Daftar Review

Tampilkan postingan dengan label Prancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prancis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2014

Éclair - Prisca Primasari



Judul               : Éclair, Pagi Terakhir di Rusia

Pengarang      : Prisca Primasari

Penerbit         : GagasMedia

Tebal              : 236 halaman



Sinopsis :

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung- burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon – berbagi éclair, ditemani matahari dan angin sepoi- sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari- jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh – selamanya.

Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari- hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu- buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.

Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat- kuat karena air mata yang menderas. “Aku masih di sini,” bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar- benar tiada?
Review :
“Tidak ada yang namanya bahagia selamanya,”
“Tapi Sergei Valentinich berjanji ia tidak akan tertarik pada wanita lain.” (hal. 118)

Di tengah persiapan pernikahan Sergei Valentinich Snegov dan Ekaterina ‘Katya’ Fyodorovna, kondisi adik Sergei, Stepan ‘Stepanych’ Valentinich Snegov, memburuk. Dalam sakitnya, ia selalu menggumamkan nama kedua sahabatnya yang kini jauh dan tidak lagi dapat ia jangkau. Kedua sahabatnya ialah kakak beradik, Kay Nikolai Olivier dan Lhiver Olivier. Katya yang sangat khawatir akan kondisi Stepanych segera menyusun rencana untuk menemui Kay dan Lhiver, membujuk mereka untuk menjenguk Stepanych, meski itu sangat sulit mengingat hubungan mereka berlima tidak lagi baik.

Apa penyebabnya?

Kesalahpahaman dan ketidakrelaan. Kebakaran – yang direncanakan- itu telah merenggut nyawa orangtua Lhiver dan anak angkatnya. Lhiver saat itu sedang mengajar. Kay dan Stepanych sedang berbelanja keperluan untuk membuat kue. Sekembalinya mereka, rumah sudah terbakar. Lhiver yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang- orang yang dicintainya telah pergi menyalahkan kedatangan Stepanych hari itu ke rumahnya.

“Tetapi kematian tidak akan pernah menyerah sekalipun kau berusaha untuk menghindar ke sudut dunia yang paling rahasia. Takdir itu akan tetap menjelang, dan berdiri pun akan percuma. Bila takdir gagal merenggutmu lewat pintu, ia akan masuk lewat jendela, menyelinap lewat celah, bahkan menembus pertahanan yang paling kokoh dan tangguh. Ini adalah kenyataan yang senantiasa berlangsung di alam semesta.” (hal. 106 – kata Fuyu, murid Lhiver, saat ia dan Lhiver berbicara tentang sebuah cerita berjudul The Appointment in Samara versi W. Somerset Maugham)

Setelah tragedi itu, Lhiver membenci semuanya, termasuk Kay, kakaknya sendiri. Ia menjauhkan diri dari keempat sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri. Ia bahkan pindah ke Surabaya. Di sana ia menjadi dosen. Sedangkan Kay berpindah- pindah tempat, membidik objek- objek menarik melalui lensa kameranya. Ia bertemu dengan belahan jiwanya dan memutuskan untuk menetap di New York meski ia sangat merindukan kampung halamannya.

“Kadang…,” kata Kay lirih. “Masa lalu memang lebih indah dari masa sekarang. Dan bila ada hal yang membahagiakan sekaligus menyedihkan untuk dipikirkan, itu adalah masa lalu yang indah…. Seandainya masa lalu itu akan terus menjadi masa kini.” (hal. 224)

Stepanych yang sangat terpukul dan merasa bersalah melampiaskannya pada alkohol yang menyebabkan penyakitnya semakin parah. Stepanych yang ceria dan lembut kini sudah tidak ada. Stepanych yang sekarang adalah Stepanych yang tidak berdaya, kosong, dan terkungkung dalam rasa bersalah.

Ia akan berpisah dengan kakak dan sahabat- sahabatnya. Untuk pertama kalinya ia membenci dirinya sendiri, karena sudah terlalu mencintai kehidupan ini….(hal. 131)

Katya menjadi tidak suka makan éclair. Sebelum peristiwa yang mengubah kehidupan mereka, Stepanych adalah seorang pembuat kue yang terkenal. Kue- kue buatannya sangat enak dan ia sering membuatkan éclair untuk sahabat- sahabatnya.

“Apa yang kau bayangkan ketika memasak, Stepanych?” (hal. 124)
“Kalian berempat,” ujarnya tulus. (hal. 125)

Dan Sergei mencoba untuk selalu tetap tegar padahal hatinya sangat sedih melihat kondisi adiknya dan juga persahabatan mereka yang seperti ini. Namun tidak ada keluhan yang terucap dari mulutnya. Katya cemas tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa- apa.


Saat itu… Katya ingin sekali berubah menjadi piano. Paling tidak piano bisa menampung semua yang dirasakan Seryozha. (hal. 201)

Kini, usaha Katya menjadi satu- satunya harapan bagi mereka. Jika ia berhasil untuk mempertemukan Stepanych dengan Kay dan Lhiver, keadaan mungkin akan berubah menjadi lebih baik. Mampukah Katya menyelesaikan misinya? Ikuti kisah mengharukan ini dalam Éclair, Pagi Terakhir di Rusia.

setelah kepahitan pekat ini, rasa manis pasti akan menjelang. (hal. 164)

“Bagi kami, sahabat adalah seseorang yang bersedia untuk bersuka cita dan berduka bersama,” kata Stepanych tersenyum. “Kami tidak ingin menjadi sahabatmu di kala senang saja.” (hal. 192)


Antara rela dan tidak saat menamatkan bacaan ini. Tidak berat. Ceritanya cukup menghanyutkan menurut saya. Karena alurnya adalah alur maju mundur, jadi kepingan- kepingan cerita tersambung secara perlahan sehingga saat membaca novel ini, muncul pertanyaan mengapa seperti ini? Yah, ternyata seperti ini. Kira- kira begitulah. Seperti biasa, entah mengapa saat membaca novel karangan Mbak Prisca yang bersetting di Eropa selalu menimbulkan kesan klasik. Bayangan saya mengenai tokohnya selalu tertuju pada pria- pria bersetelan jas panjang dan wanita- wanita dengan gaun anggun yang menggembung di bagian bawahnya. Saat menyinggung soal email baru lah saya kembali ingat kalau ini bukan cerita era klasik. Tapi rasanya klasik banget. Mungkin karena didukung dengan adanya kalimat- kalimat berbau musik dan penulis yang bertebaran.

Stepanych sukses membuat saya menyukai dia. Bahkan tetangganya, Vasilissa, yang tertutup bisa berubah dan menemukan kembali semangat hidupnya karena Stepanych. Ia adalah pria yang hangat dan penuh perhatian. Jadi ikut sedih saat melihat ehh..membaca kondisinya yang berubah drastis.

Semuanya saya suka, kecuali epilognya. Tidak secetar bagian depannya. Padahal saya berharap ada sedikit kejutan di epilog. Tapi ternyata oh ternyata…. *lebaynya kumat*

Itu saja sih menurut saya. Recommended deh novel ini. Suasana yang diciptakan pas dan penyampaian pergantian alurnya cukup jelas karena diberi keterangan dan dibold jadi pasti kelihatan. Untuk ukuran konfliknya, novel ini tidak terlalu tebal. Salut dengan pengarang yang mampu untuk mendeskripsikan permasalahan dalam cerita tanpa harus berbelit- belit.

Okelah, saya tidak bisa review banyak. Masih terhanyut suasananya saja meski sudah selesai ceritanya saya baca berhari- hari yang lalu. Empat bintang (sebenarnya lima karena minus di epilog) buat Éclair. Selamat membaca J

Rabu, 20 Maret 2013

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa - Prisca Primasari




Judul               : Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Pengarang      : Prisca Primasari
Penerbit          : Gagasmedia
Tebal              : 292 halaman
Vinter
Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin….
Florence
Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri….
Review :
Kaki Florence terus membawanya sejauh yang ia bisa. Ia tengah kabur dari acara perjodohan oleh kedua orangtuanya. Florence tidak setuju. Jadilah ia duduk di kereta menuju Honfleur. Seakan ikut mengejeknya, tas yang ia bawa serta dalam perjalanan, ikutan rusak. Barang- barangnya terpaksa ia tampung dengan kedua tangannya.
Saat berada di kereta, seorang pria yang tampak gusar meminta izin Florence agar dapat duduk di sana, bersama wanita itu. Florence tentu mengizinkannya. Ia jadi punya teman perjalanan. Dilihatnya pria itu membawa sebuah tas yang ternyata adalah hadiah dari pria itu untuk –mungkin- kekasihnya. Mengetahui keadaan Florence, pria itu memberikan tasnya untuk Florence. Florence sangat berterima kasih.

Aku hanya berpikir dia berbeda dengan semua orang yang pernah kau kenal.
Dia memang penyendiri, tapi aku bisa merasakan kebaikannya.
Dia agak kelam, kau ceria. Kupikir kau bisa melengkapinya.
Aku semakin yakin dia adalah orang yang tepat untukmu, ketika aku sadar bahwa aku tidak hanya memikirkan kebahagiaanmu. Tapi, juga kebahagiaannya--Hal . 232

Vinter, nama pria itu, tengah bermasalah dengan kelompok seniman yang tiba- tiba membatalkan acara mereka untuk tampil di kediaman teman Vinter. Padahal acaranya hari ini. Sebagai balas budi atas kebaikan Vinter, Florence membantu pria yang sedang gelisah itu. Ia yang akan menggantikan kelompok seniman itu. Awalnya Vinter ragu, tetapi Florence meyakinkannya bahwa ia mampu, secara Florence adalah guru les biola dan ia jago dalam bidang kesenian.
]
Hasilnya sungguh mengagumkan. Florence sangat lihai, membacakan puisi, bernyanyi, memainkan piano. Semuanya ia lakukan sendiri. Baik Zina, teman Vinter, para pelayannya, dan Vinter, terkagum- kagum atas pertunjukan yang ditampilkan Florence. Namun Zima tidak menunjukkannya. Hingga saat Florence meminta waktu untuk mempersiapkan drama, Zima menolaknya. Ia tidak suka seperti itu. Ia pun mengusir Florence. Bahkan ia tidak membayar Florence sepeser pun.
Usai pertunjukkan itu, Florence sudah bebas dari tugasnya. Vinter berterimakasih pada wanita itu dan mereka akan menjalani kehidupan masing- masing seperti semula. Namun Florence merasa aneh. Ia belum siap untuk kehilangan pria itu. Maka, dengan segala upaya, Florence kembali mencari Vinter. Meski harus berhadapan langsung dengan Zima yang galak dan sudah pasti tidak menyukainya.

“Bagaimana aku bisa hidup?” Zima terkikik. “Dengan memberi,” jawabnya kemudian. Zima di hal. 276.
Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri, Zima di hal. 277

Mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Perlahan, Florence mulai mengenal siapa Vinter sebenarnya. Mengapa Vinter selalu terkesan menutup diri, mengapa kesepian selalu menjadi teman baiknya, dan berbagai jawaban atas ‘mengapa- mengapa’ yang lainnya. Semakin mengenal Vinter, Florence semakin tidak dapat melepaskan pria itu.

Dia membutuhkan seseorang untuk membuat dirinya cerah. Dan tegar.
Dan aku merasa bisa melakukannya….
Walaupun aku sendiri juga sangat rapuh. Tetapi tidak lebih gelap dibandingkan dirinya…. Florence di hal. 210

Saat kembali ke Paris, wanita itu menjadi tidak bersemangat. Jiwanya hilang setengah. Ketika kesempatan itu tiba, saat Vinter mengadakan pameran di Paris, akankah takdir mempertemukan mereka?
Perasaan yang muncul ketika karyamu dikagumi orang, sungguh tak tergambarkan.
Setelah selesai membaca Paris : Aline (klik judul untuk melihat reviewnya), saya langsung membaca novel Mbak Prisca yang satu ini. Dan saya tidak kecewa, malah sangat menyukai novel ini. Novel dengan setting Paris (lagi) dan Honfleur berhasil memunculkan kesan yang berbeda dari novel- novel pengarang lokal lainnya. Seperti novel sebelumnya, Mbak Prisca menuliskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Suasananya memunculkan kesan klasik tapi tidak bikin bosan, saya suka sekali. Banyak istilah seni yang muncul dalam novel ini, jenis musik dan lukisan. Penulis tampak menguasai sekali semua detil seninya. Saya sempat berpikir kalau kisah mereka ini terjadi sudah lama sekali. Saat kata ‘ponsel’ muncul dalam kalimat, baru deh saya ngeh.
Ceritanya mengalir begitu saja, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Takarannya pas. Bahkan setelah novel ini selesai saya baca berminggu- minggu yang lalu, saya masih dapat membayangkan potongan- potongan kisah Vinter- Florence saat saya menuliskan nama mereka. Uniknya juga, kisah hidup Vinter sebelum bertemu Florence dibahas setelah cerita berakhir. Jadi, bagi pembaca yang sudah terlanjur  jatuh cinta sama Vinter bisa mengetahui tentang dia di bagian paling akhir.


Sungguh novel yang bagus. Romantis dan quote-quotenya juga oke, bikin melting lagi. Recommended deh bagi pecinta novel roman.