Daftar Review

Jumat, 13 Desember 2013

Giveaway Berhadiah Sebuah Novel Restart (Nina Ardianti)

Restart menjadi salah satu novel yang lumayan heboh di Twitter saat baru diterbitkan. Rekomendasi dari teman- teman yang sudah baca juga bagus. Saya juga salah satu yang termasuk ingin membacanya, tapi malah sering kelupaan pas belanja novel. Hi hi..

Dan......taraaaaa.......
Kebetulan sekali, ada giveaway yang diadakan oleh salah satu blogger, Mas Biondy. Kesempatan tidak boleh dilewatkan. Sayangnya saya baru tahu hari ini suadara- saudara.. *ketahuan jarang eksis :p* Tapi nggak apa- apa deh, kalo memang jodoh, pasti dapet kok. He he..

Cara untuk mengikuti GA ini bisa langsung diintip ke blognya di sini. Bagi yang pengen ikutan, masih sempat kok. GA berlangsung hingga 15 Desember 2013. Buruan yuk sebelum ditutup!
Selamat mengikuti J


Rabu, 04 Desember 2013

High School Paradise - Orizuka

Judul               : High School Paradise – Surganya Anak SMA
Pengarang      : Orizuka
Penerbit         : Puspa Populer
Tebal              : 216 halaman

Sinopsis :
SMA Athens memang sekolah elite. Tapi, masih ada satu yang kurang. Athens nggak punya ekskul sepakbola. Ini yang membuat Lando, Rama, Sid, dan Cokie selama dua tahun selalu datang terlambat. Empat siswa paling top dan keren di Athens itu protes. Yang diprotes, siapa lagi kalo bukan guru olahraga mereka yang terkenal galak, Godzilla, eh, Gozali sebenarnya. Berhasil? Ternyata tidak. Hukuman Gozali malah semakin berat dari hari ke hari dan benar- benar membuat mereka harus tebal muka. Belum lagi mereka punya satu tugas, yaitu menyelamatkan Julia agar bisa masuk kelas khusus. Berhasilkah mereka mendirikan ekskul sepakbola dan menyelamatkan Julia? Langsung saja baca cerita lengkapnya.

Review :
Setelah penasaran abis dengan seri pertama dan kedua HSP (seri ketiganya sudah duluan dibaca dan direview), akhirnya nemu juga novel ini. Buku pertama lebih menceritakan perjuangan perjuangan Sid dan kawan- kawan dalam mengupayakan terbentuknya ekskul bola yang selalu ditentang oleh Gozali, guru olahraga mereka. Sebagai bentuk protes pada pihak sekolah (tepatnya Gozali), keempat anak ini sengaja datang terlambat setiap hari. Mereka rela dihukum oleh Gozali setiap pagi agar keinginan mereka didengar.

“Tidak akan. Kalian lah yang akhirnya akan capek dan menyadari kalau kalian cuma sekelompok anak- anak bodoh.” (Gozali di hal. 20 )

Namun Gozali tampaknya menyukai permainan ini. Hukuman yang diberikannya semakin bervariasi dan tidak ada tanda- tanda ia akan mengizinkan anak- anak untuk membentuk ekskul bola. Hal ini membuat Sid dan teman- temannya semakin membenci Gozali. Bahkan Rama sudah berdiskusi dengan tantenya yang adalah kepala sekolah Athens agar ekskul bola boleh dibentuk. Namun kepala sekolah menghargai apa yang diputuskan oleh Gozali. dan keempat anak itu tidak akan menyerah. Mereka semakin bersemangat untuk membuat Gozali naik darah setiap paginya.

“Kalau begitu, Bapak sepertinya harus menyiapkan energi ekstra,” kata Lando, membuat Gozali menatapnya. “Sepertinya kami bakal terus terlambat selama Bapak belum mengizinkan kami membentuk ekskul bola.” (hal. 20)

Hingga suatu pagi mereka kedatangan ‘anggota’ baru. Sebenarnya ada dua, Julia dan Aida. Tapi karena Gozali tahu bahwa keterlambatan Aida bukan disengaja, cewek itu tidak dihukum. Lain hal dengan Julia yang sudah capek- capek mengarang alasan agar tidak dihukum, gadis itu malah ikut dihukum bersama keempat aset Athens itu. Jadilah mereka berenam (karena Aida ngotot ikut dihukum juga setelah Julia protes) disetrap di tengah lapangan basket hingga jam pelajaran pertama selesai.

Ternyata keterlambatan Julia menjadi rutinitas setiap pagi hingga akhirnya Gozali memutuskan untuk menyamakan hukuman Julia dan keempat temannya yang lain. Julia malah sering terlambat plus sering ketiduran di sela- sela hukuman. Cewek itu nampaknya kecapekan. Bahkan Julia ambruk saat hukuman lari dimulai. Ia mimisan dan korbannya adalah Sid, yang menyanggah Julia sebelum cewek itu akhirnya pingsan dan darahnya merembes mengenai seragam Sid. Meski Sid selalu beradu mulut dengan Julia, ia juga khawatir saat Julia drop. Terlebih saat ia mendengar pengakuan Julia yang berusaha mati- matian untuk pintar. Sid lalu menceritakan hal itu kepada teman- temannya dan mereka langsung didera oleh rasa penasaran mengapa Julia berusaha sekeras itu.

Keempat cowok itu kemudian tahu alasan Julia ngotot ingin pintar dan masuk kelas khusus. Ternyata ayah Julia bangkrut dan tidak bisa membiayai Julia untuk bersekolah di Athens. Sedangkan Julia sangat ingin menamatkan SMA nya disana. Untuk itulah Julia berusaha keras agar nilainya bisa mencukupi untuk masuk kelas khusus. Ia bahkan bekerja paruh waktu untuk mendapatkan biaya tambahan.

Tentu saja keempat anak itu tidak tinggal diam. Sid yang pertama mengetahui hal itu, langsung menawarkan Julia untuk bekerja di Hilarious, café milik Rama, yang langsung disetujui oleh Rama. Sambil bekerja disana, keempat cowok pemegang ranking pararel di Athens (inilah yang menjadi alasan mereka tidak dikeluarkan dari Athens) akan mengajari dan membantu Julia agar cewek itu bisa masuk kelas khusus.

“Jadi, semua orang udah repot buat proyek ini,” kata Sid dengan gaya sok. “Proyek lima orang jenius membantu satu orang idiot. Namanya Saving-Idiot-Julia.” (hal. 92)

Maka mereka berenam berlomba dengan waktu yang terbatas. Fokus untuk mendirikan ekskul – sementara – berganti menjadi fokus untuk mempertahankan Julia di Athens. Cokie, Lando, Rama, dan Sid, juga Aida tak lelah mengajari Julia.

“Kita boleh nyesel kalo belum usaha. Tapi, kita udah berusaha sebisa kita kan?” (Lando di hal. 187)

Apakah proyek penyelamatan Julia berhasil? Bagaimana dengan usaha keempat anak itu dalam mendirikan ekskul bola idaman mereka? Ikuti  kisah indah dan menggemaskan persahabatan mereka dalam High School Paradise.

Seperti biasa, saya suka dengan novel- novel karangan Mbak Ori. Yang ini juga. Kisah persahabatan empat cowok (plus dua cewek) yang berbeda sifat dan latar belakang ini dikemas dengan apik. Ceritanya ringan tapi tidak membosankan. Membaca HSP ini bisa buat saya ngakak sendirian di kamar. Bahasanya luwes dan ala remaja tapi tidak berlebihan dan tidak bikin capek bacanya.

Secara keseluruhan, novel ini oke dan bikin yang bacanya ikutan semangat. Recommended bagi pecinta novel (apalagi novel remaja). Selamat membaca :D

Minggu, 24 November 2013

Kopdar Perdana BBI-ers Medan

Halo semuanya! Setelah sekian lama nggak ngeblog karena malasnya kumat UTS dan ‘teman- temannya’, kali ini saya dimerdekakan sejenak sebelum mulai perang lagi (baca: nyusun skripsi). He..he..

Seperti judulnya, kali ini saya mau sharing tentang kopdar perdana saya bersama BBI-ers Medan. Sebenarnya ada 5 orang BBI-ers nya, tapi berhubung Mbak Evyta sedang berhalangan hadir karena sedang tidak fit ( get well soon Mbak dan adiknya juga ya ) , jadilah kami berempat. Mengutip salah satu status BBM Mbak Putri yang isinya : “mengumpulkan 5 orang yang berbeda jadwalnya itu susah” memang benar sekali. Setelah berkali- kali direncanakan dan dikonfirmasi tapi tertunda terus, akhirnya, pada 10 November 2013, di hari bersejarah ini *uuggh*, kopdar perdana ini bisa terlaksana juga. Semoga di kopdar kedua, bisa lengkap ya pasukannya ^^

Sehari sebelum kopdar (yang sebenarnya saya sudah lupa..wkwk..*minta dikeplak*) Mbak Putri mengonfirmasi bahwa kopdar bersama BBI-ers Medan jadi diadakan besok. Saya yang sudah janji (waktu mengiyakan bisa, saya juga lupa kalau minggu depannya UTS *maklum pikun akut*) tak enak hati untuk menolak. Sekalian juga pengen kenal anggota- anggota yang lain. Maka, keesokan siangnya, berangkatlah saya menuju Sun Plaza tempat janjian bareng BBI-ers Medan.

Rupanya Mbak Putri sudah tiba duluan di sana. Mengira kalau Mbak Putri mengenakan kaos BBI, saya perhatikan pengunjung satu per satu di rak novel. Tapi kok nggak ketemu ya? Mana BBM belum dibalas. Sebenarnya saya melihat seseorang yang saya yakin itu Mbak Putri, dia sedang melihat- lihat novel di rak, tapi saya nggak berani manggil, takut salah orang. He he.. Baru setelah dibalas, saya celingak- celinguk lagi mencari sosok dengan ciri- ciri yang dituliskan. Eh, ternyata benar itu Mbak Putrinya. *sorak-sorak bergembira*  \^ ^/

Perkenalan dimulai. Sambil menunggu anggota lain tiba, saya dan Mbak Putri ngobrol- ngobrol ringan seputar buku dan tentang kami. Ternyata rumah Mbak Putri tidak terlalu jauh dari rumah saya. Naik angkot sekali, nyampe dah. He he..

Tak lama kemudian, datanglah ci Ocemei. Obrolan dilanjutkan sembari menunggu satu lagi anggota, yaitu Mbak Lilis. Yang dibahas, tentu saja masih seputaran buku dan novel. Mungkin karena kami bertiga berkerumun, plus saya dan ci Ocemei mengenakan kaos BBI yang sama, jadinya tidak sulit bagi Mbak Lilis untuk menemukan kami.

Ini berarti peserta kopdar sudah lengkap. Next, what to do? Nyari kafe buat santai sekaligus makan siang. Waktu itu kalau tidak salah pukul 13:00 , kafe- kafe pada dipadati oleh pengunjung. Setelah melihat- lihat, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke Vinta café, menjadikan café remang- remang itu sebagai markas kami.

Seperti pelanggan kebanyakan, kami memesan makanan dan minuman dulu, baru lanjut mengobrol. Di sini ngobrolnya lebih leluasa, tidak capek berdiri, dan tentu saja bisa sambil makan dan minum.  Topik obrolan dimulai dari perkenalan anggota. Saat tanya jawab mengenai usia, eheeemm, sempat terjadi ketegangan *halaahh* antara kubu dewasa dan kubu setengah dewasa *apaan tuh?* *lirik Mbak Putri* Tapi betul sekali, disini kami tidak pandang usia, yang penting semangatnya saudara- saudara. Dan ngobrol bareng Mbak Putri dan BBI-ers yang lain seru- seruan saja. Mbak Putri juga berbagi pengalamannya selama bertugas di Indonesia Timur (Halmahera ya kalau tidak salah, Mbak) dimulai dari perbedaan kosakatanya dan cara penggunaan kata yang berbeda yang menimbulkan salah tafsir. Juga Mbak Lilis yang (ternyata) adalah salah satu dari sejuta penggemar C.N. Blue.

Kami juga sempat membahas mengenai salah satu pengarang lokal yang kini menetap di luar negeri dan novelnya yang kontroversial. Jadi gregetan sendiri kalau kepikiran sama pengarangnya. Obrolan berlanjut ke cerita tentang buku dan novel yang lain akhirnya ngalor- ngidul ke acara yang sedang tayang di stasiun tv.

Sayangnya, saat waktu sudah menunjukkan sekira pukul 14:00, saya harus cabut. Pasalnya telepon dari adik saya (yang mengantar saya) sudah berdering, juga karena masih harus belajar buat UTS. Tinggallah mereka bertiga. Sebelum pulang, kami foto bareng, dan hanya inilah dokumentasi yang kami punya. Kopdar selanjutnya harus lebih heboh lagi ya. He he ^ ^
Mbak Lilis (kiri depan), saya (kiri belakang), Mbak Putri (kanan belakang), dan ci Ocemei (kanan depan)

Saya pribadi sangat menyukai acara kopdar ini. Melalui kopdar kali ini, saya jadi tahu dan bisa mengenal blogger- blogger buku yang ada di Medan. Meski tidak terlalu ‘wah’, yang penting saling mengenal lebih dulu. Justru kesederhanaan ini akan memunculkan keinginan kami untuk bisa melalukan gathering yang lebih berwarna lagi ke depannya. Ditunggu kopdar keduanya ya :D

Selasa, 05 November 2013

November Blast : Banjir Giveaway

Hai teman- teman. Kabar baik bagi pecinta buntelan pere alias gratisan. Bulan ini banyak giveaway berhadiah baik novel ataupun voucher belanja. Tidak tanggung, dua puluh – ya 20 – blogger tergabung dalam giveaway hop kali ini. jadi, saya mau ngucapin dulu terima kasih sudah mengadakan acra berbagi ini, dan juga selamat ulang tahun bagi para blogger dan blognya ^^

Dan hadiahnya utamanya itu yang bikin ngiler ….. voucher belanja buku sebesar Rp 500.000,- Bagi teman- teman yang belum ikutan, yuk ! GA ini berlangsung selama satu bulan (November) dan pengumuman pemenangnya bakalan dipos secara serentak pada 10 Desember. Jadi masih sempat dong untuk ikutan. Salah satu blogger yang ikut meramaikan even ini adalah kubikelromance. Jadi teman- teman bisa berkunjung ke blog Mbak Sulis dulu, baru melanjutkan ke 19 blog lainnya.


Buruan ya teman- teman, sebelum kelewatan. Siapa tahu kamu salah satu di antara para peserta yang beruntung. Selamat berjuang !

Minggu, 20 Oktober 2013

Tears in Heaven - Angelia Caroline

Judul               : Tears in Heaven
Pengarang      : Angelia Caroline
Penerbit         : Gagasmedia
Tebal              : 346 halaman

Sinopsis :
Aku akan merindukanmu.
Tak  sedetik pun hatiku luput dari denyut perih karena kehilanganmu.
Kau tinggal terlalu sebentar, pergi terlalu cepat. Seperti rahasia Ilahi lainnya yang tak benar- benar kumengerti, terkadang aku bertanya- tanya mengapa Tuhan hanya memberi watu sedikit untuk kita. Tapi aku tidak menyesalinya. Karena sejak awal pun aku tak pernah berusaha menghindari kebersamaan kita.

Aku akan merindukanmu.
Dan aku tahu, mulai hari ini, perasaan ini akan senantiasa menyiksaku. Tapi tak apa, sungguh tak apa. Sakitnya masih tak seberapa…ketimbang harus melupakanmu.

Review :
Nathan harus meninggalkan Bali saat ia disarankan oleh dokter disana untuk diperiksa si bagian onkologi (pengobatan kanker). Julia, ibunya, segera menghubungi Anthony, ayah Nathan yang adalah seorang dokter onkologi di Jakarta. Nathan tidak tahu bagaimana hidupnya sekarang.

Tinggal bersama ayah dan ibu tiri serta adik tirinya kedengarannya bukan ide bagus. Lidya,ibu tiri Nathan, sangat memperhatikan Nathan namun ia tidak peduli. Siapa yang akan rela kalau ayahnya lebih memilih wanita baru dan meninggalkan keluarganya? Nathan tidak mau capek- capek untuk bersikap manis terhadap Lidya.

Di sekolah barunya, Nathan harus meninggalkan ekskul favoritnya. Ia tidak dianjurkan oleh kepala sekolah untuk bermain basket agar tidak kelelahan. Ternyata kehidupan barunya di Jakarta tidak buruk- buruk amat setelah ia bertemu dengan tiga orang yang menjadi sahabatnya. Marvin, Brian, dan Tania. Mereka juga tidak meninggalkan Nathan saat akhirnya mereka tahu penyakit yang diderita Nathan.

Selain sahabatnya, ada satu siswi yang menarik perhatian Nathan, Kayla. Ia yang membantu Nathan saat cowok itu menanyakan lokasi kelas. Nathan bertemu lagi dengannya saat Nathan diusir keluar oleh guru Sejarahnya karena ia terus- terusan melihat ke luar. Ternyata cewek itu masih duduk di koridor sambil membaca buku.

Saat- saat bersama Nathan seperti ini selalu membuat hatinya terasa bahagia. (hal. 168)

Bersama Kayla, Nathan merasakan ada sesuatu yang berbeda saat ia tengah bersama ahabat- sahabatnya. Kayla bukan gadis biasa. Ia terasa begitu memahami Nathan. Bahkan ia tidak berkomentar banyak saat melihat obat- obatan Nathan yang jatuh karena ia sudah tahu itu obat untuk penderita leukemia. Kayla begitu pengertian. Ia yang menemani Nathan menghabiskan waktu di kamar cowok itu saat Nathan sedang tidak masuk sekolah pasca kemoterapi yang dijalaninya. Kayla juga yang menyemangati Nathan saat cowok itu sudah menyerah pada penyakitnya.

Tiba- tiba Kayla merasakan matanya sendiri menghangat. Semua ini terasa terlalu singkat, sesingkat embun pagi yang hilang seiring naiknya matahari. (hal. 188)

Berbeda dengan Nathan yang tidak menyukai Tara, adik tirinya, Kayla sangat akrab dengan Tara.  Melihat hubungan yang tidak mengenakkan ini, Tara bertekad untuk membantu memperbaiki hubungan Nathan dengan Tara.

Usaha Kayla tidak sia- sia. Kini Nathan tidak lagi membenci Tara. Perlahan hubungan Nathan dengan ayah dan ibu tirinya juga membaik. Sayangnya Kayla tidak pernah mengunjungi Nathan lagi. Padahal Nathan sangat merindukannya. Berbagai momen telah mereka lewati bersama.

Mengapa Kayla tiba- tiba menjauhi Nathan? Ada rahasia apa yang tidak diketahui Nathan? Ikuti yuk kisah dua remaja ini dalam Tears in Heaven.


Sebagai pendatang baru dalam dunia novel, saya mengakui ini debut yang oke banget dari Angelia. Ceritanya mengharukan sekali dan twist nya oke punya. Tidak sampai membuat saya menangis, memang, tapi cukup untuk membuat trenyuh sejenak saat sampai di bagian itu *sensor supaya tidak spoiler*.

Tokoh- tokohnya (menurut saya) juga terlihat alami. Jadi pas baca tidak merasa kaku sama karakter tokohnya. Hanya saja ada beberapa bagian yang terlalu panjang yang – saya rasa – tidak perlu sehingga sempat bosan sebentar. Untung ceritanya kembali lagi dengan pas, jadi kembali menikmati ceritanya.

Selain itu, deskripsi yang diulang- ulang. Misalnya saat penulis menjelaskan salah satu ciri khas Nathan yaitu bola matanya yang berwarna kelabu kebiruan. Di beberapa bagian, deskripsi itu ditemukan kembali sehingga terkesan diulang- ulang.

Selebihnya oke. Pas dengan selera teenlit saya. Empat bintang buat Tears in Heaven. Ditunggu ya karya selanjutnya J Novel ini saya rekomendasikan bagi teman- teman penyuka roman remaja. Selamat membaca J





Senin, 14 Oktober 2013

Tiga Venus - Clara Ng

Judul               : Tiga Venus
Pengarang      : Clara Ng
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 296 halaman

Sinopsis :
What does it take to be a woman?

Tiga perempuan : Juli, Emily, Lies.
Tiga status : ibu rumah tangga, lajang, janda.
Tiga hari superburuk.
Tiga keinginan dalam hati.

Apa yang terjadi selanjutnya ketika alam semesta mengabulkan kehendak mereka, menukar jiwa di tubuh yang berbeda, Juli menjadi Lies, Lies menjadi Emily, dan Emily menjadi Juli?
Lucu, haru, dan feminin.
Dan di atas itu semua, pernahkah kau sungguh- sungguh ingin tahu bagaimana rasanya menjalani hidup orang lain?

Review :
Tiga wanita yang mengeluhkan kehidupan mereka dijawab oleh alam. Mereka tidak lagi menghadapi hidup mereka tetapi kehidupan mereka dalam tubuh yang lain.

Juli adalah ibu rumah tangga merangkap pengusaha catering dengan anak- anaknya yang masih kecil- kecil, mertua yang bawel, dan seolah belum  cukup ribetnya, ia malah hamil lagi.

Lies adalah guru SMA dengan masa lalu kelam, yang tengah menghadapi problema seorang murid. Murid kesayangannya, Kim, hamil dan tengah kritis di rumah sakit karena melakukan aborsi.

Hidup Emily tidak kalah pusingnya. Ia tidak berencana menikah dan selalu fokus pada pekerjaannya.

Kesibukan- kesibukan mereka membuat mereka untuk mensyukuri hidup hingga suatu hari jiwa mereka berganti tubuh. Juli terdampar dalam tubuh Lies, Lies dalam tubuh Emily, dan Emily dalam tubuh Juli. Celaka! Bagaimana hidup mereka selanjutnya?

Mau tidak mau mereka harus berusaha untuk menjalankan peran baru mereka sebaik mungkin.

Emily yang selalu anti terhadap lelaki kini tiba- tiba bersuami (suaminya Juli sih) dan harus mengurus masakan untuk rantangan yang jelas- jelas bukan keahliannya. Belum lagi anak- anak kembarnya yang menimbulkan masalah.

“Maretta tidak perlu dihukum sendirian. Si raksasa jelek itu juga patut dihukum karena dia melecehkan orang lain. Oke, aku mengerti Maretta memang bersalah karena dia menyelesaikan masalah dengan tendangannya. Anak itu harus diajar untuk menegakkan kepala tinggi- tinggi ketika dihina, menahan keinginan sekuat- kuatnya untuk menghajar anak lain, jangan memasukkan apapun ke dalam hati, dan melawan provokasi dengan pemikiran yang positif.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

“Bagiku agama tidaklah penting. Buat apa sok rajin ke gereja atau ibadah tapi perilakunya tetap tercela.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

Juli tidak kalah repotnya. Ia yang tidak berpengalaman sama sekali menjadi guru kini harus menangani masalah Kim dan memperjuangkan perlindungan bagi murid yang kedapatan hamil di luar nikah.

“Pendidikan harus selalu berbasis hati nurani. Sekolah dan keluarga adalah penjaga gawang utama atas nama cinta dan kemanusiaan. Jadi, jika murid melakukan kesalahan dalam hidupnya, sekolah seyogyanya tidak memunggungi siswa dan meninggalkannya seorang diri.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

“Aborsi adalah tindakan terakhir remaja kita yang menghadapi jalan buntu, kesepian, dan tanpa bimbingan.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

Lies yang hidup datar setiap hari, terjebak masa lalu kelam,  mengenakan pakaian gelap untuk mengajar, dan berkutat dengan setumpuk novel di rumahnya yang sederhana kini duduk di kantor, menjadi orang penting. Bayangkan!

“Karena sejak kita bertukar tubuh, aku merasa nggak mempunyai otak yang sama lagi. Kejadian ini membuat kecerdasanku menurun drastis.” (Lies sebagai Emily di hal. 161)

“Aku tadi mewawancarai Orien…” “Wawancaranya bukan sekadar wawancara menerima calon pegawai baru. Ini wawancara seperti para calon profesor mempertahankan tesisnya.” (Lies sebagai Emily di hal. 240-241)

Tindakan terbaik berdamai dengan masa lalu adalah menguburkannya dengan prosesi yang penuh penghormatan. (hal. 240)

Namun Tuhan selalu adil. Pergantian ini memberi hikmah tersendiri bagi mereka bertiga. Ada yang mereka pelajari dan masalah baru yang muncul perlahan mereka selesaikan. Mereka menjadi dekat satu dengan yang lainnya. Jika yang satu mengalami masalah, yang lain mencoba untuk memberikan solusi.

Berapa lama mereka harus bertukar tubuh? Selamanya? Ikuti kisah seru mereka dalam Tiga Venus.

Lagi- lagi konsep cerita Mbak Clara khas dan unik. Meski awalnya sempat dipusingkan dengan pergantian tubuh dan karakternya, saya menikmati cerita ini. Menikmati kejar- kejaran mereka dengan waktu dan masalah- masalah yang mereka hadapi. Juga deskripsi situasi dan kondisi yang tepat sehingga keruwetan itu terasa nyata membuat kisah ini lebih hidup.
Kisah Tiga Venus ini seru, menegangkan, dan juga kocak. Cocok dinikmati saat sedang santai. Bagi teman- teman yang belum membaca, novel ini bisa jadi rekomendasi di waktu luang teman- teman. Selamat membaca J

My Last Love - Agnes Davonar

Judul               : My Last Love
Pengarang      : Agnes Davonar
Penerbit         : Inandra Published
Tebal              : 364 halaman
Sinopsis :
My Last Love diangkat dari sebuah cerita online dengan judul sama. Kisah ini telah dibaca lebih dari 150.000 pembaca sejak diterbitkan secara online. Angel yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Hendra, tiba- tiba mengalami sebuah kecelakaan mobil yang disebabkan oleh Martin sehingga membuat kakinya lumpuh.
Martin melarikan diri dari kecelakaan itu, sedangkan Angel selain menjadi cacat ia juga harus kehilangan Hendra yang membatalkan pernikahannya. Waktu berjalan mempertemukan lagi Martin dengan Angel. Martin merasa menyesal karena perbuatannya, hidup Angel sangat menderita. Ia pun bertekad untuk menyembuhkan Angel dengan cara apapun walau harus merahasiakan siapa dirinya sesungguhnya.
Ketika harapan kesembuhan Angel datang, Martin harus menerima kenyataan dirinya terinfeksi virus HIV. Ia pun berjuang melawan waktu tanpa peduli keadaannya, agar dapat melihat kaki Angel kembali normal. Ketika Angel sembuh, ia menyadari satu hal bahwa Martin adalah pelaku yang membuat kakinya lumpuh. Ia menghadapi pilihan sulit karena cinta mulai bersemi di hatinya terhadap Martin yang selama ini lari dari tanggung jawab tragedi kecelakaan dulu, walau ia tahu pria itu sedang berjuang melawan penyakit di tubuhnya. Haruskah ia memaafkan Martin karena kecelakaan itu? Ataukah meninggalkan pria yang telah terinfeksi HIV itu?

Review :
Angel merasa ia adalah wanita paling berbahagia karena malam ini, tepat di tahun ketiga hubungannya dengan Hendra, kekasihnya, ia akan dilamar. Ia telah mempersiapkan kado untuk Hendra juga dan malam  ini ia berdandan lebih cantik dari biasanya. Menolak dijemput oleh Hendra, Angel memilih untuk menaiki vespa yang biasa ia gunakan untuk berpergian. Sayangnya malam yang seharusnya menjadi momen indah itu berubah menjadi malapetaka yang mengubah hidup Angel.
Adalah Martin, playboy yang tidak pernah menghargai hidupnya. Hari- harinya dilewati dengan bermain tenis, dugem di diskotik, dan sederet kehidupan liar yang membuat hidupnya tidak teratur. Hubungannya dengan ayahnya tidak pernah akur. Hanya ibunya yang selama ini mendukungnya.
Sore itu, Martin hendak menemui Agnes, wanita incarannya, untuk menemani Agnes berbelanja di mal. Karena telah berjanji untuk tepat waktu, Martin mencari jalan pintas memacu mobilnya dengan cepat saat ia terjebak macet.
Martin yang ngebut dari sisi yang berlainan tidak memperhatikan Angel yang sedang mengendarai sepeda motornya, begitu pula dengan Angel yang sambil mendengarkan lagu melalui headsetnya sehingga tidak mendengar deru mobil Martin di dekatnya. Maka tabrakan itu pun terjadi.
Martin keluar dan melihat tubuh Angel tengah bersimbah darah. Dilihatnya wanita itu juga kesakitan. Martin takut. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menabrak orang. Ketakutan itulah yang akhirnya membawanya untuk kabur meninggalkan lokasi.
Sejak saat itu kehidupan mereka berdua berubah. Angel harus menerima keadaan bahwa kakinya lumpuh. Tidak hanya itu, hubungannya dengan Hendra juga harus kandas karena tidak mendapat restu dari ibu Hendra. Sedangkan Martin menenangkan diri di Perth. Ibunya baru mengizinkannya untuk kembali setelah setahun menetap di sana. Hidup Martin tidaklah tenang. Setiap saat ia dihantui rasa bersalah terhadap Angel.
Hari demi hari berlalu dan tahun pun telah berganti. Martin telah kembali ke Indonesia. Ia berubah menjadi pria yang lebih baik dan penurut. Kali ini tujuannya adalah untuk menemukan Angel dan menebus rasa bersalahnya. Ia akan membuat Angel bahagia apapun itu.
Saat Martin telah menemukan Angel dan mengetahui kondisinya, Martin bertekad untuk membuat Angel dapat berjalan lagi. Segala upaya ia lakukan bahkan membawa Angel ke Amerika untuk menjalani operasi. Sekarang usaha Martin tidak hanya untuk menebus dosanya pada Angel tapi ia telah jatuh cinta pada Angel.
Namun saat kenyataan demi kenyataan terungkap, masihkan Angel memaafkan Martin? Bersediakah Angel menerima Martin? Ikuti kisah selengkapnya di My Last Love.
Novel ini merupakan salah satu karya Agnes Davonar yang telah difilmkan. Sebelum membaca novel ini saya sudah pernah membaca cerpen yang dimuat online di situsnya ( agnesdavonar.net ) dan saya menyukai ceritanya. Jadilah pas pesan novel Mbak Agnes yang lain, novel ini turut saya beli juga. Seperti biasa, setiap cerita Mbak Agnes mengandung pesan. Dari kisah Angel-Martin kali ini kita dapat belajar untuk lebih menghargai hidup juga berusaha untuk memaafkan.
keterangan di halaman awal yang belum diganti
Dari segi penulisan, gaya penulisan Mbak Agnes terkesan blak- blakan, seperti bercerita begitu saja. Kesalahan pengetikan juga ditemukan di beberapa bagian dan masih juga dijumpai kalimat dengan kata- kata ala SMS. Pembendaharaan katanya itu yang membuat saya kurang nyaman padahal konsep ceritanya sudah oke.
Lagi, keterangan sampulnya yang masih menggunakan keterangan untuk sampul lama padahal sampul sudah diganti dengan edisi film.
Tapi dari konsep cerita, oke. Saya suka. Bagi teman- teman yang belum dan  ingin membaca karya Agnes Davonar, teman- teman dapat mengunjungi blog Mbak Agnes di agnesdavonar.net. Selamat membaca J