itu berusaha untuk tidak memakainya lagi. Tapi akibatnya seperti ini. Ketika keinginan itu timbul, Abo akan merasa kesakitan.
Sebagai sahabat, Lee merasa ia harus membantu Abo. Dan Tuhan menunjukkan jalan pada mereka. Namun ada yang mengetahui kondisi Abo. Apakah hal ini akan mempengaruhi nama baik band mereka yang tengah popular? Bagaimana Lee menghadapi ketakutan akan kehilangan Kevin?
Saat membaca novel ini, saya agak terganggu dengan gaya penulisannya. Bahasa yang digunakan tidak baku. Awalnya saya mengira hanya di bagian depan saja, ternyata hingga akhir pun begitu. Selain itu, bagian page numbernya. Di samping nomor halaman, berhubung ini edisi revisi, masih ditulis judul lama, ‘The Band of Love’. Menurut saya, sebaiknya sih pakai judul yang baru.

Sebenarnya jalan ceritanya lumayan bagus kalau mau dikembangkan lagi. Saya suka cara Mbak Jullis menghubungkan cerita antara satu bab dengan bab berikutnya ataupun satu bagian dengan bagian lainnya. Semuanya terasa nyambung dan tidak kaku. Isinya juga ringan. Hanya saja, ya, kebetulan saya ini penikmat novel dengan bahasa yang sederhana. Jadi  yah, hanya masalah selera saja.

Rabu, 13 Februari 2013

The Hunger Games - Suzanne Collins



Judul               : The Hunger Games

Pengarang    : Suzanne Collins

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 408 halaman




Sinopsis :

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri Negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing- masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televise The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.
Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Review :

Setiap tahun, di setiap distrik, anak- anak yang telah memenuhi persyaratan memasukkan nama mereka ke dalam undian yang akan dipilih pada hari pemungutan. Hari penuh ketegangan itu pun tiba. Kedua kakak beradik di distrik 12, Prim dan Katniss berpakaian cantik namun hati mereka sesungguhnya takut. Terpilih berarti selangkah lebih dekat menuju kematian. Dan benar saja, kertas berisi nama Primrose Everdeen terambil saat pengundian. Melihat Prim yang masih kecil, Katniss segera mengajukan diri menjadi sukarelawan. Peserta pria pun dipilih. Nama Peeta Mellark keluar sebagai peserta pria yang mewakili distrik 12.

Segera mereka diberangkatkan ke Capitol. Mereka punya satu mentor, Haymitch namanya. Pria itu pernah menjadi pemenang The Hunger Games. Tapi itu sudah lama sekali. Kini hari- harinya dilewati dengan mabuk- mabukkan. Haymitch, bagi mereka, Katniss dan Peeta, tidak banyak membantu. Namun ada saran penting yang mereka dapatkan darinya.

Katniss dan Peeta menikmati kehidupan mewah sepanjang perjalanan menuju Capitol. Makanan mereka lebih dari cukup. Mereka juga ‘disulap’ habis- habisan. Kemunculan Katniss dan Peeta membuat para penonton terkagum. Katniss, si gadis api, dengan gaun hasil rancangan Cinna, yang kelihatan sedang membakar Katniss, dan Peeta, si lover boy, yang mengaku jatuh cinta pada Katniss.

Sesi wawancara dan pelatihan singkat telah mereka lalui. Saatnya memulai pertarungan. Berkat kebiasaan Katniss yang sering berburu bersama Gale, sahabat Katniss, gadis itu dapat bertahan hidup. Untuk sementara ini ia tidak perlu membunuh. Sedangkan Peeta, ia bergabung bersama peserta Karier. Tim Karier terdiri dari beberapa anak dari beberapa distrik yang bergabung. Mereka biasa memiliki persediaan makanan yang cukup dan sponsor mereka pun bagus.

Di Hunger Games, membentuk sekutu tidak banyak membantu karena toh akhirnya kalian harus 'melenyapkan' sekutu kalian.

Katniss tidur di atas pohon setiap malamnya. Ia sudah terlatih untuk memanjat pohon. Jadi ia dapat mengawasi apa yang terjadi di bawahnya dan ia jauh lebih aman saat berada di atas pohon.

Hingga suatu hari kawanan Karier itu tiba. Katniss kaget melihat Peeta. Dugaannya benar. Peeta hanya berpura- pura mencintainya. Kini pria itu malah mengkhianatinya.
Meski demikian, Katniss tidak sendiri. Ada peserta cilik dari distrik 11 yang menolongnya. Dia Rue. Rue memberitahu Katniss bahwa ada sarang tawon penjejak di atasnya. Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan oleh Katniss melawan peserta Karier. 

Sejak saat itu, pertemanan Katniss dan Rue terjalin. Tidak ada ancaman dari Rue. Mereka berdua saling berbagi, baik pengetahuan maupun makanan, mengabaikan keadaan bahwa keduanya tidak mungkin selamat bersama.

Satu demi satu peserta tewas. Pertarungan semakin sengit. Akankah mereka yang tersisa mampu bertahan? Bagaimana perjalanan Katniss dengan Rue? Apa maksud dibalik pengkhianatan Peeta? Baca dan ikuti petualangan seru ini di The Hunger Games.

Benar- benar cerita yang mendebarkan. Meski sempat terhenti beberapa minggu bacanya, tapi kesan serunya tetap berasa. Mungkin karena saya sudah nonton filmnya duluan ya. Memang nggak salah kalau novel ini difilmkan. Ide ceritanya unik tapi sadis ya. Bayangkan, tidak ada acara kasihan kasihan disini. Tidak semuanya dapat selamat. Hanya satu. Wuiihh..

Salut deh sama pengarangnya. Alurnya pas. Settingnya pun oke. Seperti biasa, membaca novel akan terasa berbeda. Dalam novel, ceritanya lebih lengkap ketimbang di film. Biasanya saya lebih senang kalau membaca novelnya dulu. Tapi buat THG, nonton filmnya dulu jauh lebih oke. Pembaca jadi tidak kesulitan membayangkan seperti apa arena pertarungan dan suasana di sana. Tidak sabar untuk menonton dan membaca Catching Fire. Recommended dah :D

Berhubung sudah difilmkan, saat membaca novel ini, teman- teman bisa membayangkan seperti apa sosok mereka. Ini dia :

Katniss Everdeen (sumber gambar di sini )

 Peeta Mellark (sumber gambar di sini )

Rue (sumber gambar di sini )


Cornucopia ( sumber gambar di sini )


Haymitch (sumber gambar di sini )

suasana di Cornucopia, para peserta bersiap memulai acara ( sumber gambar di sini )



Enjoy J

Minggu, 10 Februari 2013

Happy New Year


Hari ini merupakan hari pertama (che it) menurut penanggalan lunar. Saya mau ngucapin Gong Xi Fa Cai bagi teman- teman yang merayakan Imlek. Semoga di tahun ular ini segalanya bisa berjalan mulus dan lebih baik. Lembaran baru siap dimulai ! *semangat 45*
sumber gambar disini
Senangnya memasuki tahun yang baru karena rak buku saya juga bakalan ‘disulap’ menjadi baru. Yeeii :D Maka mulailah saya membeli perlengkapan- perlengkapan untuk membuat rak buku ini. Jadi nggak sabar untuk ngeluarin novel- novel saya dari dalam kardus dan menyusunnya kembali.

Dan yang paling ditunggu- tunggu ialah main ke toko buku *sebulan nggak pergi berasa setahun* secara udah sebulan belakangan ini sibuk UAS, mumpung dapat jatah libur mesti diisi dengan acara hunting  novel apalagi banyak novel yang baru terbit yang bikin ngiler.

Soal baca novel, bulan kemarin saya hanya mampu membuat satu postingan tentang novel yang saya baca. Baru kemarin namatin The Hunger Games buku satu yang sudah entah berapa lama menghuni tas saya. Review nya segera menyusul. Okedeh, sekarang saatnya membaca lanjutan The Hunger Games, Catching Fire. Selamat berlibur dan selamat merayakan Imlek bagi teman- teman yang merayakan J