Daftar Review

Senin, 14 Oktober 2013

Tiga Venus - Clara Ng

Judul               : Tiga Venus
Pengarang      : Clara Ng
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 296 halaman

Sinopsis :
What does it take to be a woman?

Tiga perempuan : Juli, Emily, Lies.
Tiga status : ibu rumah tangga, lajang, janda.
Tiga hari superburuk.
Tiga keinginan dalam hati.

Apa yang terjadi selanjutnya ketika alam semesta mengabulkan kehendak mereka, menukar jiwa di tubuh yang berbeda, Juli menjadi Lies, Lies menjadi Emily, dan Emily menjadi Juli?
Lucu, haru, dan feminin.
Dan di atas itu semua, pernahkah kau sungguh- sungguh ingin tahu bagaimana rasanya menjalani hidup orang lain?

Review :
Tiga wanita yang mengeluhkan kehidupan mereka dijawab oleh alam. Mereka tidak lagi menghadapi hidup mereka tetapi kehidupan mereka dalam tubuh yang lain.

Juli adalah ibu rumah tangga merangkap pengusaha catering dengan anak- anaknya yang masih kecil- kecil, mertua yang bawel, dan seolah belum  cukup ribetnya, ia malah hamil lagi.

Lies adalah guru SMA dengan masa lalu kelam, yang tengah menghadapi problema seorang murid. Murid kesayangannya, Kim, hamil dan tengah kritis di rumah sakit karena melakukan aborsi.

Hidup Emily tidak kalah pusingnya. Ia tidak berencana menikah dan selalu fokus pada pekerjaannya.

Kesibukan- kesibukan mereka membuat mereka untuk mensyukuri hidup hingga suatu hari jiwa mereka berganti tubuh. Juli terdampar dalam tubuh Lies, Lies dalam tubuh Emily, dan Emily dalam tubuh Juli. Celaka! Bagaimana hidup mereka selanjutnya?

Mau tidak mau mereka harus berusaha untuk menjalankan peran baru mereka sebaik mungkin.

Emily yang selalu anti terhadap lelaki kini tiba- tiba bersuami (suaminya Juli sih) dan harus mengurus masakan untuk rantangan yang jelas- jelas bukan keahliannya. Belum lagi anak- anak kembarnya yang menimbulkan masalah.

“Maretta tidak perlu dihukum sendirian. Si raksasa jelek itu juga patut dihukum karena dia melecehkan orang lain. Oke, aku mengerti Maretta memang bersalah karena dia menyelesaikan masalah dengan tendangannya. Anak itu harus diajar untuk menegakkan kepala tinggi- tinggi ketika dihina, menahan keinginan sekuat- kuatnya untuk menghajar anak lain, jangan memasukkan apapun ke dalam hati, dan melawan provokasi dengan pemikiran yang positif.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

“Bagiku agama tidaklah penting. Buat apa sok rajin ke gereja atau ibadah tapi perilakunya tetap tercela.” (Emily sebagai Juli di hal. 227)

Juli tidak kalah repotnya. Ia yang tidak berpengalaman sama sekali menjadi guru kini harus menangani masalah Kim dan memperjuangkan perlindungan bagi murid yang kedapatan hamil di luar nikah.

“Pendidikan harus selalu berbasis hati nurani. Sekolah dan keluarga adalah penjaga gawang utama atas nama cinta dan kemanusiaan. Jadi, jika murid melakukan kesalahan dalam hidupnya, sekolah seyogyanya tidak memunggungi siswa dan meninggalkannya seorang diri.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

“Aborsi adalah tindakan terakhir remaja kita yang menghadapi jalan buntu, kesepian, dan tanpa bimbingan.” (Juli sebagai Lies di hal. 257)

Lies yang hidup datar setiap hari, terjebak masa lalu kelam,  mengenakan pakaian gelap untuk mengajar, dan berkutat dengan setumpuk novel di rumahnya yang sederhana kini duduk di kantor, menjadi orang penting. Bayangkan!

“Karena sejak kita bertukar tubuh, aku merasa nggak mempunyai otak yang sama lagi. Kejadian ini membuat kecerdasanku menurun drastis.” (Lies sebagai Emily di hal. 161)

“Aku tadi mewawancarai Orien…” “Wawancaranya bukan sekadar wawancara menerima calon pegawai baru. Ini wawancara seperti para calon profesor mempertahankan tesisnya.” (Lies sebagai Emily di hal. 240-241)

Tindakan terbaik berdamai dengan masa lalu adalah menguburkannya dengan prosesi yang penuh penghormatan. (hal. 240)

Namun Tuhan selalu adil. Pergantian ini memberi hikmah tersendiri bagi mereka bertiga. Ada yang mereka pelajari dan masalah baru yang muncul perlahan mereka selesaikan. Mereka menjadi dekat satu dengan yang lainnya. Jika yang satu mengalami masalah, yang lain mencoba untuk memberikan solusi.

Berapa lama mereka harus bertukar tubuh? Selamanya? Ikuti kisah seru mereka dalam Tiga Venus.

Lagi- lagi konsep cerita Mbak Clara khas dan unik. Meski awalnya sempat dipusingkan dengan pergantian tubuh dan karakternya, saya menikmati cerita ini. Menikmati kejar- kejaran mereka dengan waktu dan masalah- masalah yang mereka hadapi. Juga deskripsi situasi dan kondisi yang tepat sehingga keruwetan itu terasa nyata membuat kisah ini lebih hidup.
Kisah Tiga Venus ini seru, menegangkan, dan juga kocak. Cocok dinikmati saat sedang santai. Bagi teman- teman yang belum membaca, novel ini bisa jadi rekomendasi di waktu luang teman- teman. Selamat membaca J

My Last Love - Agnes Davonar

Judul               : My Last Love
Pengarang      : Agnes Davonar
Penerbit         : Inandra Published
Tebal              : 364 halaman
Sinopsis :
My Last Love diangkat dari sebuah cerita online dengan judul sama. Kisah ini telah dibaca lebih dari 150.000 pembaca sejak diterbitkan secara online. Angel yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Hendra, tiba- tiba mengalami sebuah kecelakaan mobil yang disebabkan oleh Martin sehingga membuat kakinya lumpuh.
Martin melarikan diri dari kecelakaan itu, sedangkan Angel selain menjadi cacat ia juga harus kehilangan Hendra yang membatalkan pernikahannya. Waktu berjalan mempertemukan lagi Martin dengan Angel. Martin merasa menyesal karena perbuatannya, hidup Angel sangat menderita. Ia pun bertekad untuk menyembuhkan Angel dengan cara apapun walau harus merahasiakan siapa dirinya sesungguhnya.
Ketika harapan kesembuhan Angel datang, Martin harus menerima kenyataan dirinya terinfeksi virus HIV. Ia pun berjuang melawan waktu tanpa peduli keadaannya, agar dapat melihat kaki Angel kembali normal. Ketika Angel sembuh, ia menyadari satu hal bahwa Martin adalah pelaku yang membuat kakinya lumpuh. Ia menghadapi pilihan sulit karena cinta mulai bersemi di hatinya terhadap Martin yang selama ini lari dari tanggung jawab tragedi kecelakaan dulu, walau ia tahu pria itu sedang berjuang melawan penyakit di tubuhnya. Haruskah ia memaafkan Martin karena kecelakaan itu? Ataukah meninggalkan pria yang telah terinfeksi HIV itu?

Review :
Angel merasa ia adalah wanita paling berbahagia karena malam ini, tepat di tahun ketiga hubungannya dengan Hendra, kekasihnya, ia akan dilamar. Ia telah mempersiapkan kado untuk Hendra juga dan malam  ini ia berdandan lebih cantik dari biasanya. Menolak dijemput oleh Hendra, Angel memilih untuk menaiki vespa yang biasa ia gunakan untuk berpergian. Sayangnya malam yang seharusnya menjadi momen indah itu berubah menjadi malapetaka yang mengubah hidup Angel.
Adalah Martin, playboy yang tidak pernah menghargai hidupnya. Hari- harinya dilewati dengan bermain tenis, dugem di diskotik, dan sederet kehidupan liar yang membuat hidupnya tidak teratur. Hubungannya dengan ayahnya tidak pernah akur. Hanya ibunya yang selama ini mendukungnya.
Sore itu, Martin hendak menemui Agnes, wanita incarannya, untuk menemani Agnes berbelanja di mal. Karena telah berjanji untuk tepat waktu, Martin mencari jalan pintas memacu mobilnya dengan cepat saat ia terjebak macet.
Martin yang ngebut dari sisi yang berlainan tidak memperhatikan Angel yang sedang mengendarai sepeda motornya, begitu pula dengan Angel yang sambil mendengarkan lagu melalui headsetnya sehingga tidak mendengar deru mobil Martin di dekatnya. Maka tabrakan itu pun terjadi.
Martin keluar dan melihat tubuh Angel tengah bersimbah darah. Dilihatnya wanita itu juga kesakitan. Martin takut. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menabrak orang. Ketakutan itulah yang akhirnya membawanya untuk kabur meninggalkan lokasi.
Sejak saat itu kehidupan mereka berdua berubah. Angel harus menerima keadaan bahwa kakinya lumpuh. Tidak hanya itu, hubungannya dengan Hendra juga harus kandas karena tidak mendapat restu dari ibu Hendra. Sedangkan Martin menenangkan diri di Perth. Ibunya baru mengizinkannya untuk kembali setelah setahun menetap di sana. Hidup Martin tidaklah tenang. Setiap saat ia dihantui rasa bersalah terhadap Angel.
Hari demi hari berlalu dan tahun pun telah berganti. Martin telah kembali ke Indonesia. Ia berubah menjadi pria yang lebih baik dan penurut. Kali ini tujuannya adalah untuk menemukan Angel dan menebus rasa bersalahnya. Ia akan membuat Angel bahagia apapun itu.
Saat Martin telah menemukan Angel dan mengetahui kondisinya, Martin bertekad untuk membuat Angel dapat berjalan lagi. Segala upaya ia lakukan bahkan membawa Angel ke Amerika untuk menjalani operasi. Sekarang usaha Martin tidak hanya untuk menebus dosanya pada Angel tapi ia telah jatuh cinta pada Angel.
Namun saat kenyataan demi kenyataan terungkap, masihkan Angel memaafkan Martin? Bersediakah Angel menerima Martin? Ikuti kisah selengkapnya di My Last Love.
Novel ini merupakan salah satu karya Agnes Davonar yang telah difilmkan. Sebelum membaca novel ini saya sudah pernah membaca cerpen yang dimuat online di situsnya ( agnesdavonar.net ) dan saya menyukai ceritanya. Jadilah pas pesan novel Mbak Agnes yang lain, novel ini turut saya beli juga. Seperti biasa, setiap cerita Mbak Agnes mengandung pesan. Dari kisah Angel-Martin kali ini kita dapat belajar untuk lebih menghargai hidup juga berusaha untuk memaafkan.
keterangan di halaman awal yang belum diganti
Dari segi penulisan, gaya penulisan Mbak Agnes terkesan blak- blakan, seperti bercerita begitu saja. Kesalahan pengetikan juga ditemukan di beberapa bagian dan masih juga dijumpai kalimat dengan kata- kata ala SMS. Pembendaharaan katanya itu yang membuat saya kurang nyaman padahal konsep ceritanya sudah oke.
Lagi, keterangan sampulnya yang masih menggunakan keterangan untuk sampul lama padahal sampul sudah diganti dengan edisi film.
Tapi dari konsep cerita, oke. Saya suka. Bagi teman- teman yang belum dan  ingin membaca karya Agnes Davonar, teman- teman dapat mengunjungi blog Mbak Agnes di agnesdavonar.net. Selamat membaca J


Minggu, 15 September 2013

Postcard from Neverland - Rina Suryakusuma

Judul               : Postcard from Neverland
Pengarang      : Rina Suryakusuma
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 280 halaman

Sinopsis:
Hidup identik dengan kesulitan. Paling tidak, itulah yang dialami Ami Siswoyo. Gadis cantik, single, muda, tapi dari keluarga kurang mampu. Ami terpaksa putus kuliah di tengah jalan, bekerja jadi pelayan kafe, dilecehkan dan ditawar- tawar orang seperti barang. Memuakkan!
Hanya satu hal yang memberi Ami kekuatan untuk tetap bermimpi dan bisa mengubah nasib, yaitu kartu- kartu pos kiriman almarhum ayahnya yang meninggal di tahun terakhir studi di Jerman.
Sampai pada satu kesempatan, Ami bekerja sebagai pelayan di tempat Joshua Leinard. Pria bule berusia 44 tahun yang peduli padanya ketika semua orang menyudutkannya. Pria yang mencintainya tanpa pamrih dan memberinya kebahagiaan tanpa batas.
Dan hidup Ami berubah!
Hanya saja, mampukah mereka bertahan dari sejuta rintangan? Mereka hidup di dua dunia yang berbeda. Sanggupkah mereka membangun jembatan untuk menyatukan cinta mereka?

Review :
Menjadi gadis cantik tapi miskin tidaklah mudah bagi Ami. Ia sering dipandang sebelah mata oleh orang- orang di sekitarnya, terutama mereka yang merasa berkuasa, juga dianggap sebagai gadis yang bukan- bukan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Ami adalah gadis cerdas dengan harga diri yang tinggi. Sayangnya ia mengalami kesulitan finansial setelah ayahnya meninggal sehingga ia harus berhenti kuliah dan bekerja demi meringankan beban ibunya.

Awal derita Ami dimulai ketika ia bertemu dengan pelanggan nakal di Lamborghini café, tempatnya bekerja. Ia melawan pelanggan tersebut dan manajernya tidak membelanya, malah memecatnya. Jadilah Ami pengangguran. Padahal ia masih harus membiayai ujian Fia, adik perempuan satu- satunya.

Di tengah cobaan itu, Lusi, sahabat baik Ami, menawarinya untuk ikut interview di salah satu hotel berbintang di Jakarta yang baru dibuka. Meski awalnya menolak, Ami akhirnya setuju untuk mencoba. Dan hal yang sama kembali dialami Ami saat wawancara kerja. Ia kembali dilecehkan oleh Asisten Manajer SDM di Hotel Grand Castella. Ami menolak tawaran beliau dan melangkah keluar dengan hati yang perih.

Di saat itulah Joshua Leinard muncul. Bule tampan itu menawarkan pekerjaan pada Ami sebagai pelayan di rumahnya. Gaji yang dijanjikan juga tinggi, berkali- kali lipat dari gajinya saat ia bekerja sebagai pelayan di kafe. Dengan gaji yang tinggi itu, selain bisa membiayai Fia, Ami juga bisa menabung lebih cepat untuk kembali ke bangku kuliah. Setelah menimbang- nimbang, Ami akhirnya setuju. Toh ia memang tidak mampu. Tidak ada salahnya bekerja sebagai pelayan di rumah bule itu.

Bekerja di rumah Josh tidaklah sulit. Josh sudah memiliki pelayan yang mengurus rumah dengan baik. Ami sampai bingung apa yang hendak dikerjakannya saat pertama kali tiba di rumah Josh. Ternyata ia hanya bertugas memantau pekerjaan pelayan lainnya. Setelah tugas Ami selesai, ia juga diperbolehkan membaca buku di perpustakaan Josh. Sungguh menyenangkan.

Ada yang tidak biasa saat Ami berinteraksi dengan Josh. Tatapan matanya membuat Ami bergejolak. Mati- matian Ami membuang rasa itu, tapi ia tidak mampu. Rasanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Josh. Ternyata Josh pun memiliki perasaan yang sama. Suatu hari, saat berbelanja bersama Ami di supermarket, Josh mengutarakan perasaannya. Ami ingin menolak, sadar bahwa ia dan Josh bagai langit dan bumi. Mereka tidak pantas bersama.

Sempat ragu sejenak, Ami menerima pernyataan cinta Josh. Sejak itu mereka merajut kisah cinta yang indah. Ami sangat bahagai bisa berada di dekat Josh. Bersama Josh selalu membuatnya aman dan nyaman. Namun hubungan mereka masih belum diketahui orang lain. Ami terlalu takut akan penilaian buruk orang terhadapnya. Apalagi statusnya sebagai pelayan di rumah Josh. Mau dianggap apa?

Masalah mulai bermunculan. Kedatangan Dennis, putra tunggal Josh yang juga mencintai Ami. Juga Maggie yang kembali ke dalam kehidupan Josh. Bagaimana perjalanan cinta Ami dan Josh pada akhirnya? Apakah kembalinya Maggie akan meluruhkan kebencian Josh? Ikuti kisah lengkapnya dalam Postcard from Neverland.

sumber gambar di sini

Novel keempat ci Rina yang saya nikmati. Seperti novel- novel lainnya, saya suka dengan novel ini. Romantis seperti temanya, Amore. Tapi hanya sebatas suka. Sejauh ini novel ci Rina favorit saya masih Lukisan Keempat.

Mungkin dari konfliknya yang membuat cerita ini sedikit biasa (ini menurut saya lho). Kalau dari segi penyampaian cerita, pasti oke. Ceritanya tidak berbelit dan sangat mudah dimengerti. Itulah yang membuat saya membaca novel ini hingga akhir. Meski konfliknya tidak sampai membuat emosi saya naik turun dan jantungan gak jelas, alur ceritanya menarik untuk diikuti. Overall oke lah dan masih menunggu novel ci Rina yang lain untuk dibaca J

Minggu, 25 Agustus 2013

Andai Kau Tahu - Dahlian

Judul               : Andai Kau Tahu
Pengarang      : Dahlian
Penerbit         : Gagasmedia
Tebal              : 366 halaman

Sinopsis :
Pengakuannya membuatku merona. Dalam sesaat aku terpaku memandangnya… seolah dia hanya imaji belaka. Bahwa semua ini hanya mimpi di suatu malam.
Seolah tak mengerti kejengahanku, kejujuran demi kejujuran meluncur keluar dari bibirnya. Tentang pujian tulusnya akan maknaku di hidupnya. Tentang harapannya akan diriku yang hadir di hidupnya selamanya.
Aku belum cukup mengenalnya. Aku tak pernah memikirkannya. Jadi, bagaimana caraku mengatakan yang sebenarnya, bahwa perasaanku dan perasaannya tidak berada di garis yang sama?

Review :
Tania merasa harinya buruk sekali. Baru selesai bertengkar dengan pacarnya, Hendrik, ia malah ditabrak oleh seorang om yang menurutnya tidak bisa menyetir dengan baik. Akibatnya mobilnya lecet. Pria itu tampaknya buru- buru tetapi khawatir akan kondisi Tania sedangkan perempuan itu asyik mengomel tidak jelas.

Reza, pria yang – tanpa sengaja – menabrak mobil Tania, sedang dikejar waktu sehingga setelah memastikan bahwa kondisi Tania baik- baik saja, ia segera membuka cek  sebagai ganti rugi kerusakan mobil dan memberikan perempuan itu kartu namanya kemudian pergi.

Seolah tidak peduli, Tania malah merobek cek itu kemudian pulang. Sesampainya di rumah, seolah melengkapi kesialannya, Ayah Tania malah menyuruhnya untuk makan malam bersama sahabat sekaligus  dokter di  rumah sakit Ayah Tania, dr. Mahendra. Dan ini bukan makan malam biasa. Tania akan dijodohkan dengan anak dr. Mahendra. Mendengar hal ini membuat emosi Tania meluap ke permukaan. Tentu saja ia tidak akan setuju. Ditambah dengan hubungannya dengan Ayahnya yang tidak pernah akur membuat Tania malas untuk meladeni Ayahnya.

“Nggak ada yang Tania pilih! Ini hidup Tania, bukan hidup Papa! Kalau Papa begitu khawatir dengan rumah sakit, Papa saja yang menikah dengan anak Dokter Mahendra! Atau, kalau perlu, serahkan saja rumah sakit itu sama dia sekarang juga!” -  hal. 13

Maka Tania kabur dari rumah untuk menghindari acara perjodohan itu. Meski baru bertengkar dengan Hendrik, tidak ada tempat lain yang bisa Tania tuju. Perempuan itu memutuskan untuk pergi ke rumah pacarnya. Namun Hendrik terlihat biasa saja bahkan mengacuhkan Tania. Mengapa Hendrik sama sekali tidak khawatir pada Tania? Ada apa sebenarnya? Perasaan tidak enak itu akhirnya terjawab saat Tania menangkap basah Hendrik tengah berselingkuh. Tidak hanya itu, Hendrik juga mengusir Tania dari rumah pria itu.

Hati Tania seakan tercabik- cabik. Sakit sekali. Dengan rasa kehilangan, Tania mengepak kembali barang- barangnya ke dalam koper dan keluar dari rumah Hendrik. Kini ia benar- benar tidak punya tempat tujuan lagi. Mau kembali ke rumah, ia terlalu gengsi, juga ia masih kesal pada Papanya. Uang di dompetnya juga sudah hampir habis.

Satu- satunya cara agar ia dapat bertahan hidup adalah dengan menjual kalung berlian milik mendiang Ibunya yang menempel di lehernya. Meski berat, Tania tidak punya pilihan. Saat itu, pria yang menabraknya tempo hari  muncul, menawarkan bantuan untuk mengangkat koper Tania yang terjatuh. Setelah mengingat siapa pria itu, ide cemerlang terlintas di benak Tania. Ia tidak perlu menjual kalung warisan Ibunya lagi. Ia akan meminta pertanggungjawaban dari pria itu.

Reza keheranan melihat permintaan Tania. Tapi ia mengiyakan juga pada akhirnya. Jadilah Tania tinggal bersama Reza di apartemen pria itu. Melalui interaksinya dengan Reza, Tania tahu bahwa Reza ternyata adalah seorang dokter bedah. Astaga, mengapa hari- harinya harus dipenuhi oleh dokter?

 “Papa tahu kamu menyalahkan Papa atas meninggalnya Mama. Kamu boleh benci sama Papa, tapi jangan biarkan kebencian kamu menghalangi kebahagiaan kamu.” – hal. 325

Ketidaksukaan Tania terhadap Ayahnya membuat ia tidak menyukai dokter juga. ia mengganggap Ibunya tidak pernah bahagia karena waktu Ayahnya tersita di rumah sakit. Juga ketika Ibunya sedang sakit. Semua itu menimbulkan kebencian di hati Tania. Kini saat ia memiliki kesempatan untuk jauh- jauh dari Ayahnya, ia malah tinggal bersama seorang dokter pula. Dunia sungguh sempit.

Gaya hidup Reza berbanding 1800 dengan Tania. Reza sangat rapi, pola makannya sehat, dan bersih. Tania mengganggapnya aneh. Tidak boleh ini juga tidak boleh itu. Menurutnya hidup Reza terlalu membosankan. Ditambah dengan suasana apartemennya yang didominasi oleh warna putih. Sama sekali bukan tipe Tania.

Tapi masa bodoh. Kini Tania harus berusaha untuk mendapatkan Hendrik kembali. Ya, ia tidak rela kalau pacarnya direbut oleh perempuan lain. Rencana Tania tidak selalu berhasil. Dan saat hatinya kembali terluka, Reza selalu ada di sampingnya, meskipun dokter tampan itu sering menyebalkan, ia bisa membuat Tania tenang dan damai. Perlahan Tania merasa nyaman tinggal bersama Reza. Astaga, ia mulai memikirkan pria itu.

Hingga saat Hendrik kembali dan meminta Tania untuk kembali padanya, Tania goyah. Apakah ia sudah jatuh cinta pada Reza? Dapatkah ia memaafkan Reza saat kebohongan yang ditutupi Reza terungkap? Ikuti kisah selengkapnya dalam Andai Kau Tahu.

“Setiap orang punya cara sendiri dalam mencintai.” – hal. 215
˜™
 Akhirnya saya bisa membaca karya Dahlian lagi. Masih sama seperti novel- novel sebelumnya (Promises, Promises: Mencintaimu Sekali Lagi dan Menunggu- novella), novel yang satu ini menyajikan kisah roman yang bisa kita tebak tapi dibangun dengan begitu baik oleh pengarang. Setiap adegan ditulis dengan rapi dan pas. Kalimat- kalimatnya bisa menyatu dengan emosi pembaca. Seperti pada tiap perhatian yang diberikan oleh Reza pada Tania bisa membuat pembaca turut merasakan kehangatannya, juga saat ada bagian Tania- Hendriknya, pembaca juga ikutan kesal.
Mengenai tokoh favorit, Reza pemenangnya. Sosoknya dewasa dan setia. Ia tipe pria yang pengertian dan mampu menghadapi Tania. Bahkan ia bersedia untuk menuruti keinginan Tania padahal seleranya berbeda jauh dengan Tania. Yakin deh cewek- cewek pasti pada meleleh kalau sudah kenal dengan dokter yang satu ini.

Saya menyukai novel ini, semuanya. Tidak hanya pada alur cerita dan tokohnya tetapi juga gaya penulisannya sehingga saya tidak ragu untuk memberikan empat bintang. Plus desain sampulnya yang klasik. *Gagas juaranya kalau soal yang satu ini*.


Oke, promosinya cukup sampai disini. Bagi teman- teman yang belum membacanya, novel ini bisa menjadi rekomendasi dari saya untuk teman- teman. Selamat membaca J

Minggu, 18 Agustus 2013

Mafia Espresso - Francisca Todi

Judul               : Mafia Espresso
Pengarang      : Francisca Todi
Penerbit         : Gradien Mediatama
Tebal              : 320 halaman

Sinopsis :
Dentuman suara Lady Gaga dari radio tetangga lantai atas, lamat- lamat tenggelam dalam otakku, lalu mengirim sinyal panik ke seluruh tubuh. Aku terduduk di ranjang. Jam berapa ini? tanganku meraih telepon genggam di atas meja. Angka yang tertera di layar membuat rasa panik kembali mencengkeram.

Jam delapan? Bagaimana mungkin?

Sophie Pieters mengira masalah terbesarnya pagi itu adalah datang tepat waktu ke kantor, memberi presentasi memukau, dan memenangkan hati kliennya agar dia dan timnya tidak kehilangan pekerjaan. Ternyata, salah besar! Masalah sebenarnya dimulai ketika mobilnya ditabrak dalam perjalanan ke kantor. Setelah menumpahkan kejengkelannya dan mengebut ke kantor, Sophie dibuat terkejut menemukan pria penabraknya itu ternyata adalah calon kliennya dari Italia, Antonio Azzaro. Situasi semakin diperburuk ketika Patricia, bos Sophie, membuka sesi presentasi dengan tanpa sadar mengutip ucapan Sophie bahwa dia baru saja ditabrak oleh “seorang idiot yang menjengkelkan”.

Maka, musim gugur di negeri Belanda yang berangin dan berhujan, tidaklah lebih buruk dari hari- hari Sophie selanjutnya. Kepungan masalah datang beruntun di tengah aroma espresso yang menemani hari- harinya. Krisis ekonomi keluarga, Ray yang bertingkah< dan yang paling parah adalah jebakan masalah yang dibenamkan Antonio Azzaro. Siapa lelaki Italia parlente, bos perusahaan Eco Green yang gemar mengaduk- aduk hatinya itu?

Kepada siapa selayaknya Sophie melabuhkan hatinya?

Review:
Mau tak mau Sophie harus mengikuti aturan main dari Antonio, calon klien yang secara tidak langsung sudah dipermalukan oleh Patricia yang mengutip kata Sophie saat presentasi. Ia diminta Antonio untuk menemani Italiano ganteng itu jalan- jalan selama ia berada di Belanda. Tidak tanggung, kontrak itu berlaku selama sebulan. Sophie tentu saja menolak namun nasib anggota timnya berada di tangannya. Antonio baru akan menandatangani kontrak jika Sophie setuju dengan penawarannya.

Sejak itu Antonio selalu mengajak Sophie ke berbagai tempat – kecuali menyangkut urusan Antonio-, mengaku sebagai pacar Sophie, dan menghibur Sophie saat wanita itu sedang bersedih. Antonio juga lah yang mengajari Sophie agar tetap kuat menghadapi Ray, pria yang dicintai Sophie namun tidak berani berkomitmen, saat Sophie menangkap basah Ray tengah bermesraan dengan wanita lain.

“Sophie, wanita cerdas tak akan mempermalukan dirinya dengan membuat keributan di restoran. Dia bisa menghadapi cecunguk mana pun dengan anggun.” – hal. 25

Sophie sendiri selalu menarik diri dari Antonio meski perasaannya mulai menunjukkan tanda sebaliknya. Dari daerah asal Antonio dan segala urusannya, Sophie menarik kesimpulan bahwa Antonio benar- benar adalah seorang mafia. Magie, sahabat Sophie, mengatakan bahwa imajinasi Sophie sudah terlalu luas. Ia mencari tahu sekilas tentang Antonio melalui internet lalu menceritakan kepada Sophie bahwa pria itu adalah pria baik- baik namun Sophie tetap pada kesimpulannya. Buktinya sudah jelas, Antonio sering menerima telepon yang akan diakhiri dengan mengurus ‘urusan’ mafianya dan surat- surat di mobil Antonio yang hanya ditulisi nama Antonio Azzaro di amplopnya sudah mengungkapkan siapa Antonio.

Di sisi lain, Patricia, bos Sophie, terus- terusan meminta hasil yang baik dari pelatihan yang diberikan tim Sophie kepada perusahaan Antonio. Biaya- biaya telah dikeluarkan dan tidak ada kepastian bahwa klien mereka akan menandatagani kontrak di tengah krisis ekonomi yang tengah melanda. Sophie dituntut untuk lebih mampu meyakinkan Antonio dengan mendekatinya.

Heran, ada hipnotis apa sebenarnya di matanya? Benar- benar mengganggu. – hal. 72

Inilah yang Sophie khawatirkan. Berada di dekat Antonio akan membuat hati Sophie goyah. Juga Sophie takut hal yang buruk menimpa kakaknya, Tina, dan keponakannya, Judith. Hanya mereka satu- satunya keluarga Sophie. Hingga saat Sophie benar- benar menyadari dan mau mengakui perasaannya, Antonio menghilang. Sophie juga terseret ke dalam masalah Antonio.

“Bila hidup ini memang pertarungan, kita baru tahu siapa yang menang dan kalah di akhir kehidupan. Selama kita masih bernapas, masih ada kesempatan untuk menang.”- hal 197

Bagaimana nasib Sophie selanjutnya? Siapa sebenarnya Antonio? Jadikah ia dipecat atas kegagalannya? Siapakah yang akan ia pilih, Ray atau Antonio? Ikuti kisah sehangat kopi ini di Mafia Espresso.

Mafia Espresso. Bayangan saya saat membaca judulnya ialah tentang action dan thriller. Namun isinya tidak seekstrim yang saya bayangkan. Novel ini sudah kelihatan kocaknya sejak awal dan saya menyukai racikan Mbak Francisca.

Masalah sebenarnya baru ketahuan di bagian yang sudah bisa dibilang mendekati akhir. Kisah manis Sophie dengan Antonio tetap menarik untuk diikuti hingga rasa penasaran pembaca atas identitas Antonio terpecahkan. Pembaca juga tidak usah takut bosan untuk membaca hingga selesai karena gaya penulisan Mbak Cisca yang luwes (meski ada beberapa kesalahan penggunaan kata, tapi tidak menjadi masalah besar). Deskripsi mengenai lokasi- lokasi di Belanda tidak kaku mengingat penulis juga tinggal disana, malah bikin ngiler dan kepingin pergi. He he..

Membaca Mafia Espresso dapat membuat kita tertawa, tersenyum, ikut merasakan ketegangan dalam cerita. Apalagi Mafioso Antonio, sebutan Sophie untuk Antonio, dijamin sukses bikin cewek- cewek meleleh dengan kehangatan dan perhatiannya, ditambah ketampanannya. *aiihh..mulai deh acara mengkhayalnya*

Novel bergenre romanctic comedy yang satu ini benar- benar oke, nggak salah banyak teman- teman yang merekomendasikan ke saya. Terima kasih atas rekomennya, kawan. Dan novel ini kembali saya rekomendasikan kepada teman- teman yang belum membacanya. Selamat membaca J

Minggu, 04 Agustus 2013

The Truth About Forever - Orizuka

Judul               : The Truth About Forever
Pengarang      : Orizuka
Penerbit          : Gagasmedia
Tebal              : 312 halaman

Sinopsis :
Seberapa berharga sih satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu. Tik. Satu detik pergi lagi. Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik. Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik. Kau teringat mimpi- mimpi yang nggak sempat kau wujudkan. Tik. Kau sadar nggak cukup menyayangi keluarga dan teman- temanmu.

Tik. Tik. Tik. Kau panik, takut menyia- nyiakan lebih banyak waktu lagi.

Yogas merasa demikian ketika divonis nggak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik- baiknya, dia malah diam- diam pergi ke Yogyakarta. Kedatangannya nggak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggungjawab atas semua ini. Bahkan kalau perlu, mati bersama.

Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan setitik kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan itu ada di tangan Yogas. Karena cinta dan benci nggak akan pernah akur.

Jadi, Yogas…, pilih yang mana? Sementara kamu berpikir…. Tik.

Review :
Saat kebahagiaan itu tidak layak untuk diimpikan, apalagi digenggam, mengapa ia datang?
Saat jiwa ini tidak berhak lagi diklaim untuk menyatu dengan raga, mengapa rasa itu hadir?

Itulah yang dirasakan oleh Yogas saat ia sadar ia sudah jatuh cinta pada Kana, penghuni kamar sebelah di kos-annya. Yogas tahu Kana juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Namun ia tidak bisa membiarkan perasaan itu tumbuh. Sejak menginjakkan kaki di kos-an ini, ia telah mengambil keputusan yang salah untuk tetap tinggal bersebelahan dengan Kana.

Yogas berusaha membuat Kana menjauhinya. Demi kebaikannya dan kebaikan Kana, ia terus menyatakan dan melakukan hal yang bertentangan dengan isi hatinya. Hingga saat Kana mengetahui kebenarannya, ia malah semakin peduli terhadap Yogas.

Yogas tahu ia tidak boleh terus berharap akan hal mustahil terjadi. Saat ini ia harus segera menyelesaikan urusannya di Yogya. Setelah itu ia pun bisa pergi dengan tenang.
Apakah tujuan Yogas datang ke Yogya akan tercapai? Mengapa ia tidak berani untuk meraih cintanya? Ikuti kisah selengkapnya dalam The Truth About Forever.


Review yang (sangat) singkat, hanya berupa potongan kecil dari keseluruhan cerita yang dapat saya bagi. Mengapa?
Mbak Orizuka (lagi- lagi) berhasil menguras emosi para pembaca dan saya berharap supaya teman- teman yang belum pernah membaca The Truth About Forever ini bisa langsung membaca tanpa tahu lebih banyak mengenai detil cerita yang sudah bikin penasaran sejak awal. Kalau direview lebih jauh, gregetnya kurang. He he..
Satu hal positif yang saya pelajari adalah tentang kemauan. Tetap berusaha untuk menggapai cita- cita kita. Meski kita tidak tahu akan seperti apa hasilnya, selagi waktu mengizinkan, kita harus berusaha untuk meraih apa yang kita impikan.

Ini adalah kisah mengenai pengkhianatan, bagaimana kebencian mengubah seseorang menjadi pribadi yang berbeda, dan alasan untuk tetap mencintai dan dicintai.
So, novel ini saya rekomendasi bagi teman- teman pecinta novel genre  young adult dan romance.

P.S : siapin tisu ya, bakalan ada adegan yang bikin emosian dan nangis bombay.