Daftar Review

Senin, 03 Februari 2014

Rumah Beratap Bugenvil - Agnes Jessica

Judul               : Rumah Beratap Bugenvil
Pengarang      : Agnes Jessica
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 240 halaman
Sinopsis :
Setelah mamanya meninggal, Lianka baru tahu bahwa ia cucu wanita kaya raya yang tinggal di sebuah rumah besar beratap bugenvil. Banyak rahasia dalam rumah itu, menyangkut almarhum ayahnya dan seluruh keluarga neneknya yang tidak terlalu harmonis.
Ia baru tahu bahwa ia sepupu Prisil, gadis angkuh teman sekolahnya. Feriz, anak baru di sekolahnya, ternyata tinggal di rumah itu juga. prisil jatuh cinta pada Feriz, tapi pemuda itu bersikap dingin terhadap setiap gadis yang mendekatinya.
Kenyataan bahwa neneknya yang tidak peduli terhadap keluarganya tapi malah menerima orang asing di rumahnya membangkitkan keingintahuan Lianka. Mengapa neneknya menerima Feriz tinggal di rumah itu? dapatkah Lianka menyibak rahasia yang dipendam sang nenek? Apa pula rahasia yang disimpan Feriz?
Review :
Tidak ada orang, bahkan Lianka sendiri, yang menyadari hidupnya berputar seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat. Ia yang tinggal di daerah kumuh tiba- tiba menjadi cucu nenek kaya dan yang mengejutkannya ialah Prisil, Pascal, dan Linus adalah sepupunya. Padahal hubungan mereka tidak begitu baik. Lianka nekat pergi ke rumah neneknya sesuai pesan dari almarhum mamanya, mengaku bahwa ia putri dari Bernard, ayahnya yang telah meninggal, Oma Tin, begitu Lianka memanggilnya, langsung percaya tanpa menyelidiki asal usul Lianka terlebih dahulu. Ia juga disuruh untuk tinggal bersama Oma di rumah beliau yang ditanami begitu banyak bugenvil.

Lianka juga terkejut saat mengetahui Feriz, anak baru yang bersikap dingin itu, serumah dengannya. Tapi Lianka tetap bersikap biasa, tidak peduli dengan sikap dingin Feriz. Namun Lianka mampu membuat Feriz tersenyum berkali- kali pada saat mereka menghadiri ulang tahun Sabrina sebelum Lianka pindah ke rumah neneknya.

Setelah pindah ke rumah Oma, Lianka tidak melupakan Dyani, sahabatnya. Ia mengundang Dyani bermain ke rumahnya. Acara keliling rumah Oma terhenti saat mereka tiba di depan sebuah kamar yang kata Mbok Kar, asisten rumah tangga Oma, adalah kamar rahasia yang tidak boleh dimasuki. Tentu saja Lianka penasaran. Lianka bertekad untuk mencari tahu apa yang ada di balik kamar itu. Meski Oma Tin tahu ia masuk ke kamar itu, Oma tidak marah pada Lianka. Padahal kalau yang masuk salah satu dari sepupu Lianka, Oma pasti marah besar. Istimewanya perlakuan Oma terhadap Lianka itu juga menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Lianka. Perlahan rasa penasarannya terungkap. Tentang siapa Oma, apa yang membuat Oma lebih menyayanginya, milik siapa kamar rahasia itu, dan mengapa Oma mau menampung Feriz.

Oma sangat menyayangi anak laki- lakinya dan kurang memperhatikan anak perempuannya. Sayangnya kini putra- putra kesayangan beliau telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Oleh karena itu, saat mengetahui Lianka adalah cucu dari Bernard, putra keduanya, Oma Tin sangat senang.

dalam hidup ini tidak setiap hal dapat kita raih.” (hal.97)

Rasa ingin tahu Lianka semakin terjawab ketika suatu malam ia mendapati Feriz mimpi buruk. Tidak mungkin ia meninggalkan cowok itu sendirian. Maka ia menemani Feriz juga mendengar Feriz mencurahkan isi hatinya selama ini yang membuat cowok itu terus dihantui mimpi buruk. Ternyata kejadian yang menimpa Feriz dan siapa cowok itu merupakan jawaban yang Lianka cari.

Entah mengapa Lianka selalu senang berada di dekat Feriz. Mereka sering belajar bersama. Apalagi Lianka sangat lemah di pelajaran hitungan, Feriz akan mengajarinya dengan sabar. Tapi Lianka akan langsung ngambek saat Prisil datang dan mencoba merayu Feriz. Ia juga langsung ketus saat mengetahui Feriz keluar bersama Prisil.

Lianka tidak menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Feriz. Apakah Feriz hanya menganggapnya sebagai teman serumah? Lianka tidak tahu.
Saat kenyataan mulai terungkap, Lianka berusaha mendamaikan Oma Tin dengan anak- anak perempuannya dan cucu- cucunya. Berhasilkah ia? Ikuti kisahnya di Rumah Beratap Bugenvil.

Ini kisah yang kompleks. Tidak hanya kisah Lianka tetapi juga ada kisah kedua orang tuanya, saudara ayahnya, dan juga kisah neneknya. Semua berawal dari kisah cinta yang tak sampai. Betapa menyakitkannya kalau cinta itu harus terhalang karena tidak mendapat penerimaan. Setidaknya itulah salah satu yang dapat saya tangkap dari kisah beberapa generasi itu.
Seperti biasa, menikmati karya Mbak Agnes bukan menunggu di ending nya, tetapi lebih ke prosesnya. Novel ini cukup oke meski bukan novel Mbak Agnes favorit saya (novel favorit saya Piano di Kotak Kaca, Sepasang Peniti Perak, Peluang Kedua, Jejak Kupu- Kupu, Debu Bintang, mungkin nanti nambah lagi. He he..) Tapi saya tetap nyaman menikmati cerita ini dari awal hingga akhir. Cerita ini juga menunjukkan bahwa hidup itu tidak pernah mudah terlebih bagi mereka yang selalu dianggap berbeda. Well, bagi teman- teman yang belum dan baru akan membaca, selamat membaca J

Minggu, 02 Februari 2014

L - Kristy Nelwan + My Secret Santa



Judul               : L

Pengarang      : Kristy Nelwan

Penerbit         : Grasindo

Tebal              : 394 halaman



Sinopsis :
“Ava Torino, twenty something girl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things.

Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekat meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti- ganti pacar, sampai ke- 26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama- nama sang pacar.

Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal dari huruf L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi the Last Love-nya.

Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika berpikirnya…hingga terjadilah peristiwa itu…


Review :

Emang….That’s why I never believe in a thing named love. Gue nggak percaya cinta tanpa syarat itu ada.” (hal. 5)

Dari alfabet A sampai Z, terisisa cowok berinisial L yang belum Ava dapatkan (baca: pacari).Semua berakhir saat Ava, dan rekan- rekan kerja sekaligus sahabatnya, Kim, Jenna, dan Cardo, liburan ke Yogya. Mereka mengunjungi Candi Borobudur. Ava yang sudah mati kebosanan mau tak mau meladeni permintaan Kim dan Jenna yang sangat semangat untuk memengang tangan Budha, dan ajaibnya tangan Ava berhasil meraih tangan Budha. Harapan Ava saat itu adalah agar dapat menemukan L nya.

The Last.
The Love.
The Last Love.

Ava mencoba untuk mengabaikan apa yang baru saja ia dan teman-temannya lakukan secara 
ia tidak memercayai hal- hal yang ia anggap hanya mitos belaka. Namun pikirannya selalu terbayang- bayang dengan kejadian tadi.

Tidak lama setelah itu Ava memang bertemu seorang cowok saat ia makan nasi goreng. Mereka berdua ngobrol- ngobrol sambil menunggu penjual memasak nasi goreng. Berharap cowok itu berinisial L, Ava menanyakan namanya. Rei. Bukan Lei atau sebuah nama berinisial L.

Bukan awalan ‘L’. Uh, ada desiran kecewa di hatiku, betapa sempurnanya kalau namanya berhuruf awal ‘L’…. (hal.43)

Namun kekecewaan Ava tidak berlangsung lama. Saat ia dan Kim duduk di coffee shop yang terletak di bawah hotel, mereka bertemu dengan teman Kim yang bekerja sebagai seorang auditor. Ava langsung memberi  penilaian terhadap cowok di depannya. Tampang oke, suara oke. Dan yang paling membuat Ava senang adalah, namanya Ludi.

Mungkin waktunya telah tiba. Waktunya bagi Ava untuk meninggalkan kegilaannya dan benar- benar menjalani kehidupan percintaannya. Seperti proses hubungan yang umum, mereka berteman lalu keduanya semakin dekat dan akhirnya jadian. Ava merasa Ludi sangat memperhatikan dan menyayanginya. Ia juga merasa cocok dengan Ludi.

Apa pun akibat yang lo buat sama diri seseorang, lo harus siap terima akibat yang sama!’ (hal. 114)

Suatu hari, saat dinas di Bali, tidak disangka Ava bertemu dengan Rei. Mereka makan bareng, dan Ava terharu karena Rei masih saja ingat tipe nasi goreng kesukaan Ava. Dan entah kebetulan atau bukan, Rei juga akan bertolak ke Bandung, satu penerbangan dengan Ava. Rei juga sangat menghibur Ava saat cewek itu bete sehabis bertengkar dengan Ludi yang sudah setengah jalan menuju ke Bandung sementara pesawat Ava ditunda. Rencananya Ludi dan Ava akan makan malam karena malam itu adalah malam ulang tahun Ava. Jadilah Ava melewati malam ulang tahunnya bersama Rei *ini salah satu bagian yang so sweet, jadi baca sendiri ya*.

Sepulangnya ke Bandung, hari- hari sibuk Ava dimulai kembali hingga ada kabar bahwa Jenna masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh dan tidak ada yang dilakukan oleh bos mereka. Tidak ada. Ava yang emosi melihat hal buruk menimpa sahabatnya saat dinas tapi malah tidak mendapat respon yang baik lalu mengundurkan diri. Baginya, tidak pantas ia bekerja di tempat yang tidak pernah menghargai karyawannya.

Tapi, aku sadar juga, bayaran berapa pun bukan apa- apa kalau untuk mendapatkannya kita harus rela diperlakukan nggak adil. Siapa yang mau menghargai kita kalau bukan kita sendiri? (hal. 137)

Ava yang sangat khawatir terhadap Jenna juga bergantian dengan orang tua Jenna menjaga Jenna. Ava juga merekomendasikan dokter untuk menangani Jenna. Setelah keadaan mulai stabil, berkat rekomendasi dari Kim, Ava bekerja sebagai creative director di Channel M.

Dia sahabat saya, saya sayang sama dia…. Kalo ada cara yang tepat buat ngebales semua kebaikan dia sama saya dan ngebuktiin kalau dia penting buat saya, itu adalah dengan cara saya sesering mungkin ada di samping dia saat dia lagi…”(hal. 131)

Rasanya kali ini kebetulan yang sangat sangat….uumm..Ava kembali bertemu dengan Rei. Satu kantor pula. Segera keduanya menjadi sahabat. Di mana ada Ava, di situ ada Rei. Secara Ava juga masih anak baru di Channel M, jadi Rei yang membantu dia.

Inget, hati nggak bisa diatur. Nggak bisa direncanain, lo mau usaha kayak apa pun. Nggak akan bisa, percuma. Lo Cuma nipu diri sendiri jadinya.” (hal.328)

Kedekatan itu lama- lama membuat Ava terlena. Kini ia malah menyembunyikan tentang Rei dari Ludi. Ava sendiri merasa aneh, tapi ia juga tidak tahu mengapa. Saat Rei mulai sering tidak masuk kantor, Ava semakin cemas. Apa yang terjadi pada Rei? Ketika Ava menyadari bahwa ia terlanjur jatuh cinta pada Rei  meski Rei tidak berinisial L seperti harapannya, mampukah Ava menolak rasa cinta yang hadir sementara ia sendiri sudah mau menikah dengan Ludi? Akankah semuanya berakhir manis? Ikuti kisah Ava dan teman- teman dalam L.

Satu lagi kutipan yang saya bagi dan merupakan kalimat favorit saya :

Huh…, terlalu banyak ‘kenapa’ dalam hidup manusia, Torino…. Tapi yah…, emang itu yang bikin kita hidup…. Asal tau kapan berhenti, Torino. Kita harus tau kapan kita harus berhenti nanya ‘kenapa’ dan bilang sama diri kita sendiri…. Someday we’ll know. (hal. 392)


Cuap – cuap pembaca ….

Uugghh..
Sehabis baca buku ini, saya jadi mewek sendiri. Antara speechless (meski sudah tertebak siapa sebenarnya dia, tapi tetep gimana gitu ya pas penulis mengungkapkannya) dan lega (meski leganya nggak rela) karena kisah ini sudah selesai.

Novel ini walau tidak bisa dibilang berat, juga tidak bisa dibilang ringan. Melalui gaya penulisan blak- blakannya Mbak Kristy, semua terasa riil. Awalnya saya merasa agak aneh (baca: belum terbiasa) dengan karakter- karakter dan deretan kalimat yang ada dalam novel ini. Tapi setelah lembar demi lembar terlewati, chemistry dengan karakternya mulai tercipta *halaahh*.

Dan begitulah seterusnya, saya sangat menikmati kisah Ava Torino dan teman- teman. Emosinya dapet banget. Enjoy sekali membaca bab demi bab. Satu paket lah kalau saya bilang. Lucunya dapat, harunya juga, sedihnya juga terasa. Memasuki pertengahan ke atas, cerita semakin seru sampai endingnya yang bikin saya jadi mewek gini.

Dari segi konsep cerita, yang membuat unik itu adalah gaya berpacaran Ava yang mengharuskan cowok- cowoknya berinisial lengkap dari A sampai Z yang akhirnya tersisa inisial L yang menjadi bumerang bagi Ava. Selebihnya adalah kisah yang ‘metropop’ sekali, dengan karakter khas wanita kantoran dengan gaya hidup yang terlampau modern, serta permainan cinta akibat trauma dari masa lalu. Kisah seperti ini (harusnya) menjadi novel dengan kisah yang biasa- biasa saja tapi ternyata tidak. Alurnya boleh biasa tapi ceritanya touching banget. Salut deh sama pengarang :D


Dearest my Santa,
Novel ini sebenarnya sudah jadi incaran saya sejak saya duduk di bangku SMA. Terlebih respon teman- teman saya setelah baca katanya bagus. Tapi ini novel tak kunjung melengkapi daftar novel yang saya punya. Hingga ada event tahunan BBI, Secret Santa. Ini kali pertama saya ikutan event ini dan bingung juga pas mau pasang wishlist di Goodreads, secara wishlist saya cukup banyak (saya biasa tidak pasang di Goodreads *ketahuan malesnya*) tapi malah lupa apa saja pas mau dipasang. Hanya satu novel yang terlintas saat mau memasang di rak wants-to-read, ya L ini. Santa saya pun terbantu, jadi tidak perlu bingung mau ngasih novel yang mana ya. Hehe..

So, terima kasih sekali buat SS saya yang sudah mengirimkan novel ini untuk saya. Kado Natal yang oke banget dengan riddle terselubung yang membuat pengetahuan saya bertambah juga karena sampai browsing ini itu yang berkaitan dengan riddle terselubungnya.

Pertama, namanya disamarkan. Setelah saya cek di data BBIers, tidak ada nama seperti itu. Sudah pasti dong, kalau nggak, bukan SS namanya. He he.. Kemudian saya mencari petunjuk dari alamat dan kota yang diberikan, yaitu Surabaya. Tidak membuahkan hasil.

Kedua, dari resi JNE yang saya terima, saya jadi tahu kalau SS saya berdomisili bukan di Surabaya tapi di Kediri. Kembali lagi saya ubek- ubek data BBIers di FB. Ada. Juga dari kenang- kenangan berupa dompet. Saya mengoogling tentang kerajinan khas Kediri dan polanya hampir sama, Gringsing namanya. Semakin dekat dengan Santa.

Ketiga, karena riddlenya begitu singkat di surat dari SS, seperti tidak ada yang bisa lagi ditelusuri, saya kembali minta bantuan Mas Google. Saya ketikkan nama yang tercetak di kertas surat : WIDA RL. WIDA NS. Ternyata itu adalah salah satu perlengkapan medis. Infus ya kalau saya tidak salah ingat.

Dan yakinlah saya siapa Santa saya. Saatnya untuk menebak dan Santa saya adalah…….

Mbak Andrea Ika Hapsari. Betul nggak, ya? He he.. Semoga betul ya. 



Selasa, 28 Januari 2014

Heaven Can Wait - Cally Taylor

Judul               : Heaven Can Wait

Pengarang      : Cally Taylor

Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 440 halaman


Sinopsis :
Lucy Brown sangat bahagia. Dia akan menikah dengan lelaki impiannya – dan yang lembut hati, tampan, dan lucu. Segala yang dia inginkan berada dalam jangkauan. Namun, pada malam sebelum pernikahannya, Lucy mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya.

Dia ditawari pilihan: naik ke surga namun terpisah dari belahan jiwanya, atau tetap bersama Dan…gentayangan menjadi hantunya. Lucy tidak sanggup meninggalkan Dan, walaupun untuk itu ada syarat yang harus dipenuhi: dia harus mencarikan cinta sejati bagi seseorang yang tak dikenalnya.

Sayangnya, Lucy kemudian mendapati bahwa sahabatnya, Anna sudah melakukan upaya gencar untuk mendekati Dan yang sedang patah hati karena ditinggal tunangannya…

Review :
Apa yang akan kau lakukan saat kau mengira dirimu akan mati? (hal.7)
Sehari sebelum hari pernikahannya tiba, sesaat setelah pertengkaran kecil dengan Dan, tunangannya, dan saat hendak mengambil kotak yang berisi kenangan mereka berdua, Lucy terjatuh dan meninggal. Kebahagiaannya yang tinggal selangkah lagi direnggut. Ironis. Tapi itulah yang harus dihadapinya.

Setelah meninggal, Lucy diberi dua pilihan. Melanjutkan perjalanannya ke surga atau menjadi hantu dengan terlebih dahulu menyelesaikan satu tugas dalam waktu dua puluh satu hari dan harus berhasil. Jika tidak, Maka bersiaplah untuk ke surga. Lucy ragu. Kalau ia memilih langsung ke surga, ia dapat bertemu dengan orang tuanya langsung. Tapi ia juga masih sangat mencintai Dan dan ingin menjadi hantu agar dapat tetap berada di sisi Dan. Akhirnya ia memilih untuk menyelesaikan tugas agar bisa menjadi hantu. Petualangan dua puluh satu hari di Bumi pun dimulai….

Saat kembali, Lucy senang melihat dirinya yang tidak berubah. Itu artinya Dan dapat mengenalinya. Ia tinggal di Rumah Calon Hantu, rumah yang ia tempati bersama dua calon hantu lainnya, Brian dan Claire. Brian sama sekali bukan tipe yang disukai Lucy tapi pria itu setidaknya lebih ramah daripada Claire yang – menurutnya – bermasalah dan langsung tidak menyukai Lucy.
Segera, Lucy menemui Dan. Tapi ia harus kecewa karena Dan tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Lucy. Ya, Lucy menjadi bisu dan wajahnya sedikit mengalami perubahan saat ia bertemu dengan orang yang dikenalnya semasa ia hidup. Maka, sambil berusaha untuk mendekati Dan, Lucy memulai tugas dua puluh satu harinya agar waktu yang ia miliki tidak terbuang sia- sia.

Tugasnya adalah mencari cinta sejati untuk Archibald Humphreys Smythe, seorang pria yang bekerja di bidang komputer. Mengetahui namanya saja Lucy sudah setengah hati. Awalnya memang sulit. Untuk mengenal Archie, panggilan Lucy untuk targetnya, Lucy melamar pekerjaan di kantor tempat Archie bekerja. Betapa kagetnya Lucy saat melihat sosok Archie. Jauh dari harapannya. Namun tugas tetap harus dijalankan. Lucy akan mengupayakan segala cara agar bisa menemukan jodoh bagi Archie.

Selain masalahnya sendiri, Lucy juga berencana membantu teman serumahnya menyelesaikan tugas. Meski ia sendiri diburu waktu, mengetahui keduanya kehilangan harapan membuat Lucy tidak tega untuk mengabaikan mereka. Setidaknya mereka sekarang sudah seperti keluarganya.

Di lain tempat, salah satu sahabat Lucy, Anna sedang giat- giatnya mendekati Dan. Lucy tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia ingin berontak tapi tak mampu. Alhasil ia hanya bisa diam- diam menguntit mereka kalau tidak mau ketahuan dan ia diseret langsung ke surga.

Hari berlalu dan tidak ada tanda- tanda Lucy mampu menyelesaikan tugasnya. Ia malah sempat bertengkar dengan Archie gara- gara nenek Archie. Ya, nenek Archie sangat tidak menyukai Lucy, begitu pula sebaliknya. Lucy yang kehilangan kendali menyiram nenek Archie saat makan malam dan Archie marah.

Apa pun yang terjadi, Lucy,katanya, “entah kau berhasil melaksanakan tugasmu atau tidak, pastikan kau melakukan yang seharusnya. Pokoknya berjanjilah kepadaku (hal. 398)

Sementara itu, waktu sudah hampir habis. Lucy sudah hampir pasrah. Apalagi ia yang awalnya dengan semangat akan membantu tugas Brian. Sanggupkah Lucy menyelesaikan tugasnya dan juga tugas Brian? Bagaimana Lucy memanfaatkan waktu yang semakin singkat di tengah kekacauan yang terjadi? Ikuti kisah hangat dan mengharukan perjalanan Lucy dan kawan- kawan di Heaven Can Wait.
ÙÙÙ
Ada rasa hangat yang menyusup saat membaca dan setelah selesai membaca novel ini. Novel perdana Cally Taylor ini mengingatkan saya pada film Fly Me to Polaris dan 49 Days. Cara Cally menuliskannya juga bagus dan emosinya pas. Cerita dan konfliknya dibangun dengan kuat. Awalnya saya mengira akan seperti apa hidup Lucy dengan sekawanan geek di kantornya. Ternyata seru juga. Lebih seru lagi saat Lucy mencari jodoh untuk Archie – neneknya tidak ketinggalan – dan bagian saat Lucy membantu Brian untuk menyelesaikan tugas demi mencapai impian Brian, menghantui stasiun Paddington. Mengharukan sekali. 

Sayangnya ada beberapa bagian terjemahannya yang bikin kurang nyaman saat membacanya yang untungnya lebih terasa di awal cerita, jadinya pas sudah agak ke tengah dan belakang, sudah lumayan ngalir sehingga saya bisa (kembali) menikmati cerita. Bagi teman- teman pecinta chicklit, novel yang satu ini boleh jadi rekomendasi saya. Selamat membaca J

Minggu, 12 Januari 2014

Camar Biru, Cinta Tak Selalu Tepat Waktu - Nilam Suri



Judul               : Camar Biru

Pengarang      : Nilam Suri

Penerbit         : GagasMedia

Tebal              : 280 halaman



Sinopsis :
Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu – dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau seudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu – dan bisa jadi… aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku….

Review :
Nina adiknya Naren.
Adith adiknya Sinar.

Mereka berempat tumbuh besar dan bersahabat sejak kecil. Hingga dewasa, hubungan mereka berempat boleh dikatakan lebih dari sekadar sahabat. Kemana- mana barengan. Ketiga cowok itu sangat menjaga putri gulali kesayangan mereka. Kalau tidak ada Naren yang bisa mengantar jemput Nina, pasti ada Adith atau Sinar.

Sudah lama Adith menyukai Nina. Tapi rasa itu hanya ia simpan dalam hati. Sedangkan Nina sejak kecil selalu memprioritaskan Sinar. Apa- apa selalu mengajak Sinar. Adith sering kesal karenanya, tapi apa boleh buat. Yang penting, keempatnya tetap bersama.

Namun takdir mengubah segalanya. Sesuatu yang belum – dan tidak akan pernah – siap untuk mereka terima. Kepergian Naren untuk selama- lamanya. Naren dan Nina mengalami kecelakaan. Nina selamat dan Naren meninggal. Sejak itu kehidupan tidak lagi sama.

Nina yang paling kehilangan juga tertekan. Bukannya mengikhlaskan kepergian putra semata wayang mereka, orangtua Nina, terutama Mamanya, malah menyalahkan Nina. Ayah Nina mengusir Nina secara halus. Nina pun keluar dari rumahnya.

Sinar apalagi. Ia yang paling dekat dengan Naren tidak bisa menerima kepergian sahabatnya. Ditambah melihat Nina kesayangannya yang semakin rapuh dan melemah. Ia memutuskan untuk pergi ke London, meneruskan studinya di sana.

Kini tinggal Adith dan Nina. Adith selalu siaga 24 jam saat Nina memerlukannya. Membelikannya kopi saat tengah malam ataupun sekadar menemani Nina. Semuanya Adith lakukan dengan senang. Bisa menjaga Nina – meski hanya dengan status sahabat – memunculkan kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.

Kalau sampai sepuluh tahun dari sekarang lo belum nikah juga, gue bakal nikahin lo…. Hal. 13

Keinginan Adith kini terwujud. Ia akan menikah dengan Nina. Sepuluh tahun berlalu sejak keduanya terikat dalam perjanjian untuk menikah kalau masing- masing dari mereka masih belum menemukan pendamping hidup. Perjanjian itu diikat oleh dua ekor camar biru yang harus tetap disimpan hingga saatnya tiba. Saat itu keduanya tengah berada dalam pengaruh alkohol. Tapi nyatanya sepuluh tahun setelahnya Nina tidak pernah dekat dengan cowok mana pun selain Adith. Perjanjian tetaplah perjanjian. Meski tidak pernah pacaran, rencana mereka tetap sama. Nina akan menikah dengan Adith.

Ternyata ada sebuah rahasia dibalik perubahan sifat Nina. Rahasia itu baru terungkap saat keduanya membahas soal pacaran dan hubungan yang lebih jauh. Apa rahasia yang disimpan oleh Nina sejak sepuluh tahun lalu hingga ia menutup diri seperti ini? Saat Sinar kembali, siapakah yang akan Nina pilih? Ikuti kisah mereka di Camar Biru.

Gue bisa mendengar tawa Sinar di ujung telepon, dan suara itu bikin gue merasa hangat. Bukan dengan kehangatan yang bikin gelisah dan membawa sayap kupu- kupu kayak saat mendengar tawa Adith. Ini rasa hangat yang nyaman. Hal.118


Mengikuti kisah Nina- Adith dalam Camar Biru ini rasanya gampang- gampang susah ya. Ceritanya bikin ikutan galau. Apalagi menyangkut keseharian Nina dan Adith. Rasanya hampir berlalu begitu- begitu saja. Kalau tidak diikat oleh perjanjian Camar Biru, entah sampai kapan hidup Nina akan begitu terus.

Dari segi sudut pandang, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Boleh dibilang campuran lah. Sepanjang cerita, sudut pandang digunakan bergantian dari sisi Nina dan Adith. Sudut pandang dari sisi Sinar baru muncul belakangan. Untuk epilog, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Awalnya berencana untuk ngasih tiga bintang, tapi galaunya terlalu akut, jadinya dua bintang saja. Maafkan saya, Mbak Nilam.
Ulasan saya sampai disini saja karena masih bersisa efek galaunya. Selamat membaca J

Minggu, 05 Januari 2014

New Authors Reading Challenge 2014

New Authors Reading Challenge 2014 merupakan RC kedua yang saya ikuti tahun ini. Di RC ini para peserta ditantang untuk membaca buku karangan pengarang yang benar- benar baru bagi pembaca, tidak harus buku debutnya, buku keberapa pun boleh, asal merupakan karya pengarang yang pertama kali dibaca. RC ini diadakan di blognya Mbak Ren dan ada empat level yang bisa dipilih, yaitu :

Easy    : 1- 15 buku
Middle            : 16- 30 buku
Hard   : 31- 50 buku
Maniac: > 50 buku

Saya ngambil level Easy (1-15 buku) dulu. Semoga bisa naik level ya pas akhir tahun nanti. He he..

Bagi teman- teman yang mau ikutan, yuk gabung. Cara ikutan dan aturannya bisa dibaca di Ren's Little Corner.

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

Hai teman- teman. Setelah dua tahun menjadi blogger buku pasif, tahun ini saya berencana untuk lebih aktif. Amin. Salah satunya adalah ikutan reading challenge (RC) yang diadakan oleh blogger lainnya. Ini pertama kalinya saya ikutan RC selain yang di Goodreads. Dan RC pertama yang saya ikuti adalah Indonesian Romance Reading Challenge 2014 yang diadakan oleh Mbak Sulis. Sesuai dengan namanya, RC di RC ini peserta diwajibkan membaca buku yang bernuansa roman. Jadi pas lah sama saya yang suka baca novel roman.

Ada lima level yang bisa dipilih oleh peserta, yaitu :
Fling               : membaca 1- 5 buku
First Date        : membaca 6-10 buku
Going Steady   : membaca 11- 20 buku
Engaged          : membaca 21- 30 buku
Married          : membaca +31 buku

Dan saya memilih level Going Steady (membaca 11-20 buku) dulu. Syukur- syukur ya bisa nambah. He he..

Bagi teman- teman yang pengen ikutan, yuk simak aturan mainnya di Kubikel Romance