Daftar Review

Jumat, 10 Februari 2012

Online Addicted! – Kecanduan yang Menimbulkan Kekacauan


Judul buku      : Online Addicted!
Pengarang       : Irena Tjiunata
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal               :199 halaman


Dilihat dari judulnya, ini novel pasti menceritakan tentang gadis yang kecanduan main internet. Dan memang begitu. Korban kecanduan ini bernama Marrisa, biasa dipanggil Icha. Icha sangat hobi Facebook-an. Papanya yang mengenalkan Facebook padanya. Namun fungsi jejaring sosial itu malah ia salah gunakan. Terlebih lagi ketika Edo, sang pacar yang super sabar, menghadiahi sebuah smartphone sebagai kado ulang tahun untuk Icha. Icha tambah lengket deh.
Hingga kecanduan Icha semakin akut, masalah mulai timbul. Icha mulai mengabaikan keadaan di sekelilingnya, termasuk sahabat dan keluarganya. Hal yang paling menonjol ialah ketika Icha sudah asyik online, ia tidak akan lagi menggubris siapapun yang memanggilnya ataupun mengajaknya bicara.
Satu per satu kejadian terjadi. Icha hanya bisa berjanji dan terus berjanji untuk berubah. Bahkan, ia sempat mengecewakan neneknya yang jauh- jauh pulang dari luar negeri, hanya karena keasyikan online. Hmm..
Suatu hari, ponsel pintar Icha ketinggalan di rumah. Padahal bel sebentar lagi dan les pertama Icha akan menghadapi ulangan Bahasa Indonesia. Tapi apa yang terjadi? Icha tetap nekat pulang ke rumah. Akibatnya, ia tidak mengikuti ujian dan dihukum guru. Beruntung Edo sangat menyayanginya dan rela berbohong demi Icha hingga akhirnya Icha diperbolehkan mengikuti ujian susulan.
Tentunya masalah tidak berhenti sampai di sini. Masih banyak lagi masalah yang Icha timbulkan. Membaca novel ini membuat kita melihat dampak- dampak yang terjadi akibat tidak dapat membatasi diri untuk memilih waktu yang tepat dalam menjelajahi dunia maya. Dan ketika nilai Icha mulai merosot hingga ia terancam tinggal kelas, dapatkah Icha memenuhi janjinya untuk berubah ?

Senin, 30 Januari 2012

Bidadari Santa Monica - Alexandra Leirissa Yunadi


Judul buku          : Bidadari Santa Monica
Pengarang          : Alexandra Leirissa Yunadi
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                  : 367 halaman
Saya mengetahui novel ini sudah lama. Namun baru dibeli pas tahun baru kemarin. Dengan harga miring tentunya. He he.. Melihat dari judulnya pasti banyak yang beranggapan novel ini bercerita tentang Bidadari Santa Monica atau sedikitnya wanita cantik dengan setting di Santa Monica (memang sih setting awalnya di Santa Monica). Ternyata tidak. Isi ceritanya itu tentang kisah percintaan dua insan yang harus berakhir dengan perpisahan. Sedihnya. Buat teman- teman yang menyukai novel yang sad ending, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.
Sebelumnya, kenalan dulu ya sama beberapa tokoh yang muncul di novel ini :
1.       Pelita
Ini dia nih tokoh utama ceweknya. Pelita merupakan ilustrator yang bekerja pada sebuah majalah. Pekerjaannya juga merangkap sebagai reporter. Karena tugas meliput inilah, Pelita bertemu dengan Efraim dalam keadaan yang tidak disengaja. Pelita suka menggambar dan ia sangat berbakat.  Orangnya apa adanya. Rada pemikir juga.
2.       Efraim
Penulis ‘menciptakan’ tokoh ini dengan sangat sempurna. Rasanya terlalu sempurna malah. Tampan, mapan, dan perhatian. Lengkap. Efraim memiliki butik dan ia adalah importir pakaian dengan merek kelas atas. Tampaknya pembaca akan dengan sangat mudah menyukai tokoh yang satu ini. ia sangat gencar mengejar Pelita (beruntung sekali ya si Pelita).
3.       Bidadari Santa Monica
Seorang pengamen cantik di Santa Monica. Menyebut dirinya sebagai Bidadari Santa Monica. Petikan harpanya selalu berhasil membuat Pelita menitikkan air mata. Dalam kisah ini, ia muncul sesekali, seperti interlude namun ia juga yang memberikan kejutan pada akhir cerita nantinya.
4.       Niki
Ia adalah sahabat terbaik Pelita. Selalu siap mendegarkan curahan hati Pelita. Selalu mendukung Pelita dari awal hingga akhir.
5.       Mentari
Kakak Pelita yang satu ini paling mudah untuk tidak disukai. Sikapnya yang berlebihan. Berbeda dengan Pelita yang apa adanya, kakaknya ini ada apanya. Penampilannya juga berbeda jauh dengan Pelita. Ia sering memandang rendah Pelita.
6.       Mamanya Efraim
Overprotective. Kata itu cukup untuk menggambarkan kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Mama Efraim sangat selektif memilih calon menantu buat anaknya. Dan tentu saja dengan selera dan standarnya yang tinggi, dengan cepat ia langsung tidak menyukai Pelita saat pertama mereka berjumpa.
7.       Pak Ian
Pak Ian adalah bosnya Pelita yang ternyata seorang gay. Gara- gara Pak Ian jugalah Pelita sempat menyangka bahwa Efraim juga sama seperti Pak Ian.

Nah, itu dia orang- orang yang akan setia menemani kita dalam perjalanan cinta Efraim dan Pelita. Well, kepanjangan ya. Ini dia review tentang novel ini.

Pelita mendapat tugas meliput di Santa Monica, Amerika. Setiap hari, entah mengapa, ia selalu berhenti di depan seorang pengamen cantik yang akrab disapa Bidadari Santa Monica. Den setiap kali mendengar petikan harpa dan lagu yang dinyanyikan, hati Pelita serasa disayat- sayat. Pelita juga sangat terpesona pada bidadari yang satu ini. Dengan mata biru kehijauan yang sangat indah dan rambut berwarna merah, pengamen itu selalu terbayang- bayang di benak Pelita.
Hingga suatu hari Bidadari Santa Monica memanggil nama Pelita dengan baik. Pengamen ini juga tahu arti namanya. Aneh. Tidak sampai di situ, pengamen ini juga menaiki pesawat yang sama dengan Pelita. Tepat di samping Pelita pula.
Wanita ini begitu antusias terhadap kisah hidup Pelita. Dan Pelita pun tidak dapat untuk tidak menceritakan kepada pengamen cantik ini.
Kisah dimulai ketika Pelita salah mewawancarai orang. Seharusnya ia mewawancarai aktris pemeran serial TV, Arlika. Namun karena Arlika sangat sibuk, Pelita berniat untuk mewawancarai lawan mainnya, Riva. Pelita hanya tahu bahwa Riva ialah sosok yang tampan tetapi ia sendiri belum pernah melihat Riva. Oleh karenanya, ketika seorang pria tampan lewat, Pelita langsung menyetopnya dan mewawancarainya. Barulah setelah Riva yang asli datang, Pelita menyadari bahwa ia telah salah sasaran. Inilah awal pertemuan yang lucu dengan Efraim, pria tampan yang (salah) diwawancarai oleh Pelita.
Dan Efraim mulai tertarik pada Pelita. Demi mendekati Pelita, Efraim mengadakan kerjasama antara butiknya dengan majalah Pelita yang rupanya bos Pelita ialah Pak Ian, sahabat Efraim sejak kecil.
Proses pedekate Efraim- Pelita seru juga. Ada lucunya. Di satu sisi, Efraim yang sudah memancarkan sinyal cinta namun tidak ditangkap dengan jelas oleh Pelita karena Pelita sendiri – yang tergila- gila sama Efraim- sibuk memikirkan apakah Efraim suka padanya dan juga kesimpulan yang Pelita tarik sendiri bahwa Efraim adalah seorang gay.
Kehadiran kakak Mentari yang menyebalkan juga menambah manis perjalanan cinta Pelita dan Efraim. Saat keduanya sudah berpacaran dan Efraim mengenalkan Pelita ke mamanya, masalah muncul. Mamanya Efraim tidak menyukai Pelita. Berbagai sindiran ia lontarkan kepada Pelita. Namun Pelita mencoba untuk bersabar. Ketika berbincang- bincang mengenai lukisan di kamar Efraim, mama Efraim, yang tidak menyangka itu adalah karya Pelita, sangat menyukai lukisan itu. Efraim pun berniat menghadiahi mamanya lukisan Pelita yang rencananya akan dibuka di pesta ulang tahun mamanya nanti.
Gawat! Pelita mulai stres. Di tengah- tengah usahanya untuk menghasilkan yang terbaik, Pelita mulai menyerah. Namun selalu ada semangat dan dorongan dari Efraim. Hingga suatu hari ketika Pelita terlibat perdebatan mengenai kado lukisan itu dengan Efraim. Pelita tidak dapat menyelesaikan lukisan itu. Ia kehabisan cat birunya. Tidak tahan lagi, Pelita keluar dari mobil tunangannya itu dan lari. Ia tak sengaja menabrak seorang preman. Demimelindungi Pelita, Efraim ditusuk. Pelita segera mencari pertolongan. Namun Efraim tidak terselamatkan. Pelita sangat terpukul. Semenjak itu Pelita melewati hari- harinya dengan enggan. Tanpa rasa.
Lalu, bagaimana akhir kisah menyedihkan ini? Apakah hubungan Bidadari Santa Monica dengan mereka berdua? Hmmm...... silahkan dibaca sendiri ya novelnya J
Menurut saya....
Saya lumayan suka dengan novelnya. Idenya oke. Hanya saja saya kurang nyaman ketika membaca pada bagian depannya. Terlalu banyak tanda serunya. Untunglah semakin ke belakang semakin jarang.
Ada juga satu bagian dimana Pelita asyik dengan pikiran dan pendapatnya sendiri tentang pria pujaannya yang adalah gay. Pelita jadi menjaga jarak dengan Efraim. Lah, tinggal ditanyain ke cowoknya, beres toh? Bagian ini yang bikin gemes. Menurutku kepanjangan.
Mengetahui cinta yang tidak bersatu membuat saya ikut bersedih. Bayangkan jika ada Pelita beneran (mungkin saja bisa terjadi hal seperti ini), pasti rasa bersalah dan kehilangan yang mendalam itu ada. Untaian cinta yang te,ah terucap. Waktu yang telah dilewati bersama tidak akan pernah cukup. Bahkan kata ‘singkat’ pun masih terlalu singkat untuk kebersamaan ini.

Di belakang buku
Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Dan Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu- abu: remuk hati berkepanjangan.
Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang- orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica. Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai air mata, sambil tak henti- henti mengaguminya.
Lalu, pada hari yang ketujuh...
"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. "That’s your name right?"
Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...
"See you later, Little Shine...," bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.
Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan... apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan Efraim?

Rabu, 11 Januari 2012

Uttuki : Perjuangan Cinta Sepanjang Masa



Judul buku      : Utukki – Sayap Para Dewa
Pengarang       : Clara Ng
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 402 halaman
Selamat tahun baru yang telat. He he. Mengawali bacaan awal tahun, saya menyelesaikan sebuah novel berbau mitologi Yunani berjudul Utukki. Lagi- lagi Mbak Clara berhasil menelurkan karya- karyanya yang ‘wah’ menurut saya. Kisah yang terlihat bakalan membosankan ini ternyata bukan berisikan sejarah melulu. Kisah ini kisah percintaan antara Makhluk-Dunia- Atas dengan manusia biasa. Dan seperti karya yang lain, kisah ini juga mudah untuk diikuti. Tidak ribet. Kebetulan novel Utukki ini saya dapatkan waktu ikutan klinik penulisan fiksi Mbak Clara November lalu. Plus dapat tandatangan Mbak Clara juga (terima kasih buat Mbak yang sudah berbagi cerita dan juga penerbit yang mengadakan acara J ).

Cerita ini mengisahkan percintaan Thomas dan Celia, murid SMA, yang (sebenarnya) sudah terjalin sejak tujuh ribu tahun yang lalu, kisah cinta antara Enka dan Nannia. Enka hanyalah seorang manusia biasa sedangkan Nannia merupakan anak dari pasangan Dewa Anu dan Dewi Antu. Nannia merupakan anak terakhir (anak kedelapan) dari Utukki bersaudara sekaligus anak yang paling cantik. Ketujuh saudaranya memiliki wajah yang buruk rupa seperti monster dan disegel oleh ayah mereka, Dewa Anu. Kisah cinta Nannia dan Enka banyak mendapat cobaan. Namun kekuatan cinta membuat mereka tidak berhenti berjuang. hingga tujuh ribu tahun kemudian ketika mereka sudah berubah wujud pun rasa cinta itu tidak pernah hilang.
Cerita ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama setelah prolog dan bagian kedua.

Pada bagian prolog, kita tidak akan menemukan dewa maupun dewi- dewi yang sedang berdialog di atas langit. Cerita dimulai dengan perkenalan dua tokoh yang muncul di setiap jeda cerita, Adam dan Naeva, namun akan dikaitkan (sedikit) dengan tokoh utama pada akhir kisah nanti. Adam mengambil jurusan sejarah sedangkan Naeva mengambil jurusan jurnalistik. Adam sangat menyukai cerita mitologi. Di setiap kesempatan yang ada, ia akan menceritakan sedikit- sedikit mengenai legenda Bangsa Mesopotamia yang dianggap Naeva sebagai ‘kuliah gratis’.
Bagian pertama.
Cerita dimulai dengan perkenalan Thomas dengan Celia. Thomas yang malu- malu dan Celia yang agak agresif. Juga diceritakan bagaimana Antu melepaskan ketujuh anaknya. Awalnya saya tidak tahu mengapa ada acara teriak- teriakan antara ibu dan ketujuh anak itu. Namun  setelah membaca kelanjutannya, baru deh. Ada hubungan yang erat ternyata.
Pertemuan Thomas dan Celia sangat singkat. Keduanya segera berpisah. Thomas kehilangan Celia. Celia terangkat menuju langit. Tinggal di kerajaan Dewi Ishtar. Rasa perih memenuhi hati kedua insan yang saling mencintai. Perlahan mereka mulai mengetahui bahwa kenangan masa lalu membelit mereka. Keduanya terlahir kembali dengan jenis kelamin yang berbeda. Perjuangan cinta berlanjut. Jika Thomas dan Celia berhasil membuktikan bahwa mereka saling mencintai dan dapat melalui rintangan- rintangan yang mereka jalani maka keduanya dapat bersatu. Jika tidak maka keduanya harus menerima kenyataan pahit bahwa mereka harus berpisah. Waktu yang diberikan sepuluh tahun. Selama itu pula lah Thomas harus selalu mengingat Celia meski mereka tidak pernah bertemu.
Ini bukan perjuangan dua makhluk. Ini cinta segitiga. Ishtar, Dewi Cinta, Kesuburan, dan Perang, mencintai Enka. Karena cintanya yang begitu besar, Dewa Anu membantunya dengan mengubahnya menjadi makhluk mortal. Namun Enka mencintai Nannia dan bahkan tidak menyadari kehadiran Ishtar. Cinta Ishtar bertepuk sebelah tangan. Ia akhirnya menikah dengan pria lain dan melahirkan seorang anak perempuan. Namun pada akhirnya ia harus kembali ke langit dan meninggalkan anaknya. Cinta Ishtar kepada Enka tidak pernah surut. Ia masih tetap berusaha untuk mendapatkan Enka. Hingga sekarang. Ia berusaha memisahkan Thomas dan Celia. Kali ini dibantu oleh Dewi Antu yang menentang mati- matian hubungan putrinya dengan manusia biasa itu.
Bagian kedua.
Tujuh tahun berlalu. Ketika Thomas kembali ke Indonesia, semua orang telah melupakan Celia. Tidak ada yang bernama Celia. Hanya Thomas yang masih mengingat gadis itu. Celia yang tinggal di dunia dewa- dewi masih setia pada cintanya. Dewa Ea, Dewa Air dan Kebijaksanaan, menjadi sahabat Celia yang membantu Celia untuk keluar dari kerajaan Ishtar. Ia jugalah yang mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Thomas.
Kisah ini terasa semakin seru ketika perjuangan sudah mencapai puncak. Bagaimana Celia menghadapi monster Utukki. Setelah Dewa Ea tidak beserta dengan Celia lagi, muncullah Marduk. Ia anak Dewa Ea. Jenaka dan gaul. Marduk lah yang mengajari Celia dan membekali Celia melawan Utukki. Thomas di bumi juga tidak gampang. Ia berperang melawan Antu. Ishtar yang semula berniat menghancurkan Thomas, akhirnya mengerti arti cinta yang sesungguhnya dan berusaha mempersatukan Celia dan Thomas.


Apakah perjuangan Celia dan Thomas akan berbuah manis? Bagaimana akhir dari semuanya? Pada akhirnya...... (baca sendiri ya..he he..)
Semuanya saling berhubungan. Salut untuk Mbak Clara yang begitu lihai menghubungkan dan menggabungkan segalanya. Selalu terlihat alami. Dewa bisa lucu- lucuan dan terlihat sedikit humanis di dalam cerita ini. Marduk versi Mbak Clara adalah Marduk yang gaul dan gokil. Saya paling suka dengan Dewa Ea yang baiknya itu loh. Sedihnya waktu melihat ia harus pergi. Namun kepergiannya tidak sia- sia. Seperti pahlawan yang gugur di medan perang.

Meski ada yang terasa ganjil untuk diterima akal, tapi ya..itulah. Semuanya bisa terjadi. 

Ada beberapa kalimat yang saya suka.
<Cinta,> bisik Antu sekali lagi, <adalah mata rantai yang terkuat> - halaman 81

Cinta adalah hal terlemah yang dimiliki manusia. Yang dapat membuat manusia menerita.yang dapat mengakibatkan perang berkepanjangan. Yang dapat membuat manusia rela melihat neraka.
Tapi seperti pedang yang mempunyai dua sisi,cinta juga dapat menguatkan. – halaman 82

Novel ini saya rekomendasikan bagi teman- teman yang suka membaca novel. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.


Yang ada di  belakang buku
I am one wing and you are equally the other 

Cerita ini dimulai tujuh ribu tahun lalu. Ketika manusia mendongak ke langit dan menatap bintang gemintang. Terpesona. Lalu bertanya, “Apakah hidup? Apakah cinta?”

Tujuh ribu tahun yang lalu, di lembah subur Mesopotamia, manusia mencapai peradabannya yang pertama. Mereka membangun kota, menciptakan kepercayaan dan agama, menemukan tulisan, membangun irigasi, menggunakan roda, dan mendongengkan mitos pada setiap keturunan anak manusia.

Tujuh ribu tahun yang lalu, bangsa Mesopotamia Kuno bercerita tentang delapan monster, seorang pendeta lelaki, dan dewa-dewi, yang karena satu dan lain hal harus menentukan jalan hidupnya dan menggenapi nasibnya.

Cerita ini bukan mitos. 

Bukan juga dongeng, fantasi, atau sekadar obrolan minum kopi. 
Cerita ini adalah cerita abadi sepanjang zaman. 

Sebuah epos tentang perjuangan, cinta, dan keyakinan, yang telah hidup lebih dari tujuh ribu tahun.



Dari Mesopotamia, tahun 5000 Sebelum Masehi.
Sampai Jakarta, tahun 2000 Sesudah Masehi.

Kamis, 29 Desember 2011

1000 Musim Mengejar Bintang - Charon



Judul buku          : 1000 Musim Mengejar Bintang
Pengarang          : Charon
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                     :360 halaman
1000 Musim Mengejar Bintang merupakan novel kedua karya Mbak Charon yang saya baca setelah 7 Hari Menembus Waktu. Novel yang berjumlah 31 Bab ini dibagi ke dalam lima bagian.
Bagian satu dimulai dengan pengenalan kedua tokoh utama, Laura dan Niko beserta kehidupan awal mereka. Laura yang hanya seorang siswi biasa dan tidak memiliki teman (saya sangat penasaran awalnya karena Laura selalu sendiri hingga pada halaman 77 barulah dikatakan bahwa Laura tidak memiliki seorang teman pun). Laura sangat menyukai Niko, cowok populer di sekolah mereka, dan berusaha mati- matian agar bisa sekelas dengan Niko dan mengenalnya. Saat itu Niko sudah berpacaran dengan Erika. Laura sendiri hanya mampu memendam perasaannya tanpa ada yang tahu. Terlebih Niko. Ia bahagia meski hanya bisa berteman dengan Niko. Namun setiap kesempatan tampaknya mendekatkan mereka berdua. Ditambah Niko sangat nyaman berada bersama Laura. Ia pun tak segan berbagi rahasia menyakitkan yang tidak diketahui oleh teman- temannya, bahkan Erika, kepada Laura. Kedekatan Niko dengan Laura membuat sang kekasih, Erika, cemburu. Erika membenci Laura. Dengan kebohongannya, Erika berhasil memutus hubungan pertemanan antara Niko dan Laura di masa- masa akhir sekolah mereka.
Laura dan Niko berpisah setelahnya. Kehidupan masing- masing berlanjut tanpa ada yang tahu kabar satu sama lainnya. Kisah perjalanan Laura setelah tamat SMA menjadi bagian dua dalam novel ini. Laura tidak melanjutkan kuliahnya melainkan langsung bekerja di sebuah restoran pasta yang bernama Antonio (nama restoran ini dibuat sesuai dengan nama pemiliknya). Awalnya ia berencana untuk kuliah setelah setahun bekerja. Namun di restoran ini Laura mampu mendapatkan apa yang ia ingin ia pelajari dan bakatnya terasah di Antonio. Berbagai cobaan dilalui Laura. Antonio melihat potensi dan kesungguhan Laura. Maka ia pun mengutus Laura untuk belajar memasak pasta di Italia. Laura tidak menyia- nyiakan kesempatan emas ini. Sepulangnya dari Italia, Laura kembali bekerja di Antonio sebagai seorang chef pasta.
Bagian tiga mengisahkan kehidupan Niko. Berpisah dengan Laura membuat hati Niko hancur. Ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Laura. Namun ia kehilangan kontak dengan gadis itu. Berkat bantuan Julien Bordeux, perancang perhiasan ternama, melalui usaha Laura menemuinya, Niko dapat melanjutkan kuliahnya di GIA (Gemological Institute of America), New York. Niko berhasil menyelesaikan kuliahnya di bidang gemologi. Rancangan perhiasan Niko sangat disukai pelanggan. Seperti janjinya pada Julien, Niko bekerja padanya selama dua tahun. Selama bekerja, Niko mengumpulkan uang untuk membeli berlian yang ia gunakan pada cincin bintang rancangannya. Cincin yang tidak ia jual meski ditawar dengan harga tinggi.
Bagian empat. Laura dan Luki. Awalnya saya mengira Luki akan terlibat hubungan percintaan dengan Laura. Namun saya salah. Ada benang merah antara ayah Luki dengan ibu Laura. Ternyata Laura ialah anak Charles Rafael, ayah Luki. Ya, mereka berdua adalah saudara tiri. Awalnya Luki tidak bisa menerima Laura dan ibunya. Namun setelah melihat kesungguhan ibu tirinya lewat kartu ucapan ulang tahun yang ditulisi tiap tahun, Luki sadar bahwa ibu tirinya sangat menyayanginya. Namun kesalahan yang diperbuat Luki harus dibayar mahal oleh Laura. Preman yang dibuat tersinggung oleh Luki mengira Laura adalah kekasihnya (saat itu Laura bolak balik apartemen Luki untuk meminta pengertian Luki). Preman itu menabrak Laura hingga kaki Laura harus dioperasi yang meninggalkan bekas luka.
Bagian lima adalah bagian yang menegangkan. Di sini semuanya terjawab. Niko bertemu kembali dengan Laura sekembalinya ia ke Indonesia. Ia tinggal di apartemen Rafael, satu lantai di bawah apartemen Luki. Jodoh, bukan? Niko tidak sanggup melepaskan Laura. Hatinya hanya untuk Laura. Meskipun Laura menolak Niko berkali- kali karena Laura merasa ia tidak pantas memiliki Niko, Niko tetap berjuang. Sungguh pria langka.
Saya paling suka kata- kata Niko yang :
Aku akan melepaskanmu pergi...hanya jika seribu musim sudah berlalu” – halaman 296
“Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Delapan tahun di negeri berbeda. Aku melihat warna dedaunam berubah ketika musim berganti. Tapi perasaanku tidak pernah berubah. Wajahmu selalu membayangiku dimanapun aku berada”- halaman 340.
Awal membaca novel ini, saya mencoba menebak- nebak endingnya. Memang tertebak. Namun proses menuju akhirnya itu ditulis oleh Mbak Charon dengan baik. Lagi- lagi saya menjadi teringat drama Korea berjudul Pasta yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi Indonesia. Pemeran wanitanya sama seperti Laura, tidak cantik, tapi mampu membuat orang jatuh cinta padanya.
Kesalahan yang tercetak dalam novel tetap ada. Namun hanya sedikit. Tampaknya penulis senang ya dengan angka- angka. Novel karya Mbak Charon ini kebanyakan dimulai dengan angka. He he.. (hanya pendapat saya saja ya, Mbak).
Well, meski saya lebih suka dengan novel Mbak yang berjudul 7 Hari Menembus Waktu, namun novel yang satu ini tidak kalah menariknya untuk dibaca. Masing- masing novel memiliki keistimewaan tersendiri. Semoga Mbak Charon bisa segera meluncurkan karyanya yang terbaru. Ditunggu ya, Mbak ;)

Rabu, 30 November 2011

7 Hari Menembus Waktu - Charon


Basa Basi
Kyaa.....!! Satu lagi novel yang menarik. Selama membaca, feel saya nano- nano. Ada senang, lucu, sedih juga ada. Pokoknya semua rasa ada pada  hasil karya Mbak Charon yang satu ini (tidak heran ya kalau sudah cetak ulang empat kali. He he).
Awal baca, saya merasa biasa. Saya ikuti ceritanya perlahan- lahan. Bahkan saya sempat absen dua hari karena sibuk ngerjain tugas. Tapi setelah membaca setengahnya, saya semakin terbawa suasana dan langsung novel ini saya lahap hingga selesai karena semakin mendekati ending, saya semakin ingin tahu bagaimana tokoh utamanya menyelesaikan perjalanannya.

Sekilas mengenai isi novel
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Marissa yang sakit hati karena diputusin kekasihnya, Michael, padahal hubungan mereka sudah berjalan selama tiga tahun. Merutuki keadaan buruk yang menimpanya membuat Marissa tersedot ke masa lalu melalui sebuah lukisan yang terpampang di depannya.
Marissa kaget. Namun ia akhirnya paham dan menerima bahwa ia tidak lagi berada di masanya. Kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu membuat Marissa mengalami dan mengetahui banyak hal baru. Di masa ini, yang merupakan masa pacaran kedua orang tuanya, Marissa juga berperan dan berjuang mati- matian untuk mempersatukan kedua orangtuanya.
Untunglah Marissa bertemu dengan Wiliam, bocah kesepian berusia delapan tahun yang memberi Marissa tempat tinggal dan mencukupi segala kebutuhan Marissa (terutama makan- Marissa cewek yang gemar makan). Wiliam tidak seperti anak kecil pada umumnya. Ia lebih dewasa dan juga lebih pintar. Untuk anak seusianya yang baru kelas 3 SD, ia sudah lompat ke kelas 5 SD karena kepandainnya. Bersama Wiliam, Marissa melaksanakan misi dadakannya, mempersatukan mami dan papinya.
Meski awalnya Wiliam tidak percaya bahwa Marissa berasal dari masa depan, namun akhirnya ia percaya juga ketika melihat kerakusan Marissa melahap setiap jenis makanan pada zaman itu.
Hidup bersama Wiliam juga membuat Marissa tahu bagaimana perasaan Wiliam yang sebenarnya dan alasan mengapa Wiliam dewasa sebelum waktunya. Marissa berhasil mengenal Wiliam secara mendalam dalam waktu tujuh hari perjalanannya. Meski keduanya terkadang bertengkar, namun Wiliam dan Marissa saling menyayangi. Berkat Marissa, hubungan Wiliam dan Tante Sarah, adik mamanya, menjadi baik.
Bagian lucu dari novel ini paling terasa ketika Marissa berinteraksi dengan Wiliam. Ada saja kejadian yang mereka alami. Salah satunya adalah ketika Wiliam dan Marissa berebutan bermain Space Invaders di komputer Wiliam. Masih banyak lagi kejadian seru yang mereka alami.
Rasa haru dan sedih mulai menyelimuti ketika Marissa mengetahui kenyataan hidup Wiliam yang begitu pahit dan betapa Wiliam menyalahkan dirinya atas semua yang telah dialami keluarganya. Ada lagi, ketika Marissa hendak kembali ke masanya, atmosfer perpisahan begitu terasa. Wiliam menasihati Marissa bahwa ia akan menemukan cowok yang tepat dan lebih baik dari Michael (bayangkan anak berusia delapan tahun bisa mengatakan hal seperti ini).

Respon saya....
Ketika Marissa diceritakan memakai kembali gaun putihnya saat ia hendak kembali, saya jadi teringat dengan tokoh Shin Ji Hyun di drama Korea yang berjudul 49 Days. Entah kenapa saya jadi kepikiran dia. Wiliam juga. Saya merasa agak gimana gitu saat mengetahui karakter Wiliam yang notabene adalah anak kecil namun bisa bersikap seperti orang dewasa dan menghabiskan waktu bersama Marissa. Soalnya novel pada umumnya mengisahkan dua orang bersamaan dari segi umur yang tidak berbeda jauh (kalaupun berbeda jauh pasti tokohnya orang dewasa). Lalu saya kepikiran si Conan, detektif cilik yang cerdas. Persis sekali. Begitulah kira- kira si Wiliam. Hanya saja ia memang anak kecil, bukan disuntik mengecil.
Salut buat pengarang yang telah mampu menghasilkan karya yang begitu bagus. Saya paling menyukai bab- bab akhir. Pengarang selain menciptakan fiksi yang unik juga menyisipkan pesan moral di dalam cerita ini. dan juga setting tahun 80an nya juga terasa. Oke banget deh pokoknya. Namun pada novel saya menemukan ada beberapa kesalahan cetak. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah besar.
Well, itu sedikit review dari saya. Semoga bisa membantu bagi teman- teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya dan sedang mencari bacaan yang oke.

Yang di belakang buku.....
Marissa kesal sekali ketika harus ikut ayahnya ke Gedung Albatross. Itu artinya dia akan bertemu Michael, mantan pacarnya. Dan itu berarti, dia juga akan bertemu Selina, musuh bebuyutannya yang telah merebut Michael dari sisinya.
Merasa frustasi oleh situasi, tak sadar Marissa menangis di depan sebuah lukisan, dan bergumam seandainya saja ia bisa menghilang.
Dan ia betul- betul menghilang... terlempar ke masa 20 tahun yang lalu, saat ia belum lahir, saat orangtuanya pun masih belum berpacaran...
Bersama Wiliam, anak kecil yang ditemuinya di masa lalu, ia mengalami hal- hal lucu dan menyenangkan, hal- hal yang akan mengubah kehidupan Marissa dan Wiliam di masa depan....

Sabtu, 19 November 2011

Recomended : And Then There Were None by Agatha Christie


Selamat malam dunia.....(ngintip liriknya om Pongky cs. dulu..he he..)
Seperti biasa, saya mau bagi- bagi bacaan buat teman- teman. Kali ini novel yang saya baca tidak seperti biasa seperti Metropop, Teenlit, ataupun buku- buku lainnya. Novel yang saya review kali ini berbau thriller. Judulnya sama seperti judul postingan saya. Novel ini (lagi- lagi) saya beli atas rekomendasi dari teman kantor.

Cerita diawali dengan kedelapan (dua lagi sudah tiba duluan) tamu yang sedang berada dalam perjalanan mereka ke Pulau Negro atas undangan Mr. Owen. Masing- masing dari mereka sibuk dengan pikiran dan kebanyakan dari mereka merasa senang bisa mendapat undangan ke pulau tersohor yang tengah menjadi berita hangat di media massa.

Semuanya tiba dengan selamat dan bergembira. Namun kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Suasana berubah mencekam setelah piringan hitam yang diputar menuturkan kejahatan yang telah diperbuat oleh kesepuluh orang ini.


Edward George Armstrong
Emily Caroline Brent
William Henry Blore
Vera Elizabeth Claythorne
Philip Lombard
John Gordon Macarthur
Anthony James Marston
Thomas Rogers & Ethel Rogers
Lawrence John Wargrave


Itulah daftar nama- nama tamu Mr. Owen. Masing- masing memiliki kesalahan yang mereka perbuat. Akan tetapi mereka mengelak. Suasana bertambah ngeri lagi ketika salah satu dari mereka, Marston, meninggal secara tiba- tiba. Kematian terus berlanjut hingga mereka beranggapan bahwa ada pembunuh di Pulau Negro. Namun mereka baru sadar bahwa pembunuh tersebut ialah salah satu di antara mereka bersepuluh setelah mereka mengetahui bahwa tidak ada orang lain di pulau itu.

Semuanya diliputi rasa cemas dan takut seketika. Mereka berencana untuk meninggalkan pulau tersebut keesokan paginya. Sayangnya mereka kurang beruntung karena perahu yang mereka harap tidak pernah datang. Cuaca pun sedang buruk. Kematian berlanjut lagi.
Serunya, cara mereka meninggal persis seperti sajak Sepuluh Anak Negro.

Sepuluh anak Negro makan malam,
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam,
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon,
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu,
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah,
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan,
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut,
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang,
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur,
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian,
Menggantung diri, habislah sudah.

Semuanya lenyap pada akhirnya. Tiada satu pun yang tersisa. Apakah ada sarang lebah di pulau Negro? Bagaimana seseorang meninggal hanya karena tersedak? Kapan munculnya kebun binatana padahal tidak ada apapun di pulau? Merunut dari sajak di atas, teman- teman tidak akan menyangka dan menduga siapa otak dibalik pembunuhan berantai ini. Luar biasa ide si pengarang. Sayangnya sebelum membaca, saya sudah mendapat sedikit bocoran dari mama dan adik saya yang sibuk membahas cerita ini setelah mereka duluan selesai membaca novel ini.

Satu hal yang sama pada kesepuluh korban, mereka semua memiliki kasus yang tidak terjamah hukum. Penasaran? Silahkan kunjungi toko buku dan bawa pulang novel yang satu ini. Dijamin oke! J


Seperti biasa, intip juga bagian belakang sampul ya..
Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Walaupun masing- masing menyimpan rahasia, mereka tiba di pulau itu dengan penuh harapan, pada suatu sore musim panas yang indah.
Tetapi tiba- tiba terjadi serentetan kejadian misterius. Pulau itu berubah menjadi pulau maut yang mengerikan. Panik mencekam orang- orang itu ketika mereka meninggal satu demi satu... satu demi satu...

Novel Agatha Christie yang paling mencekam dan menegangkan!

Cerita detektif tanpa detektif!

Rabu, 12 Oktober 2011

Divortiare by Ika Natassa


Tiga minggu lebih dan novel ini terselesaikan juga (bacanya ya bukan nulisnya. He he). Divortiare ini saya beli pertengahan September lalu di Gramedia atas rekomendasi dari teman saya. Dan mulai lah saya membaca.

Ceritanya tentang :
Seperti judulnya, novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang banker cantik dan sukses  yang menjadi janda akibat perceraiannya di usianya yang baru 27 tahun. Namun setelah bercerai, Lexy masih cinta sama Beno, suaminya yang berprofesi sebagai dokter bedah jantung ternama di Jakarta. Beno yang terlalu cinta akan pekerjaan dan pasiennya (begitulah menurut Lexy) menjadi pemicu pertengkaran suami istri ini. Akhirnya karena sering bertengkar terus dan Lexy merasa hubungannya dengan Beno kian menjauh, maka Lexy memutuskan untuk bercerai. Setelah bercerai selama dua tahun pun Lexy masih belum berani membangun hubungan dengan pria. Sahabat terbaiknya, Wina, kemudian mempertemukannya kembali dengan Denny, teman kuliah mereka selama di Aussie. Perlahan- lahan, meski belum yakin dengan perasaannya sendiri, Alexandra menerima ajakan dari Denny untuk pacaran dengannya.

Dan menurut saya..
Novelnya bagus secara keseluruhan. Endingnya dan apa yang akan terjadi tidak mudah ditebak. Ceritanya berjalan alami. Bagaimana Lexy melewati hari- harinya. Bagaimana ia berupaya keras untuk melupakan lelaki yang (ia anggap) telah menyakitinya namun ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia masih sangat mencintai Beno dan tidak dapat menghapus nama pria itu dari pikirannya. Novel ini oke karena tidak sinetron. Yang terjadi begini ya begini. Jadi jangan heran kalau pembaca tidak akan menemukan adegan- adegan yang berlebihan. Kalau ada pun ditulis dengan oke. Jadi nyantai bacanya.
Keuntungan lain dari novel ini adalah penulis yang pada kenyataannya juga berkecimpung di dunia yang sama dengan Alexandra membuat cerita ini menjadi lebih hidup dan kita jadi lebih tahu betapa berat dan menantang profesi yang dijalani oleh seorang Alexandra.
Tokoh- tokoh dalam cerita ini diciptakan hampir sempurna. Alexandra yang cantik, berbakat, dan fashionable. Beno si dokter tampan yang cool, mapan, dan bertangan dingin. Ada juga Wina yang seorang fashion editor majalah fashion terkemuka.
Ketika membaca novel ini saya juga berkonsultasi dengan kamus. Novel karangan Ika Natassa ini banyak menggunakan bahasa Inggris. Percakapan antar tokohnya juga banyak yang menggunakan bahasa Inggris. Jadilah vocabulary saya bertambah sedikit- sedikit. He he. Penggunaan bahasanya juga santai. Tapi ada yang sedikit gimana gitu di beberapa akhir percakapan yang seharusnya menggunakan kata ‘tanya’ namun ditulis ‘kata’ padahal si tokoh sedang bertanya kepada tokoh lain. Well, saya rasa itu tidak terlalu menjadi masalah.
Ngomong- ngomong nih, saya lumayan suka sama karakternya si Beno, meskipun agak terkesan mengabaikan istrinya ya. Namun Beno memiliki komitmen yang baik dan saya rasa alas an dia menjadi dokter bukan demi uang tetapi memang atas dasar kecintaannya terhadap pekerjaan dan juga demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Bolehlah novel ini bagi pecinta Metropop. Ada lucunya. Ada sesuatu yang dapat kita pelajari. Dan yang pastinya jika sudah membaca hingga ke bagian yang paling akhir, kita akan membayangkan sendiri, jika menjadi Lexy, bagaimana kita akan bertindak selanjutnya. Buat yang belum punya novel ini dan berencana untuk membeli ataupun yang sudah membeli tapi baru mau mulai baca, selamat membaca J

Sinopsis di belakang…..
Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.
“Jadi lebih penting punya Furla baru daripada ngilangin nama mantan laki lo dari dada lo?”
Pernah nonton Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka peluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, “Our scar has a way to remind us that the past is real.”
Tapi kemudian mungkin kita tiba di satu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa ketika melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did.
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.
Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn’t want it to.